<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265</id><updated>2011-10-09T07:38:05.392-07:00</updated><category term='KEISLAMAN'/><category term='SEJARAH ISLAM'/><category term='spiritual Quotion'/><category term='PSIKOLOGI'/><category term='Mengingat Firman Allah'/><category term='PUISI'/><category term='linguistics'/><category term='SASTRA LAMA'/><category term='Bunga'/><title type='text'>ratnokalput.blogspot.com/</title><subtitle type='html'>Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)". ( Al A’Rof : 29 )</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1985684630332532900</id><published>2011-10-09T06:10:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T06:16:11.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA&lt;span class="fullpost"&gt;Melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia bukanlah urusan mudah. Tak banyak jejak yang bisa dilacak. Ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukan untuk menelusuri kedatangan Islam di Indonesia. Beberapa pertanyaan itu adalah, darimana Islam datang? Siapa yang membawanya dan kapan kedatangannya?Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada beberapa teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara.1. Teori Pertama, diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.2. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.A. Kondisi Dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di IndonesiaLambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam.Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus.Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M.Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa.Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda.Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).B. Munculnya Pemukiman-Pemukiman di Kota PesisirSumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Seperti pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai-Aceh menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah.Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu.Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah. Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon.Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.C. Cara Islamisasi Di IndonesiaPerjalanan dakwah awal Islam di Nusantara tak terbatas hanya di Sumatera atau Jawa saja. Hampir seluruh sudut kepulauan Indonesia telah tersentuh oleh indahnya konsep rahmatan lil alamin yang dibawa oleh Islam.Ada beberapa contoh islamisasi di kepulauan Nusantara, seperti :1. Islamisasi KalimantanPara ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu. Di pulau ini, ajaran Islam masuk dari dua pintu.Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan.Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. (Baca: Empat Sekawan Ulama Besar)2. Islamisasi SulawesiRibuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi.Menurut catatan company dagang Portugis yang datang pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah bisa ditemui pemukiman Muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu besar, namun jalan dakwah terus berlanjut hingga menyentuh raja-raja di Kerajaan Goa yang beribu negeri di Makassar.Raja Goa pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Alaidin al Awwal dan Perdana Menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa pada tahun 1603. Sebelumnya, dakwah Islam telah sampai pula pada ayahanda Sultan Alaidin yang bernama Tonigallo dari Sultan Ternate yang lebih dulu memeluk Islam. Namun Tonigallo khawatir jika ia memeluk Islam, ia merasa kerajaannya akan di bawah pengaruh kerajaan Ternate.Beberapa ulama Kerajaan Goa di masa Sultan Alaidin begitu terkenal karena pemahaman dan aktivitas dakwah mereka. Mereka adalah Khatib Tunggal, Datuk ri Bandang, datuk Patimang dan Datuk ri Tiro. Dapat diketahui dan dilacak dari nama para ulama di atas, yang bergelar datuk-datuk adalah para ulama dan mubaligh asal Minangkabau yang menyebarkan Islam ke Makassar.Pusat-pusat dakwah yang dibangun oleh Kerajaan Goa inilah yang melanjutkan perjalanan ke wilayah lain sampai ke Kerajaan Bugis, Wajo Sopeng, Sidenreng, Tanette, Luwu dan Paloppo.3. Islamisasi MalukuKepulauan Maluku yang terkenal kaya dengan hasil bumi yang melimpah membuat wilayah ini sejak zaman antik dikenal dan dikunjungi para pedagang seantero dunia. Karena status itu pula Islam lebih dulu mampir ke Maluku sebelum datang ke Makassar dan kepulauan-kepulauan lainnya.Kerajaan Ternate adalah kerajaan terbesar di kepulauan ini. Islam masuk ke wilayah ini sejak tahun 1440. Sehingga, saat Portugis mengunjungi Ternate pada tahun 1512, raja ternate adalah seorang Muslim, yakni Bayang Ullah. Kerajaan lain yang juga menjadi representasi Islam di kepulauan ini adalah Kerajaan Tidore yang wilayah teritorialnya cukup luas meliputi sebagian wilayah Halmahera, pesisir Barat kepulauan Papua dan sebagian kepulauan Seram.Ada juga Kerajaan Bacan. Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainulabidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Di tahun yang sama berdiri pula Kerajaan Jailolo yang juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam dalam pemerintahannya.4. Islamisasi PapuaBeberapa kerajaan di kepulauan Maluku yang wilayah teritorialnya sampai di pulau Papua menjadikan Islam masuk pula di pulau Cendrawasih ini. Banyak kepala-kepala suku di wilayah Waigeo, Misool dan beberapa daerah lain yang di bawah administrasi pemerintahan kerajaan Bacan. Pada periode ini pula, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala-kepala suku di Pulau Papua memeluk Islam. Namun, dibanding wilayah lain, perkembangan Islam di pulau hitam ini bisa dibilang tak terlalu besar.5. Islamisasi Nusa TenggaraIslam masuk ke wilayah Nusa Tenggara bisa dibilang sejak awal abad ke-16. Hubungan Sumbawa yang baik dengan Kerajaan Makassar membuat Islam turut berlayar pula ke Nusa Tenggara. Sampai kini jejak Islam bisa dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah para Muslim sejak mula.Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-orang Bugis datang ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam di sana. Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan bahasa Bugis.Dengan data dan perjalanan Islam di atas, sesungguhnya bisa ditarik kesimpula, bahwa Indonesia adalah negeri Islam. Bahkan, lebih jauh lagi, jika dikaitkan dengan peran Islam di berbagai kerajaan tersebut di atas, Indonesia telah memiliki cikal bakal atau embrio untuk membangun dan menjadi sebuah negara Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1985684630332532900?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1985684630332532900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/10/kedatangan-islam-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1985684630332532900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1985684630332532900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/10/kedatangan-islam-di-indonesia.html' title='KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-3692465718010108286</id><published>2011-08-13T06:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T06:31:06.697-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA LAMA'/><title type='text'>Kotak Pandora</title><content type='html'>Dalam mitologi Titan Prometheus mencuri api dari Olimpus dan memberikannya pada manusia, akibatnya Zeus menghukumnya. Zeus merantai Prometheus di sebuah tebing di pegunungan Kaukasus dan setiap hari akan datang seekor elang yang memakan hati Prometheus. Pada malam hari, hati Prometheus akan pulih kembali dan keesokan harinya elang tersebut datang lagi untuk memakan hatinya lagi, dan begitulah terus.&lt;br /&gt;Ketika Io, yang sedang berwujud sapi, melewati tempat Prometheus dihukum, Prometheus memberitahunya bahwa suatu hari salah satu keturunan Io akan menjadi pahlawan yang terhebat. Di kemudian hari ramalan itu menjadi kenyataan dengan lahirnya Herakles.&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya menyelesaikan tugas kesebelasnya, Herakles tiba di tempat Prometheus. Herakles lalu menembak mati Elang Kaukasus dengan panahnya dan dan membebaskan Prometheus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prometheus membocorkan rahasia api milik para dewa kepada umat manusia, selain itu dia juga menipu Zeus dalam suatu undian. Karena perbuatannya, Zeus memutuskan menghukumnya dengan menggunakan Elang Kaukasus. Sementara untuk umat manusia, para dewa memberi hukuman melalui Pandoora.&lt;br /&gt;Setelah diciptakan, Pandora dinikahkan dengan Epimetheus, saudara Prometheus. Pada hari pernikahan mereka, Zeus memberi hadiah berupa sebuh kotak yang indah. Pandora diperingatkan Prometheus untuk tidak membuka kotak tersebut.&lt;br /&gt;Suatu hari, Pandora sangat penasaran dan kemudian membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, dari kotak itu keluar berbagai macam keburukan (kejahatan, penyakit, penderitaan). Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti umat manusia. Pandora kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari masih ada satu hal yang tersisa di sana: harapan.[1]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-3692465718010108286?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/3692465718010108286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/08/kotak-pandora.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3692465718010108286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3692465718010108286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/08/kotak-pandora.html' title='Kotak Pandora'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-2405479864836961483</id><published>2011-07-09T04:51:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T05:44:35.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSIKOLOGI'/><title type='text'></title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan tujuan Pendidikan Nasional sangat ditentukan oleh peran seorang guru. Guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, karena proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. ( Depdiknas, 2008:8)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Guru sebagai komponen dalam satuan pendidikan tidak dapat lepas dari komponen lain seperti, kepala madrasah sebagai pemegang kendali kebijakan, siswa atau subyek pembelajaran , sarana pembelajaran, kurikulum, dan lingkungan, baik fisik maupun sosial. Oleh karena itu kinerja guru juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain baik dari dalam individu guru itu sendiri maupun dari luar individu. &lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut  Mathis dan Jacson (2001 : 82) dalam (http//id.wikipedia.org/wiki/Kinerja) adalah (a) kemampuan, (b) motivasi, (c) dukungan yang diterima, (d) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, (e) hubungan dengan organisasi. Selanjutnya menurut Simanjuntak (2005: 75) kinerja seseorang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kepemimpinan, hubungan industrial, kemampuan dan ketrampilan, motivasi, sikap, etos kerja, struktur organisasi, teknologi dan peralatan atau fasilitas kerja dan kondisi kerja.&lt;br /&gt;Ada beberapa prosedur dalam penilaian kinerja guru yang dapat dilakukan, antara lain adalah (1) mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities), Kegiatan ini untuk memperoleh gambaran yang representatif tentang kinerja guru sehingga dapat dilakukan dalam beberapa kelas dan dijadwal secara formal atau pun informal. (2) meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan-catatan dalam kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui  sejauh mana guru memahami tujuan-tujuan pengajaran dan catatan-catatan dalam kelas seperti tugas-tugas, hasil tes merupkan indikator sejauh mana guru mampu mengaitkan antara perencanaan pengajaran, proses pengajaran dan evaluasi. (3) memperluas jumlah orang yang mengevaluasi seperti teman sejawat, tenaga administratif, dan bahkan siswa juga bisa dilibatkan untuk memberikan penilaian tentang kinerja guru, tentu saja hal ini diminta oleh guru itu sendiri, atau guru bisa juga melakukan self evaluation.           (http:// akhmadsudrajat. wordpress.com/2008/11/21/konsep penilaian kinerja guru/ )&lt;br /&gt;Penilaian terhadap kinerja guru sangat penting dilakukan. Setidaknya ada lima tujuan penilaian terhadap kinerja guru menurut Poster (2000:231) pertama, penilaian guru untuk perbaikan guru. Kegiatan ini dilakukan untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan guru. Sehingga guru merasa sangat diuntungkan. Penilaian semacam ini seperti halnya pelatihan bagi guru. Orang yang melakukan evaluasi diangap sebagai penasihat yang terampil, dipercaya dan dihormati. Guru akan merasa ikhlas dalam kegiatan semacam ini. Kedua, penilaian guru untuk tujuan kenaikan pangkat. Pada kegiatan ini sering terjadi guru berusaha menyembunyikan kelemahan-kelemahannya sebagai kekurangan dalam praktik pengajarannya dari penilai , dan akan menonjolkan kelebihan-kelebihannya. Penilai berasal dari penguasa yang mempekerjakaanya. Ketiga, evaluasi untuk perbaikan sekolah. Dalam pelaksanaan penilaian ini guru tidak dianggap sebagai individu tetapi sebagai sebuah tim yang dilihat seberapa bagus mereka mampu bekerja sama menghasilkan lembaga yang berfungsi sepenuhnya. Model penilaian ini penilai atau tim merupakan pelaku otoritas yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan madrasah. Keempat, evaluasi untuk pertanggungjawaban. Guru dinilai demi akuntabilitas. Penilaian model ini dapat dilakukan secara rutin dengan jujur. Tujuan kelima dalam penilaian terhadap kinerja guru adalah untuk tujuan riset. Kegiatan evaluasi kinerja ini dimaksudkan sebagai umpan balik, sehingga semua yang berkaitan dengan bidang professional dapat mengembangkan pemikiran baru tentang proses belajar. Evaluasi untuk tujuan riset ini dimaksudkan untuk memperbaiki praktek professional.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kinerja guru adalah Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah, Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah  dapat menentukan apakah suatu organisasi madrasah mampu mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan atau tidak.  Sehingga Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah  merupakan rangkaian kegiatan penataan yang diwujudkan sebagai kemampuan mempengaruhi perilaku guru dalam situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.&lt;br /&gt;Di era sekarang ini ada dua gaya kepemimpinan yang dikembangkan yaitu Gaya Kepemimpinan Transaksional dan Gaya Kepemimpinan Transformasional (Bass, 1990: 693-703.).  Dua gaya ini saling bertolak belakang.. Meskipun demikian masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Gaya Kepemimpinan Transformasional memiliki karakteristik pokok yaitu pertama, Gaya Kepemimpinan Transformasional merujuk kepada proses pembinaan komitmen kepada tujuan organisasi dan pemberdayaan pengikut untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Kedua, Kepemimpinan Transformasional merupakan  proses upaya  pemimpin dan pengikut saling mengangkat moral dan motivasi masing-masing ke tingkat yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;Untuk tujuan tersebut maka pemimpin mengubah dan memotivasi anggotanya dengan meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya hasil kerja dan membujuk anggotanya untuk mengarahkan kepentingan pribadi mereka bagi kepentingan organisasi atau tim, dan menggerakkan kebutuhan mereka pada jenjang yang lebih tinggi &lt;br /&gt;Sedangkan Kepemimpinan Transaksional memiliki karakteristik umum bahwa Kepemimpinan Transaksional memberikan imbalan sebagai ganti kepatuhan. Kepemimpinan Transaksional menyangkut nilai-nilai, tetapi nilai-nilai yang berkaitan dengan penggantian, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan imbalan.&lt;br /&gt;Dari dua gaya kepemimpinan di atas Gaya Kepemimpinan Transformasional dipilih oleh penulis sebagai variabel penelitian. Hal ini mengingat guru adalah mitra kepala madrasah di dalam bekerja Selain itu juga status kepala madrasah adalah guru yang diberi tugas khusus sebagai kepala madrasah. &lt;br /&gt;Guru Madrasah Aliyah merupakan guru yang bekerja di lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian  Agama. Lembaga ini memiliki moto ikhlas beramal artinya di dalam melaksanakan pekerjaan selalu dilandasi dengan tujuan mencari keridloan Allah, tidak semata-mata mengharapkan balasan atau imbalan berupa uang atau materi yang merupakan kebutuhan tingkat rendah manusia. Mencari keridloan Allah merupakan bentuk dorongan aktualisasi diri. Dorongan aktualisasi diri adalah bagian dari motivasi manusia untuk menjadi manusia unggul karena dorongan aktualisasi diri merupakan bentuk kebutuhan tingkat tinggi manusia. Sehingga seorang guru yang memiliki dorongan aktualiasi diri dalam melaksanakan tugasnya akan memiliki kinerja yang baik&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan di atas maka “Pengaruh Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformaional Kepala Madrasah dan Dorongan Aktualisasi Diri Guru , Terhadap  Kinerja Guru Madrasah Aliyah Se-Kabupaten Banyumas” perlu diadakan penelitian. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-2405479864836961483?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/2405479864836961483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/07/bab-i-pendahuluan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2405479864836961483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2405479864836961483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/07/bab-i-pendahuluan.html' title=''/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-6607032756672111259</id><published>2011-07-08T16:47:00.003-07:00</published><updated>2011-07-08T16:47:39.354-07:00</updated><title type='text'>GARUDA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oDesXSZYr6o/TheUxRLIf5I/AAAAAAAAAJE/V2FyeS58_Vg/s1600/GARUDA%2BINDONESIA.gif" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-oDesXSZYr6o/TheUxRLIf5I/AAAAAAAAAJE/V2FyeS58_Vg/s320/GARUDA%2BINDONESIA.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-6607032756672111259?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/6607032756672111259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/07/garuda-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6607032756672111259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6607032756672111259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/07/garuda-indonesia.html' title='GARUDA INDONESIA'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oDesXSZYr6o/TheUxRLIf5I/AAAAAAAAAJE/V2FyeS58_Vg/s72-c/GARUDA%2BINDONESIA.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8604627540916869847</id><published>2011-06-26T01:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-09T04:47:43.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>YA'JUJ DAN  MA'JUJ</title><content type='html'>Oleh MAHMUDAH ABD MANAF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Yakjuj dan Makjuj disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran, iaitu di dalam surah al-Kahfi ayat 94 dan surah al-Anbiya ayat 96. Di dalam surah al-Kahfi diterangkan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi yang ditakuti oleh suatu kaum yang tinggal di antara dua pergunungan sehingga ketika Zulkarnain datang ke tempat itu, kaum tersebut memohon kepadanya agar dibuatkan tembok penghalang daripada serangan mereka. Di dalam surah al-Anbiya, disebutkan bahawa Yakjuj dan Makjuj itu akan segera turun dengan cepat dari tempat yang tinggi ketika tembok penghalang mereka terbuka sebagai tanda telah dekatnya kedatangan janji Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran tidak menerangkan siapa sebenarnya Yakjuj dan Makjuj, daripada bangsa dan keturunan mana mereka itu. Al-Quran hanya menjelaskan sifat-sifat mereka, iaitu kaum pembuat kerosakan di bumi; kalau tembok penghalang dibuka, mereka akan turun mengalir seperti mengalirnya air bah, dan apabila tembok penghalang kukuh, mereka tidak masuk dan tidak dapat membuat kerosakan. Oleh kerana itu timbullah beberapa tafsiran, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Ahmad Mustafa al-Maragi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahawa Yakjuj adalah berbangsa Tartar, dan Makjuj adalah berbangsa Mongol. Mereka berasal daripada satu bapa yang bernama Turk, tempat tinggal mereka di bahagian utara Asia. Daerah mereka memanjang dari Tibet dan China sampai ke Laut Baku Utara, di barat sampai Turkestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelbagai zaman, bangsa-bangsa ini sering menyerang, membuat kerosakan di muka bumi dan menghancurkan bangsa-bangsa lain. Di antara mereka terdapat bangsa-bangsa yang kejam, turun dari bukit-bukit di Asia Tengah dan pergi ke Eropah pada masa dahulu, seperti bangsa Semith, Simeria, dan Hun. Mereka banyak menyerang negeri-negeri China dan Asia Barat. Dengan munculnya Temujin yang dikenal dengan nama Genghis Khan (di dalam bahasa Mongol bermaksud “Raja Alam”; 1167-1227), pada awal abad ke-7 H / 12 M, berikutan tenteranya yang perkasa keluar jauh ke Asia Tengah. Ia menundukkan China Utara kemudian pergi ke negeri-negeri Islam, lalu menundukkan Sultan Qutbuddin bin Armilan, salah seorang raja Seljuk yang menganut aliran Khawarij. Genghis Khan melakukan kekejaman yang belum pernah berlaku sebelumnya di negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), seperti dikutip Ibnu Kasir menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Nuh memiliki tiga orang anak, iaitu Sam, nenek moyang orang Arab; Ham, nenek moyang orang Sudan; dan Yafis, nenek moyang orang Turk.” Menurut sebahagian ulama, Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan Yafis, putera Nuh ini. Demikian juga pendapat Nasafi, seorang ahli fekah, usul fekah dan tafsir yang bermazhab Hanafi yang menyatakan bahawa Yakjuj berasal daripada suku Turk, manakala Makjuj pula berasal daripada suku Jail serta Dailam keturunan Yafis yang membuat kerosakan di muka bumi. Mereka tidak mati dan masing-masing memiliki seribu keturunan yang diperlengkapi dengan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Hamka pula memberi tafsiran bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah segala gerakan yang telah dan akan merosakkan dunia ini. Oleh hal yang demikian, baik diri, keluarga, mahupun negara serta bangsa wajib mendirikan tirai besi sebagai benteng agar Yakjuj dan Makjuj tidak dapat masuk. Mungkin Yakjuj dan Makjuj dapat ditafsirkan sebagai berfikiran jahat, bermaksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianuti sebahagian manusia. Manusia yang menganutnya dengan kelicikan kejahatannya boleh mempergunakan manusia sesamanya sebagai alat untuk merosakkan bumi ini. Sebab itu, fikiran yang baik, cita-cita yang mulia, dan ideologi yang sihat harus ditanam dengan teguh pada setiap diri, keluarga, dan negara serta bangsa untuk membentengi Yakjuj dan Makjuj. Yakjuj dan Makjuj laksana air, senantiasa mencari tempat untuk masuk walaupun hanya sebesar lubang jarum.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8604627540916869847?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8604627540916869847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/06/yajuj-dan-majuj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8604627540916869847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8604627540916869847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/06/yajuj-dan-majuj.html' title='YA&apos;JUJ DAN  MA&apos;JUJ'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1863442237177859700</id><published>2011-06-23T18:30:00.000-07:00</published><updated>2011-06-23T18:30:27.248-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>MUHASABAH</title><content type='html'>MUHASABAH&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena kuasa Alloh&lt;br /&gt;Biji-biji kurma tak lagi akan tumbuh&lt;br /&gt;Daun-daunnya tak akan lagi kurasakan keteduhannya&lt;br /&gt;Ketika sorot matamu mengunyah keteguhan imanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau semakin tawar&lt;br /&gt;Menyimpan kemarau teramat panjang&lt;br /&gt;Saat ikan-ikan menggelepar menunaikan kematiannya di ujung ketidakberdayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau telan jiwaku dengan keteduhan pandangmu&lt;br /&gt;Akupun bagai anak kecil mainkan perahu kertas&lt;br /&gt;Bergelora saat terbuai reriak aliran sungai&lt;br /&gt;Berkelok di ujung senyummu yang tak pernah kumengerti kesudahannya&lt;br /&gt;Lumat pada akhirnya terseret arus kebimbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tak lagi kurasakan sebagai anugerah yang menyusahkan&lt;br /&gt;Rintikrintiknya menggelitik kemarau dalam dada&lt;br /&gt;Menelusuri labirin waktu&lt;br /&gt;Begitu panjang dalam guratan kemahasempurnaan duka&lt;br /&gt;Tak pernah kurasakan begitu getar&lt;br /&gt;Sebelum kutemui keteduhan sikap dibalik penutup aurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa lagi mengeja kenyataan&lt;br /&gt;Suarasuara nurani terasa begitu pasrah&lt;br /&gt;Menjanjikan kenikmatan seperti kitabkitab suci menjanjikan surga pada pemeluknya&lt;br /&gt;Sementara bumi berpesta dengan kemaksiatan&lt;br /&gt;Dan nyawa tidak lagi dapat menemui jasad tempat damai bernaung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin seperti burung dengan sayap lemah berhasrat meniti luas samudera&lt;br /&gt;Bersarang pada batas keraguan&lt;br /&gt;Di atas gununggunung penahan gelora ombakmu&lt;br /&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1863442237177859700?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1863442237177859700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/06/muhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1863442237177859700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1863442237177859700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/06/muhasabah.html' title='MUHASABAH'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-5506210687458781801</id><published>2011-05-01T15:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-01T15:38:31.601-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga'/><title type='text'>blog suratnonano</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Bd1O_kca4VQ/Tb3gJZdwXaI/AAAAAAAAAIk/_4WL_zHvP6Y/s1600/aNIMASI+1.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="62" src="http://3.bp.blogspot.com/-Bd1O_kca4VQ/Tb3gJZdwXaI/AAAAAAAAAIk/_4WL_zHvP6Y/s320/aNIMASI+1.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-5506210687458781801?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/5506210687458781801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/05/blog-suratnonano.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/5506210687458781801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/5506210687458781801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/05/blog-suratnonano.html' title='blog suratnonano'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Bd1O_kca4VQ/Tb3gJZdwXaI/AAAAAAAAAIk/_4WL_zHvP6Y/s72-c/aNIMASI+1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-3022891524658616132</id><published>2011-04-21T05:46:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:54:58.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>MEMBUMIKAN ALQURAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Qsp8uGnc8uw/TbAlbg1ZMII/AAAAAAAAAHw/rnDMgyE_xEc/s1600/quran1.jpg" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="289" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qsp8uGnc8uw/TbAlbg1ZMII/AAAAAAAAAHw/rnDMgyE_xEc/s320/quran1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan “membumikan al-Quran” secara implisit membawa makna bahawa al-Quran kini masih “melangit” sehingga ia perlu dibumikan. Tentunya dalam pengertian hakikinya, al-Quran sebenarnya telah sepenuhnya “membumi” apabila Allah s.w.t menurunkan ayat al-Quran yang terakhir kepada Rasulullah s.a.w. Maka yang dimaksud dengan ungkapan “membumikan al-Quran” sebenarnya adalah maknanya secara metafora atau kiasannya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makna metaforiknya, perkataan “membumikan al-Quran” mengisyaratkan “jauhnya’ al-Quran daripada kenyataan kehidupan yang kita hadapi atau jalani. Walhal secara idealnya al-Quran itu dekat dengan kita. Dekat dengan kehidupan kita di sini, dan ketika ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi “membumikan al-Quran”‌ mengandungi pengertian adanya daya usaha untuk mewujudkan ‘yang jauh’‌ menjadi ‘yang dekat’‌, yakni mendekatkan dua keadaan yang berbeza, keadaan ideal al-Quran di satu sisi, dan keadaan nyata kehidupan umat di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pengertian “membumikan al-Quran”: sebagai umat Islam, kita perlu menelaah mengenai isi kandungan al-Quran, dapat membaca, memahami, dan menafsirkan, serta mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: “Katakan (wahai Muhammad): “Sesungguhnya jika sekalian manusia dan jin berhimpun dengan tujuan hendak membuat dan mendatangkan sebanding dengan Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat dan mendatangkan yang sebanding dengannya, walaupun mereka bantu-membantu sesama sendiri.” (al-Israa’: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w, tetapi fungsi utamanya adalah menjadi “petunjuk untuk seluruh umat manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama atau yang biasa juga disebut sebagai syariat. Syariat, dari segi pengertian kebahasaan, bererti “jalan menuju sumber air”. Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, memerlukan air, demi kelangsungan hidupnya. Rohaninya pun memerlukan “air kehidupan”. Di sini, syariat mengantarkan seseorang menuju “air kehidupan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran al-Quran – Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta umat manusia di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang intupatinya: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang benar (agama Islam), dan memberikan berita yang mengembirakan orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal-amal salih, bahawa mereka beroleh pahala yang besar.” (al-Israa’: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-persoalan tersebut; dan Allah s.w.t menugaskan Rasulullah s.a.w untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “(Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang membuktikan kebenaran mereka) dan Kitab-kitab Suci (yang menjadi panduan); dan Kami turunkan pula kepadamu (wahai Muhammad) al-Quran yang memberi peringatan, supaya engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannya.” (al-Nahl: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w. Allah s.w.t memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari al-Quran sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran al-Quran)?” (Surah Muhammad: 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari a-Quran adalah wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai “memahami al-Quran dalam Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan.” (Persoalan ini amat penting, terutama pada masa-masa sekarang ini, di mana perkembangan ilmu pengetahuan sedemikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaburan mengenai hal ini dapat menimbulkan ‘penemuan-penemuan’ yang mempengaruhi perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan generasi-generasi yang akan datang. Dalam bukunya, Science and the Modern World, A.N. Whitehead menulis: “Apabila kita menyedari betapa pentingnya agama bagi manusia dan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahawa sejarah kita yang akan datang bergantung kepada keputusan generasi sekarang mengenai hubungan antara kedua-duanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang terjadi di Eropah pada abad ke-18, yang ketika itu, gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan di pihak lain, tidak dapat mencapai kata sepakat tentang hubungan antara Kitab Suci dan ilmu pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya (yakni Islam) dapat mencakup segenap keyakinan yang dianut manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga halnya bagi umat Islam; pengertian kita terhadap hubungan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan akan memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan agama dan sejarah perkembangan manusia pada generasi-generasi yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran al-Quran – Al-Quran adalah kitab petunjuk, demikian hasil yang kita peroleh daripada mempelajari sejarah turunnya al-Quran. Ini sesuai pula dengan penegasan Allah s.w.t menerusi firman-Nya yang bermaksud: … yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah… (al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, apakah hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan? Berkaitan dengan hal ini, perselisihan pendapat para ulama sudah lama berlangsung. Dalam kitabnya Jawahir al-Quran, Imam Al-Ghazali menerangkan pada bab khusus bahawa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang kemudian, sama ada yang telah diketahui mahupun yang belum, semua bersumber daripada al-Quran al-Karim. Al-Imam Al-Syathibi (m. 1388 M), tidak sependapat dengan Al-Ghazali. Dalam kitabnya, Al-Muwafaqat, beliau antara lain berpendapat bahawa para sahabat tentu lebih mengetahui al-Quran dan apa-apa yang terkandung di dalamnya, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang menyatakan bahawa al-Quran mencakupi seluruh cabang ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, perlu diingat bahawa membahas hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi pembahasan hendaknya diletakkan pada kedudukan atau sisi yang lebih tepat dan sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Quran dan sesuai pula dengan logik ilmu pengetahuan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas hubungan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relativiti atau perbahasan tentang angkasa atau ilmu komputer terkandung di dalam al-Quran; tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mantap? Dengan kata lain, meletakkannya pada sisi social psychology (psikologi sosial), bukan pada sisi history of scientific progress (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan). Anggaplah bahawa setiap ayat daripada keseluruhan 6,226 ayat yang terkandung dalam al-Quran (menurut perhitungan ulama Kufah) mengandungi suatu teori ilmiah, kemudian apa hasilnya? Apakah manfaat yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberi “hidayah” atau petunjuk bagi kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang menghalangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik bin Nabi di dalam bukunya Intaj Al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi Al-Fikriy Al-Hadits, menulis: “Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya beliau menerangkan: “Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat-syarat psikologi dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghalang kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahawa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu suasana yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan bahawa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahawa bumi ini beredar, tidak dikawal daripada suatu lembaga ilmiah. Bagaimanapun, masyarakat di sekelilingnya ketika itu menentang penemuannya itu atas dasar-dasar kepercayaan dogma, sehingga Galileo akhirnya menjadi ‘korban penemuannya sendiri’. Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat-syarat sosial dan psikologi yang disebutkan di atas. Dari segi inilah kita dapat menilai hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam al-Quran terkandung ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal fikiran dalam memahami dan melakukan sesuatu perkara. Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya Tuhanku memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia juga yang menyempitkan (bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu).” (Surah Saba’: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah diturunkannya al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahawa al-Quran mempunyai tiga tujuan utama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.&lt;br /&gt;Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.&lt;br /&gt;Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”&lt;br /&gt;Al-Quran dijadikan sebagai asas bagi membina pemikiran dan minda untuk menjayakan kehidupan dunia dan akhirat demi untuk membentuk masyarakat yang maju bagi membentuk generasi al-Quran. Generasi yang dibentuk dengan acuan al-Quran adalah generasi yang berjaya membentuk dan menanam unsur-unsur takut kepada Allah, membina jiwa berani, merdeka dan bebas. Matang di dalam memberikan buah fikiran dan membuat keputusan, sentiasa melahirkan idea-idea yang bernas dan membina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran yang bersifat menyeluruh akan membentuk minda yang sempurna dan bijaksana di samping memantapkan keimanan. Minda yang positif bersikap tidak putus asa terhadap rahmat Allah, tidak sombong dan lupa diri apabila diberi kejayaan, kerana itu semua adalah dari Allah. Inilah minda quranik. Minda yang mempengaruhi pembentukan akhlak yang tinggi, melahirkan semangat pengorbanan dan tidak pentingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Quran adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya dalam persoalan-persoalan akidah, tasyrik, dan akhlak demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tiada pertentangan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memahami hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori &lt;br /&gt;ilmiah atau penemuan-penemuan baru tersimpul di dalamnya, tetapi dengan melihat adakah al-&lt;br /&gt;Quran atau jiwa ayat-ayatnya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan al-Quran bertentangan dengan &lt;br /&gt;tujuan pokok atau sifat al-Quran dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. sebab-sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah berdasarkan al-Quran)  &lt;br /&gt;adalah akibat perasaan rendah diri di kalangan masyarakat Islam dan akibat pertentangan &lt;br /&gt;antara golongan gereja (agama) dengan ilmuwan yang diragukan akan terjadi pula dalam  &lt;br /&gt;lingkungan masyarakat Islam, sehingga cendekiawan Islam berusaha dan berjaya memperlihatkan  &lt;br /&gt;secara jelas akan hubungan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memahami ayat-ayat al-Quran sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah ijtihad yang murni,&lt;br /&gt;selagi fahaman tersebut tidak ‘muncul’ sebagai akidah Quraniyyah dan tidak bertentangan &lt;br /&gt;dengan prinsip-prinsp atau ketentuan bahasa.      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-3022891524658616132?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/3022891524658616132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/membumikan-alquran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3022891524658616132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3022891524658616132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/membumikan-alquran.html' title='MEMBUMIKAN ALQURAN'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Qsp8uGnc8uw/TbAlbg1ZMII/AAAAAAAAAHw/rnDMgyE_xEc/s72-c/quran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-5053619208612601601</id><published>2011-04-18T14:36:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T05:10:03.192-07:00</updated><title type='text'>Salam</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6G87gtnuGPY/TayuwY8Nf8I/AAAAAAAAAHY/kX7zkHeOCu4/s1600/Assalamu%2527alaikum.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="74" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-6G87gtnuGPY/TayuwY8Nf8I/AAAAAAAAAHY/kX7zkHeOCu4/s200/Assalamu%2527alaikum.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-T2uh6KyOTi4/TbAeDFKtSHI/AAAAAAAAAHo/ZhtpgyUrn1M/s1600/Mesra.JPG" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="300" width="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-T2uh6KyOTi4/TbAeDFKtSHI/AAAAAAAAAHo/ZhtpgyUrn1M/s400/Mesra.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-5053619208612601601?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/5053619208612601601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/salam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/5053619208612601601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/5053619208612601601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/salam.html' title='Salam'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6G87gtnuGPY/TayuwY8Nf8I/AAAAAAAAAHY/kX7zkHeOCu4/s72-c/Assalamu%2527alaikum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8559077373165788080</id><published>2011-04-16T03:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T05:16:19.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>APA SAJA YANG BOLEH DIKERJAKAN WANITA?</title><content type='html'>Dr. Yusuf Qardhawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTANYAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hukum wanita bekeria  menurut  syara'?  Maksudnya:&lt;br /&gt;bekerja  di  luar  rumah seperti laki-laki. Apakah dia boleh&lt;br /&gt;bekerja dan ikut  andil  dalam  produksi,  pembangunan,  dan&lt;br /&gt;kegiatan  kemasyarakatan?  Ataukah  dia  harus terus-menerus&lt;br /&gt;menjadi tawanan dalam rumah, tidak boleh melakukan aktivitas&lt;br /&gt;apa  pun?  Sementara kami sering mendengar bahwa agama Islam&lt;br /&gt;memuliakan  wanita  dan   memberikan   hak-hak   kemanusiaan&lt;br /&gt;kepadanya   jauh   beberapa   abad   sebelum   bangsa  Barat&lt;br /&gt;mengenalnya. Apakah aktivitas  yang  ia  lakukan  itu  tidak&lt;br /&gt;dapat  dianggap  sebagai  haknya  yang akan menjernihkan air&lt;br /&gt;mukanya, sekaligus dapat menjaga  kehormatannya  agar  tidak&lt;br /&gt;menjadi  barang  dagangan  yang  diperjualbelikan  seenaknya&lt;br /&gt;ketika dibutuhkan atau dikurbankan ketika darurat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wanita  (muslimah)  tidak  boleh  terjun  ke  kancah&lt;br /&gt;kehidupan  sebagaimana  yang  dilakukan wanita-wanita Barat,&lt;br /&gt;untuk menjernihkan kepribadiannya dan memperoleh hak-haknya,&lt;br /&gt;agar  dapat  mengurus  dirinya sendiri, dan ikut andil dalam&lt;br /&gt;memajukan masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ingin mengetahui batas-batas syariah terhadap aktivitas&lt;br /&gt;yang  diperbolehkan bagi wanita muslimah, yang bekerja untuk&lt;br /&gt;dunianya tanpa  merugikan  agamanya,  lepas  dari  kekolotan&lt;br /&gt;orang-orang  ekstrem  yang  tidak  menghendaki  kaum  wanita&lt;br /&gt;belajar dan bekerja  serta  keluar  rumah  walau  ke  masjid&lt;br /&gt;sekalipun.  Juga jauh dari orang-orang yang menghendaki agar&lt;br /&gt;wanita muslimah lepas  bebas  dari  segala  ikatan  sehingga&lt;br /&gt;menjadi barang murahan di pasar-pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  ingin  mengetahui  hukum  syara'  yang  benar mengenai&lt;br /&gt;masalah  ini  dengan  tidak   melebih-lebihkan   dan   tidak&lt;br /&gt;mengurang-ngurangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita  adalah  manusia  juga  sebagaimana laki-laki. Wanita&lt;br /&gt;merupakan bagian  dari  laki-laki  dan  laki-laki  merupakan&lt;br /&gt;bagian dari wanita, sebagaimana dikatakan Al-Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...  sebagian  kamu  adalah turunan dari sebagian yang lain&lt;br /&gt;..." (Ali Imran: 195}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia merupakan  makhluk  hidup  yang  diantara  tabiatnya&lt;br /&gt;ialah berpikir dan bekerja (melakukan aktivitas). Jika tidak&lt;br /&gt;demikian, maka bukanlah dia manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Ta'ala  menjadikan  manusia  agar  mereka&lt;br /&gt;beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk&lt;br /&gt;menguji siapa diantara mereka yang  paling  baik  amalannya.&lt;br /&gt;Oleh   karena   itu,   wanita  diberi  tugas  untuk  beramal&lt;br /&gt;sebagaimana laki-laki - dan  dengan  amal  yang  lebih  baik&lt;br /&gt;secara  khusus  - untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa&lt;br /&gt;Jalla sebagaimana laki-laki. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka  Tuhan  mereka  memperkenankan  permohonannya  (dengan&lt;br /&gt;berfirman),  'Sesungguhnya  Aku  tidak  menyia-nyiakan  amal&lt;br /&gt;orang-orang  yang  beramal  diantara  kamu,  baik  laki-laki&lt;br /&gt;maupun perempuan...'" (Ali Imran: 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa  pun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala&lt;br /&gt;di akhirat dan balasan yang baik di dunia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengeryakan  amal  saleh,  baik  laki-laki&lt;br /&gt;maupun  perempuan  dalam  keadaan beriman, maka sesungguhnya&lt;br /&gt;akan  Kami  berikan  kepadanya  kehidupan  yang   baik   dan&lt;br /&gt;sesungguhnya  akan  Kami  beri  balasan kepada mereka dengan&lt;br /&gt;pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."&lt;br /&gt;(an-Nahl: 97}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu,  wanita  -  sebagaimana  biasa dikatakan - juga&lt;br /&gt;merupakan separo dari masyarakat manusia,  dan  Islam  tidak&lt;br /&gt;pernah   tergambarkan   akan   mengabaikan   separo  anggota&lt;br /&gt;masyarakatnya serta menetapkannya beku  dan  lumpuh,  lantas&lt;br /&gt;dirampas kehidupannya, dirusak kebaikannya, dan tidak diberi&lt;br /&gt;sesuatu pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja tugas wanita yang pertama dan  utama  yang  tidak&lt;br /&gt;diperselisihkan  lagi ialah mendidik generasi-generasi baru.&lt;br /&gt;Mereka memang disiapkan oleh Allah  untuk  tugas  itu,  baik&lt;br /&gt;secara  fisik  maupun mental, dan tugas yang agung ini tidak&lt;br /&gt;boleh dilupakan atau  diabaikan  oleh  faktor  material  dan&lt;br /&gt;kultural  apa  pun.  Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat&lt;br /&gt;menggantikan peran kaum wanita  dalam  tugas  besarnya  ini,&lt;br /&gt;yang padanyalah bergantungnya masa depan umat, dan dengannya&lt;br /&gt;pula terwujud kekayaan yang  paling  besar,  yaitu  kekayaan&lt;br /&gt;yang berupa manusia (sumber daya manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, yaitu&lt;br /&gt;Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan&lt;br /&gt;Jika Anda mempersiapkannya dengan baik&lt;br /&gt;Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik&lt;br /&gt;pokok pangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara aktivitas wanita ialah memelihara  rumah  tangganya&lt;br /&gt;membahagiakan  suaminya, dan membentuk keluarga bahagia yang&lt;br /&gt;tenteram  damai,  penuh  cinta  dan  kasih  sayang.   Hingga&lt;br /&gt;terkenal   dalam  peribahasa,  "Bagusnya  pelayanan  seorang&lt;br /&gt;wanita  terhadap   suaminya   dinilai   sebagai   jihad   fi&lt;br /&gt;sabilillah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  demikian,  tidak berarti bahwa wanita bekerja di luar&lt;br /&gt;rumah itu diharamkan syara'. Karena tidak  ada  seorang  pun&lt;br /&gt;yang  dapat  mengharamkan  sesuatu  tanpa adanya nash syara'&lt;br /&gt;yang sahih periwayatannya dan  sharih  (jelas)  petunjuknya.&lt;br /&gt;Selain  itu, pada dasarnya segala sesuatu dan semua tindakan&lt;br /&gt;itu boleh sebagaimana yang sudah dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan prinsip ini,  maka  saya  katakan  bahwa  wanita&lt;br /&gt;bekerja  atau  melakukan aktivitas dibolehkan (jaiz). Bahkan&lt;br /&gt;kadang-kadang ia dituntut dengan tuntutan sunnah atau  wajib&lt;br /&gt;apabila ia membutuhkannya. Misalnya, karena ia seorang janda&lt;br /&gt;atau diceraikan suaminya, sedangkan  tidak  ada  orang  atau&lt;br /&gt;keluarga  yang  menanggung  kebutuhan  ekonominya,  dan  dia&lt;br /&gt;sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi  dirinya&lt;br /&gt;dari minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu, kadang-kadang pihak keluarga membutuhkan wanita&lt;br /&gt;untuk   bekerja,   seperti   membantu   suaminya,   mengasuh&lt;br /&gt;anak-anaknya atau saudara-saudaranya yang masih kecil-kecil,&lt;br /&gt;atau membantu ayahnya yang sudah tua - sebagaimana kisah dua&lt;br /&gt;orang  putri  seorang  syekh  yang  sudah  lanjut  usia yang&lt;br /&gt;menggembalakan  kambing  ayahnya,  seperti  dalam  Al-Qur'an&lt;br /&gt;surat al-Qashash:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...  Kedua  wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat meminumi&lt;br /&gt;(ternak   kami)    sebelum    penggembala-penggembala    itu&lt;br /&gt;memulangkan  (ternaknya),  sedangkan bapak kami adalah orang&lt;br /&gt;tua yang telah lanjut umurnya.'" (al-Qashash: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan  pula  bahwa  Asma'  binti  Abu  Bakar  -  yang&lt;br /&gt;mempunyai dua ikat pinggang - biasa membantu suaminya Zubair&lt;br /&gt;bin Awwam dalam mengurus kudanya, menumbuk biji-bijian untuk&lt;br /&gt;dimasak,   sehingga   ia  juga  sering  membawanya  di  atas&lt;br /&gt;kepalanya dari kebun yang jauh dari Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat  sendiri   kadang-kadang   memerlukan   pekerjaan&lt;br /&gt;wanita,  seperti  dalam  mengobati  dan  merawat orang-orang&lt;br /&gt;wanita, mengajar anak-anak putri,  dan  kegiatan  lain  yang&lt;br /&gt;memerlukan  tenaga  khusus  wanita.  Maka  yang utama adalah&lt;br /&gt;wanita  bermuamalah  dengan  sesama  wanita,  bukan   dengan&lt;br /&gt;laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  diterimanya  (diperkenankannya) laki-laki bekerja&lt;br /&gt;pada sektor wanita dalam beberapa hal  adalah  karena  dalam&lt;br /&gt;kondisi  darurat  yang  seyogianya  dibatasi  sesuai  dengan&lt;br /&gt;kebutuhan, jangan dijadikan kaidah umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila  kita  memperbolehkan  wanita  bekerja,  maka  wajib&lt;br /&gt;diikat dengan beberapa syarat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah pekerjaannya itu sendiri disyariatkan. Artinya,&lt;br /&gt;pekerjaan itu tidak haram atau bisa mendatangkan sesuatu&lt;br /&gt;yang haram, seperti wanita yang bekerja untuk melayani&lt;br /&gt;lelaki bujang, atau wanita menjadi sekretaris khusus bagi&lt;br /&gt;seorang direktur yang karena alasan kegiatan mereka sering&lt;br /&gt;berkhalwat (berduaan), atau menjadi penari yang merangsang&lt;br /&gt;nafsu hanya demi mengeruk keuntungan duniawi, atau bekerja&lt;br /&gt;di bar-bar untuk menghidangkan minum-minuman keras - padahal&lt;br /&gt;Rasulullah saw. telah melaknat orang yang menuangkannya,&lt;br /&gt;membawanya, dan menjualnya. Atau menjadi pramugari di kapal&lt;br /&gt;terbang dengan menghidangkan minum-minuman yang memabukkan,&lt;br /&gt;bepergian jauh tanpa disertai mahram, bermalam di negeri&lt;br /&gt;asing sendirian, atau melakukan aktivitas-aktivitas lain&lt;br /&gt;yang diharamkan oleh Islam, baik yang khusus untuk wanita&lt;br /&gt;maupun khusus untuk laki-laki, ataupun untuk keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memenuhi adab wanita muslimah ketika keluar rumah, dalam&lt;br /&gt;berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, 'Hendaklah&lt;br /&gt;mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan&lt;br /&gt;janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang&lt;br /&gt;(biasa) tampak daripadanya ...'" (an-Nur: 31 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui&lt;br /&gt;perhiasan yang mereka sembunyikan ..." (an-Nur: 31 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga&lt;br /&gt;berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan&lt;br /&gt;ucapkanlah perkataan yang baik" (al-Ahzab 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Janganlah pekerjaan atau tugasnya itu mengabaikan&lt;br /&gt;kewajibankewajiban lain yang tidak boleh diabaikan, seperti&lt;br /&gt;kewajiban terhadap suaminya atau anak-anaknya yang merupakan&lt;br /&gt;kewajiban pertama dan tugas utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahi Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa-fatwa Kontemporer&lt;br /&gt;Dr. Yusuf Qardhawi&lt;br /&gt;Gema Insani Press&lt;br /&gt;Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740&lt;br /&gt;Telp. (021) 7984391-7984392-7988593&lt;br /&gt;Fax. (021) 7984388&lt;br /&gt;ISBN 979-561-276-X&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8559077373165788080?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8559077373165788080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/apa-saja-yang-boleh-dikerjakan-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8559077373165788080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8559077373165788080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/apa-saja-yang-boleh-dikerjakan-wanita.html' title='APA SAJA YANG BOLEH DIKERJAKAN WANITA?'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8829026544519087231</id><published>2011-04-15T05:40:00.000-07:00</published><updated>2011-04-15T05:40:52.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>APAKAH NABI SAW MAKHLUK ALLAH YANG PERTAMA?</title><content type='html'>Dr. Yusuf Al-Qardhawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah bahwa Nabi Muhammad saw. makhluk Allah yang pertama&lt;br /&gt;dan bahwa beliau diciptakan dari cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  mengharapkan  pendapat  yang disertai dalil-dalil dari&lt;br /&gt;Al-Qur'an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui  bahwa  hadis-hadis  yang  menyatakan  bahwa&lt;br /&gt;makhluk  pertama  adalah  itu  atau  ini ... dan seterusnya,&lt;br /&gt;tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para&lt;br /&gt;ulama Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan&lt;br /&gt;sebagian  lainnya.  Sebuah  hadis  mengatakan,  "Bahwa  yang&lt;br /&gt;pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis  lainnya  mengatakan,  "Yang  pertama  kali diciptakan&lt;br /&gt;Allah adalah akal." Telah tersiar di antara orang awam  dari&lt;br /&gt;kisah-kisah   maulid   yang   sering   dibaca   bahwa  Allah&lt;br /&gt;menggenggam  cahaya-Nya,  lalu  berfirman,  "Jadilah  engkau&lt;br /&gt;Muhammad."   Maka   ia  adalah  makhluk  yang  pertama  kali&lt;br /&gt;diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi  dan&lt;br /&gt;seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu tersiar kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shalawat   dan   salam  bagimu  wahai  makhluk  Allah  yang&lt;br /&gt;pertama," hingga kalimat itu  dikaitkan  dengan  adzan  yang&lt;br /&gt;disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh&lt;br /&gt;akal,  tidak  akan   mengangkat  agama,   dan   tidak   pula&lt;br /&gt;bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keawalan  Nabi  Muhammad  saw.  sebagai  makhluk Allah tidak&lt;br /&gt;terbukti,  seandainya  terbukti  tidaklah  berpengaruh  pada&lt;br /&gt;keutamaan  dan  kedudukannya  di  sisi  Allah. Tatkala Allah&lt;br /&gt;Ta'ala  memujinya  dalam  Kitab-Nya,  maka  Allah  memujinya&lt;br /&gt;dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan   sesungguhnya  kamu  benar-benar  orang  yang  berbudi&lt;br /&gt;pekerti agung" (Q.s. Al-Qalam: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir.  Nabi&lt;br /&gt;kita  Muhammad  saw.  adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul&lt;br /&gt;Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy  yang  dilahirkan  lantaran&lt;br /&gt;kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah&lt;br /&gt;binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah.  Beliau  dilahirkan&lt;br /&gt;scbagaimana  halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana&lt;br /&gt;manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi  dan&lt;br /&gt;Rasul  sebelumnya  diutus,  dan  bukan Rasul yang pertama di&lt;br /&gt;antara Rasul-rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau  hidup   dalam   waktu   terbatas,   kemudian   Allah&lt;br /&gt;memanggilnya kembali kepada-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya  kamu  akan  mati dan sesungguhnya mereka akan&lt;br /&gt;mati (pula)." (Q.s. Az-Zumar: 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul&lt;br /&gt;ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Ingatlah)  hari  di  waktu  Allah mengumpulkan para Rasul,&lt;br /&gt;lalu Allah bertanya (kepada  mereka),  'Apa  jawaban  kaummu&lt;br /&gt;terhadap   (seruan)mu?'  Para  Rasul  menjawab,  'Tidak  ada&lt;br /&gt;pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah  yang&lt;br /&gt;mengetahui perkara yang gaib'." (Q.s. Al-Maidah: 109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur'an  telah  menegaskan  kemanusiaan  Muhammad  saw. di&lt;br /&gt;berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu&lt;br /&gt;kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah,  'Sesungguhnya  aku  ini  hanya seorang manusia&lt;br /&gt;seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa  sesungguhnya&lt;br /&gt;Tuhan  kamu itu adalah Tuhan yang Esa ...'." (Q.s. Al-Kahfi:&lt;br /&gt;110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Maha Suci  Tuhanku,  bukankah  aku  ini  hanya&lt;br /&gt;seorang manusia yang menjadi Rasul?'" (Q.s. Al-Isra': 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti&lt;br /&gt;manusia-manusia  lainnya,   tidak   memiliki   keistimewaan,&lt;br /&gt;kecuali dengan wahyu dan risalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya&lt;br /&gt;terhadap Allah,  dan  memperingatkan  agar  tidak  mengikuti&lt;br /&gt;kebiasaan-kebiasaan  dari  orang-orang  sebelum  kita, yaitu&lt;br /&gt;penganut  agama-agama  terdahulu  dalam   hal   memuja   dan&lt;br /&gt;menyanjung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah   kamu  sekalian  menyanjungku  sebagaimana  kaum&lt;br /&gt;Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah&lt;br /&gt;hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.r. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi  yang  agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya&lt;br /&gt;dan  tidak  diciptakan  dari  cahaya  maupun  emas,   tetapi&lt;br /&gt;diciptakan  dari  air  yang  memancar dan keluar dari tulang&lt;br /&gt;sulbi  laki-laki  dan  tulang  rusuk  wanita  sebagai  bahan&lt;br /&gt;penciptaan Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah&lt;br /&gt;cahaya  Allah  dan  pelita  yang  amat   terang.   Al-Qur'an&lt;br /&gt;menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi&lt;br /&gt;dan pembawa kabar gembira serta  pemberi  peringatan.  Untuk&lt;br /&gt;menjadi  penyeru  pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk&lt;br /&gt;menjadi cahaya yang menerangi."(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya  dari  Allah,&lt;br /&gt;dan Kitab yang menerangkan." (Q.s. Al-Maidah: 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cahaya"  dalam  ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana&lt;br /&gt;Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka berimanlah  kamu  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya  serta&lt;br /&gt;cahanya   (Al-Qur  an)  yang  telah  Kami  turunkan."  (Q.s.&lt;br /&gt;At-Taghaabun: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...  dan  telah  Kami  turunkan  kepada  kamu  cahaya  yang&lt;br /&gt;terangbenderang." (Q.s. An-Nisa': 174).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...  Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju&lt;br /&gt;cahaya terang-benderang..." (Q.s. Ibrahim: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Nabi saw.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam  hatiku  berilah  aku&lt;br /&gt;cahaya  dalam  pendengaranku  dan  berilah  aku cahaya dalam&lt;br /&gt;penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah  aku&lt;br /&gt;cahaya   di  sebelah  kanan  dan  kiriku  di  depan  dan  di&lt;br /&gt;belakangku." (H.r. Muttafaq Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya  dan  Rasul  pembawa&lt;br /&gt;hidayat.  Semoga  Allah  menjadikan kita sebagai orang-orang&lt;br /&gt;yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------&lt;br /&gt;FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah&lt;br /&gt;Dr. Yusuf Al-Qardhawi&lt;br /&gt;Penerbit Risalah Gusti&lt;br /&gt;Jln. Ikan Mungging XIII/1&lt;br /&gt;Telp./Fax. (031) 339440&lt;br /&gt;Surabaya 60177&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8829026544519087231?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8829026544519087231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/apakah-nabi-saw-makhluk-allah-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8829026544519087231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8829026544519087231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/apakah-nabi-saw-makhluk-allah-yang.html' title='APAKAH NABI SAW MAKHLUK ALLAH YANG PERTAMA?'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-3007243429258233506</id><published>2011-04-10T06:53:00.000-07:00</published><updated>2011-04-10T06:53:13.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>Yajuj Majuj</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; Oleh MAHMUDAH ABD MANAF&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Yakjuj dan Makjuj disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran, iaitu di dalam surah al-Kahfi ayat 94 dan surah al-Anbiya ayat 96. Di dalam surah al-Kahfi diterangkan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi yang ditakuti oleh suatu kaum yang tinggal di antara dua pergunungan sehingga ketika Zulkarnain datang ke tempat itu, kaum tersebut memohon kepadanya agar dibuatkan tembok penghalang daripada serangan mereka. Di dalam surah al-Anbiya, disebutkan bahawa Yakjuj dan Makjuj itu akan segera turun dengan cepat dari tempat yang tinggi ketika tembok penghalang mereka terbuka sebagai tanda telah dekatnya kedatangan janji Allah s.w.t.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-Quran tidak menerangkan siapa sebenarnya Yakjuj dan Makjuj, daripada bangsa dan keturunan mana mereka itu. Al-Quran hanya menjelaskan sifat-sifat mereka, iaitu kaum pembuat kerosakan di bumi; kalau tembok penghalang dibuka, mereka akan turun mengalir seperti mengalirnya air bah, dan apabila tembok penghalang kukuh, mereka tidak masuk dan tidak dapat membuat kerosakan. Oleh kerana itu timbullah beberapa tafsiran, antara lain:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1)  Ahmad Mustafa al-Maragi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahawa Yakjuj adalah berbangsa Tartar, dan Makjuj adalah berbangsa Mongol. Mereka berasal daripada satu bapa yang bernama Turk, tempat tinggal mereka di bahagian utara Asia. Daerah mereka memanjang dari Tibet dan China sampai ke Laut Baku Utara, di barat sampai Turkestan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pelbagai zaman, bangsa-bangsa ini sering menyerang, membuat kerosakan di muka bumi dan menghancurkan bangsa-bangsa lain. Di antara mereka terdapat bangsa-bangsa yang kejam, turun dari bukit-bukit di Asia Tengah dan pergi ke Eropah pada masa dahulu, seperti bangsa Semith, Simeria, dan Hun. Mereka banyak menyerang negeri-negeri China dan Asia Barat. Dengan munculnya Temujin yang dikenal dengan nama Genghis Khan (di dalam bahasa Mongol bermaksud “Raja Alam”; 1167-1227), pada awal abad ke-7 H / 12 M, berikutan tenteranya yang perkasa keluar jauh ke Asia Tengah. Ia menundukkan China Utara kemudian pergi ke negeri-negeri Islam, lalu menundukkan Sultan Qutbuddin bin Armilan, salah seorang raja Seljuk yang menganut aliran Khawarij. Genghis Khan melakukan kekejaman yang belum pernah berlaku sebelumnya di negeri tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2)  Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), seperti dikutip Ibnu Kasir menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Nuh memiliki tiga orang anak, iaitu Sam, nenek moyang orang Arab; Ham, nenek moyang orang Sudan; dan Yafis, nenek moyang orang Turk.” Menurut sebahagian ulama, Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan Yafis, putera Nuh ini. Demikian juga pendapat Nasafi, seorang ahli fekah, usul fekah dan tafsir yang bermazhab Hanafi yang menyatakan bahawa Yakjuj berasal daripada suku Turk, manakala Makjuj pula berasal daripada suku Jail serta Dailam keturunan Yafis yang membuat kerosakan di muka bumi. Mereka tidak mati dan masing-masing memiliki seribu keturunan yang diperlengkapi dengan senjata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(3)  Hamka pula memberi tafsiran bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah segala gerakan yang telah dan akan merosakkan dunia ini. Oleh hal yang demikian, baik diri, keluarga, mahupun negara serta bangsa wajib mendirikan tirai besi sebagai benteng agar Yakjuj dan Makjuj tidak dapat masuk. Mungkin Yakjuj dan Makjuj dapat ditafsirkan sebagai berfikiran jahat, bermaksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianuti sebahagian manusia. Manusia yang menganutnya dengan kelicikan kejahatannya boleh mempergunakan manusia sesamanya sebagai alat untuk merosakkan bumi ini. Sebab itu, fikiran yang baik, cita-cita yang mulia, dan ideologi yang sihat harus ditanam dengan teguh pada setiap diri, keluarga, dan negara serta bangsa untuk membentengi Yakjuj dan Makjuj. Yakjuj dan Makjuj laksana air, senantiasa mencari tempat untuk masuk walaupun hanya sebesar lubang jarum.      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-3007243429258233506?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ummatanwasatan.net/2008/11/yakjuj-dan-makjuj/' title='Yajuj Majuj'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/3007243429258233506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/yajuj-majuj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3007243429258233506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3007243429258233506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/yajuj-majuj.html' title='Yajuj Majuj'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-6713851135247792955</id><published>2011-04-09T17:29:00.001-07:00</published><updated>2011-04-09T17:29:54.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>NASIB WANITA</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;Oleh YAZID ABDUL QADIR JAWAS&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Tulisan ini ditulis kembali daripada bahan asalnya ath-Thariiq ilal Islaam oleh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dan tersiar di dalam http:/www.almanhaj.or.id/content/2372/slash/1. Memandangkan kandungannya yang baik, mengandungi ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat Islam, khasnya kaum wanita, sesuai dengan waktu sambutan Hari Wanita Sedunia, rencana ini telah dipilih dan diedit semula ke dalam bahasa Malaysia. Semoga ia bermanfaat kepada seluruh pembaca. – Editor)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penulis sengaja membahas masalah ini sebagai penjelasan kepada mereka yang tidak senang kepada Islam dan orang-orang bodoh yang menganggap bahawa Islam merendahkan martabat wanita. Ini juga berkaitan dengan anjurkan agar  wanita hanya berada di rumah, wajibnya mereka memakai jilbab, wajibnya mereka melayani suami, diterimanya persaksian dua orang wanita sedangkan lelaki cukup seorang saja, hak waris wanita separuh daripada hak lelaki, atau ketidaksenangan mereka hanya disebabkan Islam membolehkan seorang lelaki ta’addud (poligami/ beristeri lebih daripada satu). Padahal dengan dibolehkannya berpoligami akan dapat mengangkat martabat wanita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimanapun, seorang wanita yang bersuami lebih baik daripada wanita yang hidup sebagai anak dara tua, hidup menjanda, atau bahkan bergelumang dengan dosa lagi menghinakan diri dengan hidup melacur. Bahkan, ada wanita yang jahat dan zalim mengatakan kepada suaminya, “Lebih baik engkau berzina/melacur daripada aku dimadu.” Na’udzu billaahi min dzalik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Islam, seorang lelaki akan lebih baik dan mulia jika ia menikah lagi (berpoligami) daripada ia berzina/melacur kerana zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek perbuatan. Allah Taala berfirman yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedangkan kewujudan atau munculnya  pelacuran dan wanita ‘pelacur’ akan merendahkan dan memperlekehkan martabat wanita, juga sebagai bentuk penghinaan kepada wanita serta menjerumuskan mereka ke neraka.Di muka bumi ini tidak ada agama yang amat memperhatikan dan mengangkat martabat kaum wanita selain Islam. Islam memuliakan wanita dari sejak ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia.&lt;br /&gt;Islam benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dan memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar lelaki; sebaik-baik mereka adalah yang terbaik bagi keluarganya. Wanita Muslimah pada masa bayinya mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati bagi kedua-dua ibu dan bapak serta adik beradik lelakinya.&lt;br /&gt;Apabila wanita telah memasuki usia remaja, ia dimuliakan dan dihormati. Walinya cemburu kerananya, ia meliputinya dengan penuh perhatian, maka ia tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhnya atau rayuan-rayuan lidah tidak bertulang atau lirikan mata (lelaki) mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila ia menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan ‘kalimatullah’ dan perjanjian yang kukuh. Maka ia tinggal di rumah suami sebagai pendamping setia dengan kehormatan yang terpelihara, suami berkewajiban menghargai dan berbuat baik (ihsan) kepadanya dan tidak menyakiti fizikal mahupun perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia telah menjadi seorang ibu, maka (perintah) berbakti kepadanya dinyatakan sama atau selari dengan hak Allah s.w.t, kederhakaan dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan sama dengan kesyirikan kepada Allah s.w.t dan perbuatan kerosakan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia adalah sebagai saudara perempuan, maka dia adalah orang yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim, dimuliakan dan dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia sebagai nenek atau lanjut usianya, maka kedudukan dan nilainya bertambah tinggi di mata anak-anak, cucu-cucunya dan seluruh kaum keluarga terdekat. Maka permintaannya tidaak ditolak dan pendapatnya tidak diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ia jauh daripada orang lain, jauh daripada kaum keluarga, maka dia memiliki hak-hak Islam yang umum, seperti menahan diri daripada perbuatan buruk terhadapnya, menahan pandangan mata daripadanya dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Islam masih tetap memelihara hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga wanita benar-benar memiliki nilai dan kedudukan yang tidak akan ditemukan di dalam masyarakat non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih daripada itu, wanita di dalam Islam memiliki hak kepemilikan, penyewaan, jual beli, dan segala bentuk transaksi, dan juga mempunyai hak untuk belajar dan mengajar selagi tidak bertentangan dengan agamanya. Bahkan di antara ilmu syar’i itu ada yang bersifat fardu ain – berdosa apabila diabaikan – baik oleh lelaki mahupun wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum lelaki, kecuali beberapa hak dan hukum yang memang khusus bagi kaum wanita, atau beberapa hak dan hukum yang khusus bagi kaum laki-laki yang layak bagi masing-masing jenis sebagaimana dijelaskan secara terperinci di dalam bahasan-bahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya Islam memerintahkan kepadanya hal-hal yang dapat memelihara, menjaga kehormatannya dan melindunginya daripada kata-kata rayuan, pandangan mata pengkhianat dan tangan-tangan jahat. Maka itu, Islam memerintahkan kepadanya berhijab dan menutup aurat, menghindari perbuatan tabarruj (berhias diri untuk umum), menjauhi daripada perbauran dan percampuran dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan daripada setiap hal yang dapat menyeret kepada fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya Islam memerintahkan kepada suami agar memberinya nafkah, mempergaulinya dengan baik, menghindari perbuatan zalim dan tindakan menyakiti fizikal atau perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan termasuk daripada keindahan ajaran Islam bahawasanya Islam membolehkan bagi kedua-dua suami isteri untuk berpisah (bercerai) apabila tidak ada kesepakatan dan tidak dapat hidup bahagia bersama-sama. Maka, suami boleh menceraikannya setelah gagal melakukan berbagai-bagai upaya ishlah (damai), dan pada ketika kehidupan kedua-duanya menjadi bagaikan api neraka yang tidak dapat dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Islam membolehkan isteri meninggalkan suaminya jika suami melakukan penganiayaan terhadap dirinya, memperlakukannya dengan buruk. Maka dalam keadaan seperti itu isteri boleh meninggalkannya dengan syarat membayar ganti rugi yang disepakati bersama suami, atau melakukan kesepakatan bersama atas hal tertentu untuk kemudian isteri dapat meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya lelaki dibolehkan berpoligami, iaitu nikah lebih daripada satu isteri. Lelaki boleh menikah dengan dua, tiga atau empat isteri dan tidak boleh lebih daripada itu, dengan syarat berlaku adil dalam memberikan nafkah bain dan zahir, dan tempat tinggal di antara mereka; dan kalau suami cukup menikah dengan satu isteri saja, maka itu adalah haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya berpoligami itu mempunyai hikmah yang begitu besar dan banyak maslahatnya yang tidak diketahui oleh orang-orang yang menjelek-jelekkan Islam, mereka tidak mengerti hikmah di sebalik pensyariatan ajaran-ajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hal-hal yang mendukung hikmah di sebalik dibolehkan berpoligami adalah seperti yang berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sesungguhnya Islam melarang perzinaan dan amat tegas dalam mengharamkannya, kerana perzinaan dapat menimbulkan kerosakan dan kehinaan yang tidak terkira jumlahnya, di antaranya adalah: kaburnya masalah keturunan (nasab), membunuh sifat malu, menodai dan menghapus kemuliaan dan kehormatan wanita; kerana zina akan menyerkupnya dengan kehinaan yang tiada batasnya, bahkan kehinaan dan noda akan menimpa keluarga dan kaum keluarga terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bahaya zina adalah ialah tindakan terhadap janin yang diperoleh daripada hasil perzinaan, kerana ia akan hidup dengan nasab yang terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk bahaya zina: berbagai-bagai penyakit mental dan jasmani yang timbul akibat daripada perbuatan terkutuk itu, yang sukar digalas, bahkan kadang-kadang  hingga mengancam jiwa pezina, seperti Sipilis, Gonorheo, Aids dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Islam mengharamkan zina dan dengan keras mengharamkannya, ia juga membuka lebar pintu yang sah (masyru’) di mana seseorang dapat merasakan ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan, iaitu nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Islam mengajarkan nikah dan membolehkan poligami sebagaimana disinggung di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahawasanya melarang poligami adalah tindakan kezaliman terhadap lelaki dan wanita. Melarang poligami akan membuka lebar pintu perzinaan, kerana kuantiti  kaum wanita lebih besar daripada kuantiti kaum lelaki di setiap masa dan tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu akan lebih jelas lagi pada masa seringnya terjadi peperangan. Maka, menghalang lelaki menikah dengan satu isteri dapat menyebabkan jumlah besar kaum wanita yang hidup tanpa suami yang membawa kesukaran, kesempitan, dan ketidakpastian bagi mereka, bahkan kadang-kadang boleh menjerumuskan ke dalam lembah penjualan kehormatan dan kesucian diri, tersebarnya perzinaan dan kesia-siaan anak keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sesungguhnya nikah itu bukan kenikmatan jasadi (fizikal) semata-mata, akan tetapi di sebaliknya itu terdapat ketenteraman dan kedamaian jiwa, di samping kenikmatan mempunyai anak. Dan anak di dalam Islam tidak seperti anak dalam sistem-sistem kehidupan lainnya, kerana kedua-dua ibu bapa mempunyai hak ke atas anak. Apabila seorang wanita dikurniai beberapa orang anak, lalu anak-anak itu dididik dengan sebaik-baiknya, maka mereka menjadi buah hati dan penghibur baginya. Maka pilihan mana yang terbaik bagi wanita; hidup di bawah lindungan suami yang melindungi, mendampingi dan mengambil berat tentang dirinya serta dikurniai  anak-anak yang apabila dididik dengan baik akan menjadi buah dan penghibur hati baginya, atau memilih hidup sebatang kara dengan nasib tiada menentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sesungguhnya pandangan Islam adalah pandangan yang adil lagi seimbang. Islam memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan adil, dan pandangan yang adil itu mengatakan bahawa sesungguhnya memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan mata keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  apa dosa para wanita ‘awanis (membujang hingga melewati usia sepatutnya mereka sudah menikah) yang tidak mempunyai suami? Kenapa tidak dilihat dengan mata yang penuh kasih sayang kepada wanita menjanda kerana ditinggal mati suaminya, sedangkan ia masih pada usia produktif? Kenapa tidak melihat dan memperhatikan kepada wanita yang amat banyak jumlahnya yang hidup tanpa suami?Yang mana yang lebih baik bagi wanita: Hidup dengan senang di bawah lindungan suami bersama wanita (isteri, madu) yang lain, sehingga dengan begitu ia merasakan kedamaian dan ketenteraman jiwa, ia dipertemukan dengan orang yang mengambil berat tentang dirinya dan dikurniai, ataukah hidup seorang diri tanpa suami sama sekali?&lt;br /&gt;Mana yang lebih baik bagi masyarakat: Adanya sebahagian kaum pria yang berpoligami hingga masyarakat terhindar daripada beban gadis-gadis tua, atau tidak seorang pun berpoligami sehingga mengakibatkan masyarakat berlumur dengan berbagai-bagai kehancuran dan kerusakan?&lt;br /&gt;Mana yang lebih baik: Seseorang mempunyai dua, tiga atau empat isteri? Atau cukup dengan seorang isteri sahaja dengan puluhan wanita simpanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Berpoligami itu tidak wajib hukumnya. Maka, banyak lelaki Muslim yang tidak melakukan poligami kerana  merasa puas dengan seorang isteri, dan kerana ia merasa tidak akan dapat berlaku adil (apabila berpoligami). Oleh karena itu, ia tidak perlu berpoligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Sesungguhnya tabiat dan naluri kaum wanita itu amat berbeza dengan tabiat dan naluri kaum lelaki; hal itu apabila dilihat daripada  sudut kesediaannya untuk digauli. Wanita tidak selalu siap untuk digauli pada setiap waktu, kerana wanita harus melalui masa haid hingga sampai sepuluh hari atau dua minggu pada setiap bulan yang menjadi penghalang untuk digauli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa nifas (setelah melahirkan anak) juga ada penghalang hingga biasanya mencapai 40 hari. Melakukan hubungan suami isteri (hubungan intim) pada kedua-dua masa tersebut dilarang secara syar’i, kerana akan mengandung risiko yang membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kehamilan, kesediaan wanita untuk dicampuri suaminya kadangkala tidak memberangsangkan. Dan demikianlah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kaum lelaki, kesediaannya selalu stabil sepanjang bulan dan tahun (waktu) dan terdapat sebahagian lelaki yang jika dihalang untuk berpoligami akan terjerumus ke dalam perzinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  Ada kalanya si isteri mandul tidak dapat melahirkankan anak sehingga suami tidak dapat menikmati hidup bagaimana mempunyai anak. Daripada ia menceraikan isterinya lebih baik ia menikah lagi dengan wanita lain yang subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang bertanya: Apabila suami mandul sedangkan isteri normal, apakah isteri mempunyai hak untuk berpisah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: Ya, ia berhak untuk itu jika menghendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Ada kalanya isteri menghidap penyakit kekal, seperti lumpuh atau lainnya sehingga tidak mampu untuk melakukan tugas mendampingi suami. Maka, daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah lagi dengan wanita yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada kalanya tingkah laku isteri buruk seperti berperangai jahat, berakhlak buruk (tidak bermoral) tidak menjaga hak-hak suaminya. Daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah dengan wanita yang lain lagi sebagai penghargaan kepada isteri pertama dan menjaga hak-hak keluarganya serta menjaga kemaslahatan anak-anak jika telah mempunyai anak daripadanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Sesungguhnya kemampuan lelaki untuk menurunkan keturunan lebih besar daripada kemampuan wanita. Lelaki dapat menurunkan anak hingga usia enam puluhan, bahkan kadang sampai pada usia seratus ia tetap masih segar dan mampu menurunkan anak. Sedangkan kemampuan wanita rata-rata berhenti sampai usia empat puluhan atau lebih sedikit. Maka, mencegah poligami adalah perbuatan menghalangi umat daripada mempunyai keturunan.  &lt;br /&gt;10)  Di dalam pernikahan dengan isteri kedua, terdapat waktu terluang bagi isteri pertama. Isteri mempunyai peluang waktu untuk sedikit beristirahat daripada beban-beban tugas melayani suami, kerana telah ada orang yang membantunya dan mengambil sebahagian tugas melaksanakan beban melayani suami.&lt;br /&gt;Maka itu, ada sebahagian wanita yang berakal, apabila memasuki usia lanjut dan kurang mampu memberikan yang terbaik untuk suaminya, mereka memberi isyarat agar suaminya menikah lagi.&lt;br /&gt;11)  Mencari pahala. Adakalanya seseorang menikah lagi dengan wanita miskin yang tidak mempunyai tanggungan hidup, ia menikahinya dengan maksud untuk menyelamatkan kesucian dan memberikan perlindungan kepadanya, dengan harapan mendapat pahala daripada Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12)  Sesungguhnya yang membolehkan berpoligami itu adalah Allah s.w.t yang sudah tentu lebih mengetahui maslahat-maslahat hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahawa hikmah Islam dan  pandangan sejagatnya di dalam membolehkan poligami dan sekali gus menjadi jelas pula kejahilan orang-orang yang mencela ajaran-ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penghargaan Islam kepada para wanita Muslimah, bahawasanya Islam menetapkan bahagian khusus bagi wanita daripada harta warisan (harta pusaka). Maka seorang ibu mendapat bahagian tertentu, dan isteri, anak perempuan serta adik beradik perempuan pun masing-masing mendapat bahagian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah merupakan kesempurnaan keadilan bahawasanya lelaki daripada harta warisan. Barangkali ada sebahagian orang yang picik akalnya mengira bahawa pembahagian tersebut merupakan kezaliman (tidak adil), dengan mengatakan, “Bagaimana bahagian anak lelaki sama dengan bahagian dua anak perempuan daripada harta warisan? Kenapa bahagian anak perempuan setengah daripada  bahagian anak laki-laki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya adalah: Bahawa sesungguhnya yang memberikan ketetapan demikian itu adalah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui tentang maslahat-maslahat para hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di mana letak kezalimannya? Sungguh, sistem (hukum) Islam itu integral dan saling berkaitan. Maka bukan bahagian daripada keadilan apabila hanya mengambil satu sistem atau satu ketetapan hukum (tasyri’)  lalu memandangnya dari satu sudut tanpa mengaitkannya dengan bahagian lainnya, akan tetapi seharusnya melihatnya daripada berbagai-bagai sudut sehingga gambaran menjadi jelas dan keputusan menjadi adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menampakkan keadilan Islam di dalam masalah ini adalah bahawasanya Islam menjadikan nafkah isteri itu sebagai kewajiban suami dan demikian pula halnya mahar untuk isteri adalah kewajiban suami pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, jika ada seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan, maka anak lelaki mendapat dua kali ganda bagian adik beradik perempuannya (2:1), lalu masing-masing menikah. Pada saat menikah, anak lelaki itu harus membayar mahar, menyediakan tempat tinggal, memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya sepanjang hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan saudara perempuan akan mendapat mas kahwin daripada suaminya dan tidak dituntut untuk memberikan sedikit pun daripada harta miliknya untuk diserahkan kepada suami, atau menafkahi urusan rumah tangganya, ataupun kepada anak-anaknya. Maka, dengan demikian saudara perempuan dapat menghimpun bahagian harta pusaka daripada orang tuanya dengan mahar yang ia peroleh daripada suami, dan bersamaan dengan itu ia tidak dituntut untuk menafkahi diri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, tidaklah adil jika lelaki mendapat bahagian yang sama dengan anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita dalam Islam; lalu di mana nilai dan darjat sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi dibanding sistem-sistem Islam yang samawi lagi adil? Sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi ini tidak memperlihatkan harkat dan martabat kaum wanita, di mana seorang ayah melepaskan diri daripada anak perempuannya ketika mencapai usia 18 tahun atau kurang, agar anak perempuan keluar dengan nasib tidak menentu mencari tempat tinggal dan sesuap nasi untuk memenuhi rasa laparnya, yang kadangkala hal itu sampai mengorbankan dan menjual kehormatan diri dan kemuliaan akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkanlah penghargaan Islam terhadap wanita yang telah menjadikannya sebagai manusia yang mulia daripada sistem-sistem yang memandang wanita sebagai sumber kejahatan dan dosa, sistem yang telah merampas hak-haknya di dalam pemilikan dan tanggungjawab dan menjadikan wanita hidup berlumur kehinaan dan kenistaan serta menganggapnya sebagai makhluk najis? Dan mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada orang-orang yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan yang memperjualbelikan jasadnya di dalam berbagai-bagai promosi bisnes dan iklan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada sistem-sistem yang menganggap perkahwinan sebagai transaksi jual-beli di mana isteri berpindah supaya menjadi salah satu daripada harta kekayaan suami? Hingga sebahagian pertemuan mereka yang diselenggarakan untuk mengkaji hakikat dan roh wanita, apakah ia termasuk manusia atau bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kita melihat bahawa wanita Muslimah merasakan kebahagiaan di dunianya bersama keluarga, di bawah asuhan kedua-dua orang tuanya, di bawah perlindungan suaminya dan balasan kasih sayang anak-anaknya, apakah itu ketika ia di masa anak-anak, remaja atau di masa lanjut usia, dan di dalam keadaan fakir mahupun kaya dan sihat mahupun sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terdapat kejanggalan dalam hak-hak wanita yang terdapat pada sebahagian negara Islam atau daripada sebahagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam, maka semua itu terjadi kerana kejahilan mereka serta kerana jauhnya daripada penerapan ajaran Islam. Kesalahan dan dosa ditanggung oleh orang yang bersalah, sedangkan Islam bersih dan bebas daripada tanggungjawab kesalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Pembersihan’ kesalahan tersebut hanya dapat dilakukan dengan kembali kepada petunjuk ajaran Islam, supaya kesalahan dapat diperbetulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam secara singkat; kesucian diri, perlindungan, kasih sayang, cinta dan perhatian serta berbagai-bagai macam nilai-nilai murni dan luhur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun peradaban sekarang hampir tidak mengenal sedikit pun  nilai-nilai luhur tersebut yang hanya memandang wanita dengan pandangan materialis. Peradaban moden memandang bahawa hijab wanita dan kesucian dirinya sebagai sesuatu yang tertinggal di belakang, dan bahawaa wanita harus menjadi boneka yang dapat dipermainkan oleh setiap lelaki ‘mata keranjang’, dan itulah rahsia kebahagiaan menurut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak menyedari bahawa tabarruj dan ‘telanjangnya’ kaum wanita adalah disebabkan daripada kesengsaraan dan seksaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak, apa hubungan kemajuan dan pengajaran dengan tabarruj, penampakan anggota-anggota badan wanita yang penuh dengan fitnah, porno, pamer kecantikan, buka dada, dedah paha dan hal-hal yang lebih dahsyat daripada itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memakai pakaian nipis, tembus pandang dan pendek itu adalah sebahagian daripada alat-alat peraga pendidikan dan pengajaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kemuliaan yang mana ketika foto-foto wanita cantik ditampilkan dalam iklan-iklan, pornografi dan berbagai-bagai promosi?  Kenapa yang laris di kalangan mereka hanya wanita-wanita cantik sahaja? Lalu apabila kecantikan dan keindahannya itu sudah lenyap, mereka diabaikan dan dicampakkan bagaikan barang yang sudah tidak berguna langsung! Lalu apakah bahagian wanita yang kurang cantik daripada peradaban moden ini? Apa bahagian untuk ibu yang lanjut usia, nenek dan wanita-wanita cacat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bahagian mereka yang paling baik (menurut peradaban moden) adalah ditempatkan di tempat-tempat perlindungan atau kebajikan di mana mereka tidak dikunjungi dan tidak juga ditanya tentang keadaan hidup mereka. Memang ada di antaranya yang mendapat elaun pencen atau yang serupa dengannya yang mereka habiskan sisa-sisa usia, tetapi di situ tidak ada hubungan silaturahim, tidak ada kaum keluarga terdekat, tidak ada teman setia. Apakah hal itu semua tidak diperlukan oleh mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun wanita di dalam Islam, semakin lanjut usia mereka semakin dihormati, semakin besar pula hak mereka dan semakin berlumba anak-anak dan kaum keluarga terdekat untuk berbuat yang terbaik kepada mereka – sebagaimana dikemukakan di atas – kerana mereka telah selesai melakukan tugasnya, dan yang tersisa adalah kewajiban anak-anak, cucu, keluarga dan masyarakat terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tuduhan dan anggapan bahawa hijab dan menjaga kesucian diri itu sebagai tanda ketinggalan dan kolot  adalah tuduhan dan anggapan batil lagi palsu. Sesungguhnya tabarruj dan mempamer kecantikan itulah sebenarnya kesengsaraan dan azab, dan itulah sikap yang mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pembaca ingin dalilnya bahawa tabarruj dan mempamer kecantikan adalah sikap yang mundur, maka perhatikanlah dekadensi atau keruntuhan moral manusia dengan pelbagai perlakuan sumbang dan menjijikkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, siapakah yang lebih moden, seorang yang berpakaian separuh bogel dan hidup di bandar itu berbanding dengan penduduk asli di pedalaman hutan yang memang berbogel?Orang yang memperhatikan dan mengikuti keadaan mereka di dalam kemajuannya dapat melihat bahawa sesungguhnya setiap kali mereka meraih suatu kemajuan di dalam peradaban, semakin bertambah pula ‘wanita-wanita telanjang’, sebagaimana yang kelihatan bahawa peradaban Barat sedang berada pada jalan menuju kehancurannya, mundur selangkah demi selangkah.&lt;br /&gt;Demikianlah menjadi lebih jelas bagi kita betapa keagungan kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam adalah mulia dan terhormat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-6713851135247792955?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/6713851135247792955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/nasib-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6713851135247792955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6713851135247792955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/nasib-wanita.html' title='NASIB WANITA'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-607559657897152106</id><published>2011-04-08T06:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-08T06:01:09.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSIKOLOGI'/><title type='text'>PERSEPSI</title><content type='html'>Persepsi dapat dirumuskan sebagai suatu proses penerimaan, pemilihan, pengorganisasian, serta pemberian arti terhadap rangsang yang diterima (Pareek, 1983; Milton, 1981). Namun demikian pada proses tersebut tidak hanya sampai pada pemberian arti saja tetapi akan mempengaruhi pada perilaku yang akan dipilihnya sesuai dengan rangsang yang diterima dari lingkungannya. Proses persepsi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penerimaan rangsang &lt;br /&gt;Pada proses ini, individu menerima rangsangan dari berbagai sumber. Seseorang lebih senang memperhatikan salah satu sumber dibandingkan dengan sumber lainnya, apabila sumber tersebut mempunyai kedudukan yang lebih dekat atau lebih menarik baginya. &lt;br /&gt;2) Proses menyeleksi rangsang &lt;br /&gt;Setelah rangsang diterima kemudian diseleksi disini akan terlibat proses perhatian. Stimulus itu diseleksi untuk kemudian diproses lebih lanjut. &lt;br /&gt;3) Proses pengorganisasian &lt;br /&gt;Rangsang yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu bentuk &lt;br /&gt;4) Proses penafsiran &lt;br /&gt;Setelah rangsangan atau data diterima dan diatur, si penerima kemudian menafsirkan data itu dengan berbagai cara. Setelah data tersebut dipersepsikan maka telah dapat dikatakan sudah terjadi persepsi. Karena persepsi pada pokonya memberikan arti kepada berbagai informasi yang diterima. &lt;br /&gt;5) Proses pengecekan &lt;br /&gt;Setelah data ditafsir si penerima mengambil beberapa tindakan untuk mengecek apakah yang dilakukan benar atau salah. Penafsiran ini dapat dilakuakn dari waktu ke waktu untuk menegaskan apakah penafsiran atau persepsi dibenarkan atau sesuai dengan hasil proses selanjutnya. &lt;br /&gt;6) Proses reaksi &lt;br /&gt;Lingkungan persepsi itu belum sempurna menimbulkan tindakan-tindakan itu biasanya tersembunyi atau terbuka.&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, terhadap objek sama, individu dimungkinkan memiliki persepsi yang berbeda. Oleh karena itu, Milton (1981:23) mengemukakan adanya beberapa faktor yang berpengaruh dalam persepsi. Faktor tersebut meliputi objek yang dipersepsi, situasi, individu yang mempersepsi (perceiver), persepsi diri, dan pengamatan terhadap oranbg lain. &lt;br /&gt;Selanjutnya, Pareek (1984:13) mengemukakan ada empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi. &lt;br /&gt;1)  Perhatian. &lt;br /&gt;Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada di sekitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita. &lt;br /&gt;2) Kebutuhan &lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan yang sesaat. &lt;br /&gt;3) Kesediaan &lt;br /&gt;Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu. &lt;br /&gt;4) Sistem nilai &lt;br /&gt;Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang. &lt;br /&gt;Seperti yang telah diuraikan pada teori-teori tentang persepsi di atas bahwa pada semua stimulus yang berasal dari lingkungan dapat dipersepsi oleh setiap individu. Dalam hal ini kontrol atasan adalah sebagai stimulus dari lingkungan kerja menjadi objek pengamatan bagi setiap individu yang bekerja. &lt;br /&gt;Kontrol atasan dalam pengamatan individu dapat memberikan makna yang positif atau negatif sebagaimana individu menafsirkan arti kontrol atasan itu sendiri. Dalam hal ini, beberapa kebutuhan yang paling dominan dalam diri individulah yang ikut menentukan persepsinya terhadap kontrol atasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milton, Charles, R. Human Behavior. Three Levels of Behavior. New York: Prentice-Hall Inc. Englewood Cliffs. 1981.&lt;br /&gt;Pareek, U. Perilaku Organisasi. Seri Manajemen No. 98. Jakarta: PT Pustaka Pressindo. 1984.&lt;br /&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-607559657897152106?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/607559657897152106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/persepsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/607559657897152106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/607559657897152106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/persepsi.html' title='PERSEPSI'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-2980440457824833225</id><published>2011-04-07T16:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-09T17:46:17.359-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEISLAMAN'/><title type='text'>ANTARA HAMBA DAN KHALIFAH ALLAH</title><content type='html'>Isu ini telah saya bangkitkan di dalam akhbar Utusan Malaysia pada 27 November lalu ketika membicarakan seruan Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi tentang keperluan memperkasakan sekolah kebangsaan di Malaysia. Hal yang sama juga telah saya sentuh di dalam program khas Al-Kulliyyah secara langsung di TV3 juga pada 27 November 2002 ketika membicarakan tajuk Islam Serba Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat bahawa sejak lima belas abad kedatangan Islam ke rantau ini, tekanan dan kefahaman kita tentang Islam adalah tertumpu sebahagian besarnya kepada amalan ritual, ibadat khusus dan fardu ain sahaja. Penumpuan kepada soal ini sememangnya merupakan asas yang penting dan utama bagi setiap individu Islam agar asas utama Islam ini menjadi amalan umat keseluruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang menjadi masalah ialah apabila asas amalan Islam ini tidak dilanjutkan lagi ke hadapan, iaitu ke satu sasaran yang menjangkaui aspek ibadat khusus dan amalan ritual. Sepatutnya dengan perubahan zaman dan keadaan dan kemajuan manusia yang telah begitu jauh terkehadapan, segala ajaran Islam juga seharusnya telah dapat meliputi segala aspek kehidupan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering memperkatakan tentang kejadian manusia sebagai makhluk Allah subhanahu wa taala dan fungsi manusia, atau tujuan manusia diciptakan Allah. Mengikut ajaran Islam, manusia dijadikan Allah adalah untuk menjalankan peranannya sebagai hamba Allah, dan dalam masa yang sama menjadi khalifah-Nya untuk mentadbir dan membangunkan dunia ini mengikut perintah dan ajaran Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah (Allah) yang menjadikan kamu sebagai para khalifah di bumi, dan mengangkat beberapa darjat sesetengah kamu di atas sesetengah (yang lain) agar Dia dapat menguji kamu di atas apa yang kamu lakukan (Al-An'am, ayat 165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini dengan jelas menerangkan bahawa makhluk Allah yang bernama manusia ini telah diamanahkan oleh Allah agar menjadi khalifah untuk mengatur kehidupan di muka bumi sesuai dengan ajaran-Nya. Maka di antara umat manusia itu pula, Allah akan mengangkat darjat mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan dalam menunaikan tanggungjawab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tugas khalifah ialah untuk memakmurkan alam, mengambil manfaat daripada kejadian langit dan bumi, lautan dan daratan, di atas muka bumi dan di dalam perutnya, mentadbir umat manusia supaya dapat berfungsi sebagai umat yang berakhlak dan berkemajuan, bertamadun dan berilmu. Tugas ini merupakan tanggungjawab manusia ketika diberikan amanah untuk mentadbirkan alam ini dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala panduan dan dasar pentadbiran ini telah diterangkan oleh Allah dalam kitab suci al-Quran, dan diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam sejarah hidupnya dengan perbuatan dan perkataan baginda, serta tingkah laku dan kepimpinan baginda sendiri sepanjang hayat baginda. Di dalam al-Quran terdapat penjelasan umum tentang segala sesuatu yang terdapat di atas muka bumi dan alam sarwajagat ini. Terdapat segala dasar ilmu dunia akhirat yang membuka ruang yang begitu luas tanpa sempadan untuk manusia mengkajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran mengajar manusia supaya menjadi umat yang bertamadun, berilmu pengetahuan, menjadi hamba Allah yang dapat berfikir, berperanan sebagai makhluk yang dapat mengambil faedah daripada segala kejadian-Nya, sehingga ruang lingkup rahsia kejadian Allah dan kurniaan-Nya menjelma menjadi bidang ilmu yang seharusnya dikuasai manusia, dan bidang ilmu inilah yang kemudiannya menjelma dalam era maju manusia menjadi ilmu teknologi, pengurusan, ekonomi, kemanusiaan, perusahaan, pembuatan dan sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebahagian daripada peranan yang menjadi tanggungjawab manusia di atas muka bumi ini dan seharusnya ditunaikan atas sifatnya sebagai khalifah Allah. Umat yang diamanahkan menjadi khalifah ini seharusnya dapat menjadi pemimpin manusia lain dalam merealisasikan ajaran Allah dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan mereka sendiri serta memandu manusia yang lain dalam mencipta kebaikan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah juga penegasan Allah tentang kebangkitan umat sebagai umat terbaik untuk menyeru kepada makruf dan mencegah mungkar merupakan satu panduan yang perlu dimanifestasikan di dalam kehidupan mereka ketika menjalankan amanah yang dipertanggungjawabkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangkan realiti umat Islam pada hari ini, nampaknya harapan agar umat Islam menjadi khalifah Allah bagi menjalankan peranannya sebagai pemegang amanah mentadbirkan alam ini menurut ajaran Islam tidak terlaksana, malahan agak jauh terlepas daripada tangan mereka. Umat Islam kini bukan menjadi pemimpin alam, tetapi menjadi umat yang dipimpin dan diheret ke sana ke mari mengikut kuasa pengembala alam yang terdiri daripada manusia dan umat lain yang selama ini telah memanfaatkan segala kejadian Allah dan memainkan peranan mereka untuk menguasai segala ilmu yang membawa kepada kuasa kepimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam dalam sejarahnya yang panjang hanya dapat mengecap tamadun dan ketinggian peradabannya dalam masa yang agak singkat, iaitu ketika tamadun dan ilmu pengetahuan Islam itu telah memartabatkan umat menjadi pemimpin dunia di Timur dan di Barat dengan tersebarnya tamadun Islam dan ilmu pengetahuannya yang tinggi, sehingga umat Islam pada ketika itu menjadi penyumbang yang besar terhadap tamadun alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu umat Islam mundur ke belakang, dan menjadi umat yang dipimpin oleh penjajahan mental dan fizikal Barat, menjadi umat yang ditindas dan diperlakukan sebagai manusia serba lemah dan mundur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak hairanlah setelah sekian lama kita menerima Islam, termasuk di daerah kita dan alam nusantara ini, kita telah menjadi umat yang keliru dan sempit kefahamannya tentang Islam itu sendiri. Selama berabad-abad lamanya kita nampaknya menumpukan perhatian dan kerja kita memahami ritual dan ibadat dalam skopnya yang terbatas. Kita lebih banyak bertindak untuk memahami peranan kita sebagai hamba Allah dengan menumpukan kefahaman dan amalan kita dalam melakukan ibadat khusus bagi membina hubungan kita dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengisian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kita semua memahami tugas kita sebagai hamba dan khalifah Allah. Maka sebahagian besar tugas kita sebagai khalifah untuk mentadbir dan menguasai alam ini dalam aspek yang lebih luas dan bermakna tidak kita periksa dan laksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala saluran pendidikan, formal atau tidak formal nampaknya diisikan dengan ilmu pengetahuan yang amat sempit, dan terlalu lemah untuk mendidik manusia menjadi khalifah di alam ini. Selama berabad-abad penumpuan kita di dalam pendidikan yang dikatakan ``pendidikan Islam'' atau ``pendidikan agama'' itu hanya tertumpu kepada beberapa bidang pengisian yang terhad dan sempit. Yang lebih mendukacitakan pula ialah dalam masa yang sama segala pengisian ilmu pengetahuan ciptaan akal fikiran manusia yang merupakan ilmu peralatan untuk memakmurkan alam ini dikira sebagai ilmu dunia yang terkeluar daripada pembicaraan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Universiti Islam Antarabangsa Malaysia ditubuhkan dulu, banyak negara Islam yang menyatakan pandangannya bahawa UIAM bukanlah merupakan sebuah universiti Islam kerana universiti itu memperkenalkan kursus-kursus profesional seperti ekonomi, undang-undang, kemudiannya seni bina, kejuruteraan dan sebagainya. Kekeliruan ini berlaku kerana skop kefahaman umat Islam tentang universiti Islam ialah sebuah universiti yang menumpukan disiplin ilmunya kepada pengajaran syariah, usuluddin, bahasa Arab dan sebagainya dalam kefahaman tradisional yang menjadi anutan umat Islam selama ini. Maka mana-mana universiti yang menjurus kepada bidang ilmu akli dianggap bukanlah merupakan pusat pengajian yang berbentuk Islam, walaupun falsafah pengajiannya adalah menurut falsafah dan konsep ilmu seperti yang dikehendaki Islam itu sendiri misalnya seperti falsafah penubuhan UIAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sepatutnya menyedari bahawa makhluk rohani tidak dapat menjadi khalifah Allah untuk mentadbirkan alam ini. Makhluk seperti manusia yang merangkumi peranan kerohanian, kebendaan, fizikal dan akal inilah yang seharusnya menjadi khalifah Allah. Kerana itulah, pada pandangan saya, ketika para malaikat membantah kehendak Allah agar dilantik manusia untuk menjadi khalifah di atas muka bumi ini atas alasan bahawa merekalah yang selayaknya menjadi khalifah, atas dasar bahawa merekalah yang sentiasa mensucikan Allah, maka Allah memberitahu mereka bahawa Allah lebih mengetahui tentang perkara ini lebih daripada apa yang mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mempunyai hubungan dengan kefahaman dan tanggapan umat Islam pada hari ini tentang skop pendidikan dan agenda mereka untuk menjadi pentadbir alam ini. Kefahaman ini amat mengongkong akal fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama sebenarnya dapat kita fahami pada masa ini ketika kefahaman kita tentang sekolah agama, pusat pengajian agama dan sebagainya telah disempitkan bidang pengajiannya. Ramai yang merasakan bahawa ``agama'' itu telah terkongkong dalam sempadan yang amat sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bila menyebut hal ini, saya tidaklah mempersoalkan tentang bidang pengajian agama yang menjadi asas setiap individu dalam urusan ibadat format dan fardu ain. Malah asas itu perlulah diperkasakan dan diperkuatkan dalam setiap individu Islam di semua peringkat dan institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan sekarang ialah bagaimanakah perjalanan kita dalam jalan yang sempit dan terhad itu dapat kita panjangkan dan perluaskan lagi agar mencakupi matlamat yang lebih besar dalam kehidupan kita, iaitu kita di samping menjadi hamba Allah yang baik, taat dan patuh kepada Allah dalam amal ibadat, akan juga dapat menjalankan peranan kita sebagai khalifah-Nya yang dapat menguasai alam ini dalam semua ilmu, kecekapan dan kemampuan semasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau matlamat ini dapat difahami dan akhirnya dicapai oleh umat Islam, pada masa itu barulah dapat kita laung-laungkan dengan sekeras-keras suara bahawa kita adalah umat yang berperanan sebagai hamba dan khalifah Allah di atas muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia.&lt;br /&gt;Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {“Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.”}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.”}(Q. S. Ibrahim: 33). {“Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya.”}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati.&lt;br /&gt;Dengan demikian, manusia adalah makhluk hidup. Di dalam diri manusia terdapat apa-apa yang terdapat di dalam makhluk hidup lainnya yang bersifat khsusus. Dia berkembang, bertambah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan cinta,&lt;br /&gt;rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan, rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Oleh karena itu manusia senantiasa berusaha mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya,hal ini juga dialami oleh para mahluk-mahluk hidup lainnya, hanya saja, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya dalam hal kesempurnaan tata cara untuk memperoleh benda-benda pemuas kebutuhannya dan juga tata cara untuk memuaskan kebutuhannya tersebut. Makhluk hidup lain melakukannya hanya berdasarkan naluri yang telah Allah ciptakan untuknya sementara manusia melakukannya berdasarkan akal dan pikiran yang telah Allah karuniakan kepadanya.&lt;br /&gt;Dewasa ini manusia, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara spermatozoa dengan ovum.&lt;br /&gt;Didalam Al-Qur`an proses penciptaan manusia memang tidak dijelaskan secara rinci, akan tetapi hakikat diciptakannya manusia menurut islam yakni sebagai mahluk yang diperintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi. Hal ini tentu harus kita kaitkan dengan konsekuensi terhadap manusia yang diberikan suatu kesempurnaan berupa akal dan pikiran yang tidak pernah di miliki oleh mahluk-mahluk hidup yang lainnya. Manusia sebagai mahluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah mampu menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga atau pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah. Status manusia sebagai khalifah , dinyatakan dalam Surat All-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.&lt;br /&gt;Namun kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat , baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah. Akan tetapi fungsi dari khalifah itu sendiri sesuai dengan yang telah diuraikan diatas sangatlah luas, yakni selain sebagai pemimpin manusia juga berfungsi sebagai penerus ajaran agama yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,selain itu khalifah juga merupakan pemelihara ataupun penjaga bumi ini dari kerusakan.&lt;br /&gt;SIAPAKAH MANUSIA&lt;br /&gt;Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.&lt;br /&gt;Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :&lt;br /&gt;Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.&lt;br /&gt;Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.&lt;br /&gt;Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.&lt;br /&gt;Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).&lt;br /&gt;Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.&lt;br /&gt;Beberapa Definisi Manusia :&lt;br /&gt;1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yg mulia.&lt;br /&gt;2. Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas seperti Tuhan&lt;br /&gt;3. Manusia adalah makhluk yg sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada permukaan serba-indera dan akibat saja, tetapi mengamati apa yg ada di luar penginderaan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yg benar, luas dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi.&lt;br /&gt;4. Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.&lt;br /&gt;5. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu –quasi-miracolous– yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.&lt;br /&gt;6. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.&lt;br /&gt;7. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.&lt;br /&gt;8. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.&lt;br /&gt;Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah.&lt;br /&gt;Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi ruhaniah.&lt;br /&gt;Potensi fisik manisia adalah sifat psikologis spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir diberi ilmu dan memikul amanah.sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, gaib, dan nafsu. Akal dalam penertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Qur’an akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian. Dengan demikian di dalam Al Qur’an akal bukan hanya pada ranah rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan dengan hikmah atau bijaksana.&lt;br /&gt;Musa Asyari (1992) menyebutkan arti alqaib dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulatpanjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah, yaitu hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan, dan arif.&lt;br /&gt;Akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam, sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu.&lt;br /&gt;Adapun nafsu adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas.&lt;br /&gt;PERSAMAAN dan PERBEDAAN MANUSIA DENGAN MAHLUK LAIN.&lt;br /&gt;Manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.&lt;br /&gt;Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.&lt;br /&gt;Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan.kelebihan itu membedakan manusiadengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa meampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70.&lt;br /&gt;Diantara karakteristik manusia adalah :&lt;br /&gt;1. Aspek Kreasi&lt;br /&gt;2. Aspek Ilmu&lt;br /&gt;3. Aspek Kehendak&lt;br /&gt;4. Pengarahan Akhlak&lt;br /&gt;Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membeda manusia dari segala makhluk lainnya.&lt;br /&gt;TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat:56 bahwasannya:”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya”mengabdi dalam bentuk apa?ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an Adzariat : 51&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.”&lt;br /&gt;Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam beribu-ribu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang kepada Al-qur’an dan hadist didalam menjalankannya.Begitupun sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah neraka yang sangat menyeramkan,sangat disayangkan bagi mereka yang terjerumus kedalamnya.Na’uudzubillaahi min dzalik&lt;br /&gt;Dalam hadist shohih diungkapkan bahwa jalan menuju surga itu sangatlah susah sedangkan menuju neraka itu sangatlah mudah.Dua itu adalah pilihan bagi setiap manusia dari zaman dahulu hingga sekarang,semua memilih dan berharap akan mendapatkan surga,namun masih banyak sekali orang-orang yang mengingkari dengan perintah Allah bahkan mereka lebih tertarik dan terbuai untuk mendekati,menjalankan larangan-larangannya.Sehingga mereka bertolak belakang dari fitrahnya sebagai manusia hamba Allah yang ditugasi untuk beribadah.Oleh karenanya,mereka tidak akan merasakan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.&lt;br /&gt;FUNGSI DAN PERANAN MANUSIA&lt;br /&gt;Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah.&lt;br /&gt;Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diridan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.&lt;br /&gt;Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1.Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54)&lt;br /&gt;belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.&lt;br /&gt;2.Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)&lt;br /&gt;ilmu yang diajarkan oleh khalifatullah bukan hanya ilmu yang dikarang manusia saja, tetapi juga ilmu Allah.&lt;br /&gt;3.Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 )&lt;br /&gt;Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.&lt;br /&gt;Manusia terlahir bukan atas kehendak diri sendiri melainkan atas kehendak Tuhan. Manusia mati bukan atas kehendak dirinya sendiri Tuhan yang menentukan saatnya dan caranya. Seluruhnya berada ditangan Tuhan Hukum Tuhan adalah hukum mutlak yang tak dapat dirubah oleh siapapun hukum yang penuh dengan rahasia bagi manusia yang amat terbatas pikirannya.&lt;br /&gt;Kuasa memberi juga kuasa mengambil Betapa piciknya kalau kita hanya tertawa senang sewaktu diberi. Sebaliknya menangis duka dan penasaran Sewaktu Tuhan mengambil sesuatu dari kita. Yang terpenting adalah menjaga sepak terjang kita Melandasi sepak terjang hidup kita dengan kebenaran Kejujuran dan keadilan?Cukuplah Yang lain tidak penting lagi.&lt;br /&gt;Suka duka adalah permainan perasaan. Yang digerakan oleh nafsu iba diri Dan mementingkan diri sendiri. Tuhanlah sutradaranya, Maka manusia manusia adalah pemain sandiwaranya Yang berperan diatas panggung kehidupan Sutradara yang menentukan permainannya Dan ingatlah bukan perannya yang penting Melainkan cara manusia yang memainkan perannya itu.&lt;br /&gt;Walaupun seseorang diberi peran sebagai seorang raja besar, Kalau tidak pandai dan baik permainannya ia akan tercela. Sebaliknya biarpun sang sutradara memberi peran kecil tak berarti Peran sebagai seorang pelayan atau rakyat jelata Kalau pemegang peran itu memainkannya dengan sangat baik Tentu ia akan sangat terpuji dimata Tuhan juga dimata manusia.&lt;br /&gt;Apalah artinya seorang pembesar Yang dimuliakan rakyat Bila ia lalim rakus dan melakukan hal hal yang hina. Maka ia akan hanya direndahkan dimata manusia Dan juga dimata Tuhan. Sebaliknya betapa mengagumkan hati manusia Yang menyenangkan Tuhan Bila seorang biasa yang bodoh miskin Dan dianggap rendah namun mempunyai sepak terjang Dalam hidup ini penuh dengan kebajikan Yang melandaskan kelakuannya pada jalan kebenaran. Maka mereka itulah yang paling mulia dimata Tuhan.&lt;br /&gt;“Wahai orang orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, diatasnya terdapat malaikat malaikat yang bengis dan sadis yang tidak mengabaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan”&lt;br /&gt;Itulah firman Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalankan peranannya selama hidup di muka bumi.Peran terhadap diri sendiri dan keluarga.Bukan diawali dari peran untuk keluarga atau pun negara tapi justru peran itu ditujukan untuk diri sendiri sebelum berperan untuk orang lain.Peranan seseorang harus dibangun dari dalam diri sendiri secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal,ketika sebuah pribadi telah menguasai peranannya untuk diri sendiri, barulah bisa berperan untuk orang lain,terutama keluarga.Ada sebuah kata kata dari seorang teman yang pernah berbagi dengan saya tentang masalah berderma. Dia berkata pada saya”kawan untuk kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain tentunya kita harus dalam kondisi lebih terlebih dahulu, tidak mungkin kita dalam kondisi kekurangan terus kita meberi untuk orng lain”.Jadi untuk bisa membangun sebuah keluarga, kelompok, negara dan mungkin yang lebih besar lagi maka haruslah menjadi kewajiban kita untuk bisa terlebih dahulu membangun diri kita.&lt;br /&gt;TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH&lt;br /&gt;Tanggungjawab Abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki dan bersifat fluktuatif ( naik-turun ), yang dalam istilah hadist Nabi SAW dikatakan yazidu wayanqusu (terkadang bertambah atau menguat dan terkadang berkurang atau melemah).&lt;br /&gt;Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggungjawab terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an dinyatakan dengan quu anfusakum waahliikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu, dengan iman dari neraka).&lt;br /&gt;Allah dengan ajaranNya Al-Qur’an menurut sunah rosul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah untuk berlaku adil dan ikhsan. Oleh karena itu, tanggung jawab hamba Allah adlah menegakkan keadilanl, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kenungkaran yang mengancam diri dan keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan solat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran (Fakhsyaa’iwalmunkar). Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari ummah yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.&lt;br /&gt;TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH&lt;br /&gt;Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.&lt;br /&gt;Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.&lt;br /&gt;Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.&lt;br /&gt;Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hokum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah :&lt;br /&gt;“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiranorang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.&lt;br /&gt;Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada allah yang menciptakannya.&lt;br /&gt;Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajad manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya&lt;br /&gt;“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memulyakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT,menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.Perlu usaha yang keras,dan semangat yang kuat ketika keimanan dalam hati melemah,dan pertanggungjawaban yang besar dari diri kita kelak di hari Pembalasan nanti atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-2980440457824833225?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/2980440457824833225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/antara-hamba-dan-khalifah-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2980440457824833225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2980440457824833225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/antara-hamba-dan-khalifah-allah.html' title='ANTARA HAMBA DAN KHALIFAH ALLAH'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-2308869942146899634</id><published>2011-04-06T14:24:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T14:24:51.475-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH ISLAM'/><title type='text'>UTSMAN BIN AFFAN</title><content type='html'>Utsman bin Affan (sekitar 574 – 656) adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang merupakan Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Nama lengkap beliau adalah Utsman bin affan Al-Amawi Al-Quarisyi, berasal dari Bani Umayyah. Lahir pada tahun keenam tahun Gajah. Kira-kira lima tahun lebih muda dari Rasullulah SAW.&lt;br /&gt;Nama panggilannya Abu Abdullah dan gelarnya Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahkan dua putrinya untuk Utsman; Roqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah berkata; “Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu.” Dari pernikahannya dengan Roqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar anaknya meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah.&lt;br /&gt;Menikahi 8 wanita, empat diantaranya meninggal yaitu Fakhosyah, Ummul Banin, Ramlah dan Nailah. Dari perkawinannya lahirlah 9 anak laki-laki; Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Ashgar, Amru, Umar, Kholid, al-Walid, Sa’id dan Abdul Muluk. Dan 8 anak perempuan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar, yaitu sesudah Islamnya Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haristah. Beliau adalah salah satu sahabat besar dan utama Nabi Muhammad SAW, serta termasuk pula golongan as-Sabiqun al-Awwalin, yaitu orang-orang yang terdahulu Islam dan beriman.&lt;br /&gt;Utsman adalah seorang saudagar yang kaya tetapi dermawan. Beliau adalah seorang pedagang kain yang kaya raya, kekayaan ini beliau belanjakan guna mendapatkan keridhaan Allah, yaitu untuk pembangunan umat dan ketinggian Islam. Beliau memiliki kekayaan ternak lebih banyak dari pada orang arab lainya.&lt;br /&gt;Ketika kaum kafir Quarisy melakukan penyiksaan terhadap umat islam, maka Utsman bin Affan diperintahkan untuk berhijrah ke Habsyah (Abyssinia, Ethiopia). Ikut juga bersama beliau sahabat Abu Khudzaifah, Zubir bin Awwam, Abdurahman bin Auf dan lain-lain. Setelah itu datang pula perintah Nabi SAW supaya beliau hijrah ke Madinah. Maka dengan tidak berfikir panjang lagi beliau tinggalkan harta kekayaan, usaha dagang dan rumah tangga guna memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Beliau Hijrah bersama-sama dengan kaum Muhajirin lainya.&lt;br /&gt;Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.&lt;br /&gt;Suasana sempat tegang ketika Utsman tak kenjung kembali. Kaum muslimin sampai membuat ikrar Rizwan – bersiap untuk mati bersama untuk menyelamatkan Utsman. Namun pertumpahan darah akhirnya tidak terjadi. Abu Sofyan lalu mengutus Suhail bin Amir untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW. Hasil perundingan dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah.&lt;br /&gt;Semasa Nabi SAW masih hidup, Utsman pernah dipercaya oleh Nabi untuk menjadi walikota Madinah, semasa dua kali masa jabatan. Pertama pada perang Dzatir Riqa dan yang kedua kalinya, saat Nabi SAW sedang melancarkan perang Ghatfahan.&lt;br /&gt;Utsman bin Affan adalah seorang ahli ekonomi yang terkenal, tetapi jiwa sosial beliau tinggi. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan kekayaanya untuk kepentingan Agama dan Masyarakat umum.&lt;br /&gt;Sebagai Contoh :&lt;br /&gt;1. Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.&lt;br /&gt;2. Memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah disekitarnya.&lt;br /&gt;3. Beliau mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.&lt;br /&gt;4. Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.&lt;br /&gt;Masa Kekhalifahan&lt;br /&gt;Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar musyawarah dan keputusan sidang Panitia enam, yang anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin khatab sebelum beliau wafat. Keenam anggota panitia itu ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.&lt;br /&gt;Tiga hari setelah Umar bin khatab wafat, bersidanglah panitia enam ini. Abdurrahman bin Auff memulai pembicaraan dengan mengatakan siapa diantara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah.&lt;br /&gt;Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Sidangpun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman adalah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan Ali, sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali kemudian menerima keputusan itu.&lt;br /&gt;Maka Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yang tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H. Pengumuman dilakukan setelah selesai Shalat dimasjid Madinah.&lt;br /&gt;Masa kekhalifannya merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya haji berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai berdasarkan berat timbangannya.&lt;br /&gt;Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotob biasanya mengadili suatu perkara di masjid.&lt;br /&gt;Pada masanya, khutbah Idul fitri dan adha didahulukan sebelum sholat. Begitu juga adzhan pertama pada sholat Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk kepentingan pertanian.&lt;br /&gt;Di masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam mempunnyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopelpun sempat dikepung.&lt;br /&gt;Prestasi yang diperoleh selama beliau menjadi Khalifah antara lain :&lt;br /&gt;1. Menaklukan Syiria, kemudian mengakat Mu’awiyah sebagai Gubernurnya.&lt;br /&gt;2. Menaklukan Afrika Utara, dan mengakat Amr bin Ash sebagai Gubernur disana.&lt;br /&gt;3. Menaklukan daerah Arjan dan Persia.&lt;br /&gt;4. Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran.&lt;br /&gt;5. Memperluas Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah.&lt;br /&gt;6. Membakukan dan meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Utsamani, yaitu kitab suci Al-qur’an yang dipakai oleh seluruh umat islam seluruh dunia sekarang ini. Khalifah Ustman membuat lima salinan dari Alquran ini dan menyebarkannya ke berbagai wilayah Islam.&lt;br /&gt;7. Setiap hari jum’at beliau memerdekakan seorang budak (bila ada)&lt;br /&gt;Sebab-sebab Terjadinya Kekacauan dalam Pemerintahan Utsman &lt;br /&gt;Pada mulanya pemerintahan Khalifah Utsman berjalan lancar. Hanya saja seorang Gubernur Kufah, yang bernama Mughirah bin Syu’bah dipecat oleh Khalifah Utsman dan diganti oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, atas dasar wasiat khalifah Umar bin Khatab.&lt;br /&gt;Kemudian beliau memecat pula sebagian pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik, untuk mempermudah pengaturan, lowongan kursi para pejabat dan pembesar itu diisi dan diganti dengan famili-famili beliau yang kredibel (mempunyai kemampuan) dalam bidang tersebut.&lt;br /&gt;Tindakan beliau yang terkesan nepotisme ini, mengundang protes dari orang-orang yang dipecat, maka datanglah gerombolan yang dipimpim oleh Abdulah bin Saba’ yang menuntut agar pejabat-pejabat dan para pembesar yang diangkat oleh Khalifah Utsman ini dipecat pula. Usulan-usulan Abdullah bin Saba’ ini ditolak oleh khalifah Utsman. Pada masa kekhalifan Utsman bin Affan-lah aliran Syiah lahir dan Abdullah Bin Saba’ disebut sebagai pencetus aliran Syi’ah tersebut.&lt;br /&gt;Karena merasa sakit hati, Abdullah bin Saba’ kemudian membuat propoganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti Bani Umayah, termasuk Utsman bin Affan. Seterusnya penduduk setempat banyak yang termakan hasutan Abdullah bin Saba’. Sebagai akibatnya, datanglah sejumlah besar (ribuan) penduduk daerah ke madinah yang menuntut kepada Khalifah, tuntutan dari banyak daerah ini tidak dikabulkan oleh khalifah, kecuali tuntutan dari Mesir, yaitu agar Utsman memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah, dan menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar.&lt;br /&gt;Karena tuntutan orang mesir itu telah dikabulkan oleh khalifah, maka mereka kembali ke mesir, tetapi sebelum mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan seseorang yang ternyata diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Utsman bin Affan. Isinya adalah perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah bin Abi sarah membunuh Gubernur Muhammad Abi Bakar (Gubernur baru) Karena itu, mereka kembali lagi ke madinah untuk meminta tekad akan membunuh Khalifah karena merasa dipermainkan.&lt;br /&gt;Setelah surat diperiksa, terungkap bahwa yang membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Tetapi mereka melakukan pengepungan terhadap khalifah dan menuntut dua hal :&lt;br /&gt;1. Supaya Marwan bin Hakam di qishas (hukuman bunuh karena membunuh orang).&lt;br /&gt;2. Supaya Khalifah Utsman meletakan jabatan sebagai Khalifah.&lt;br /&gt;Kedua tuntutan yang pertama, karena Marwan baru berencana membunuh dan belum benar-benar membunuh. Sedangkan tuntutan kedua, beliau berpegang pada pesan Rasullulah SAW; “Bahwasanya engkau Utsman akan mengenakan baju kebesaran. Apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau lepaskan” &lt;br /&gt;Setelah mengetahui bahwa khalifah Utsman tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka mereka lanjutkan pengepungan atas beliau sampai empat puluh hari. Situasi dari hari kehari semakin memburuk. Rumah beliau dijaga ketat oleh sahabat-sahabat beliau, Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, beliau menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun.&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.&lt;br /&gt;Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-2308869942146899634?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/2308869942146899634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/utsman-bin-affan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2308869942146899634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2308869942146899634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/utsman-bin-affan.html' title='UTSMAN BIN AFFAN'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1191686953428414640</id><published>2011-04-05T07:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T07:22:57.806-07:00</updated><title type='text'>ANALISIS UNSUR BAHASA SECARA INTEGRAL  UNTUK PEMBENAHAN KESALAHAN BERBAHASA LAPORAN PENELITIAN ILMIAH  SKRIPSI MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING</title><content type='html'>Oleh: Drs. Murtono, M Pd 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The term of academic writing refers to writing which is composed based on scientific study. Language used in scientific work report must be scientific language variety, i.e formal, scientific and standardized language variety. The writer often finds out error of language in the research report of counseling students. The errors are those concerned with spelling and punctuation, word and phrase, sentence and paragraph, as well as technique of scientific writing (academic writing). Besides, there has been problem of form and meaning correlation. The language use in student research report has been found with error, such as miss spelling and miss punctuation, incomplete word and phrase, ineffective sentences and illogical paragraph.&lt;br /&gt;Key word :  integral analysis, errors in language use&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;A.  Pendahuluan &lt;br /&gt;     Laporan penelitian merupakan karya ilmiah yang menjadi salah satu muara akhir persyaratan menjadi seorang sarjana [baca: ilmuwan]. Istilah karya ilmiah mengacu pada karya tulis yang penyusunannya didasarkan pada kajian ilmiah. Sebagai salah satu pembimbing penulisan skripsi mahasiswa, setiap saat penulis selalu menemukan aneka kesalahan berbahasa para mahasiswa. Kesalahan-kesalahan itu, menyangkut masalah ejaan dan tanda baca, kata dan frase, kalimat dan paragraf, teknik penulisan ilmiah, serta tidak jarang masalah pertalian bentuk dan makna. Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kerumpangan, misalnya tidak tepat penulisan huruf dan tanda bacanya, tidak lengkap kata dan frasenya, tidak efektif kalimatnya, dan tidak logis paragrafnya. Ada dua kecenderungan, mengapa para mahasiswa melakukan kesalahan dalam berbahasa. Pertama, mereka kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh pembaca. Kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah.&lt;br /&gt;    Sehubungan dengan adanya dua kenyataan ini, maka perlu adanya terapi yang berbeda. Berkait dengan sikap pertama, maka penulis harus memberikan penjelasan pentingnya bahasa yang baik dan benar. Para penyusun laporan dengan orientasi yang penting laporan penelitiannya secara keseluruhan dapat dipahami pembaca, bisa jadi memang tidak masalah  ______________________&lt;br /&gt;1)   Lektor Kepala pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan&lt;br /&gt;apabila pembaca berasal dari daerah yang serumpun, misalnya sesama oarang Jawa Tengah, sesama orang Sunda, sesama orang Betawi. Akan tetapi, hal ini akan menjadi kendala apabila pembaca berasal dari budaya lokal yang berbeda. Oleh karena bahasa yang tidak dikendalikan dengan teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia benar, maupun logika berbahasa ilmiah akan mudah terinterferensi oleh bahasa daerah setempat, dialek tertentu, maupun idiolek perorangan. Dampaknya, masyarakat dari budaya daerah lain yang berbahasa Indonesia yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini akan mengalami ambiguitas, kebiasan, bahkan dapat menyebabkan salah tafsir. Pada hal perlu kita ketahui bahwa pengguna bahasa Indonesia tidak hanya berasal dari satu rumpun. Betapa runyamnya, apabila semua masyarakat daerah itu berbahasa tanpa kaidah bersama. Inilah mengapa penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan ragamnya penting untuk dilaksanakan bersama. &lt;br /&gt;          Kecenderungan kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah. Hal ini perlu diungkap dan dianalisis secara mendalam agar para mahasiswa mengetahui letak kesalahannya. Setelah permasalahan ditemukan barulah solusi diberikan, baik melalui perkuliahan maupun melalui ajang-ajang diskusi lainnya. &lt;br /&gt;         Pokok bahasan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa laporan penelitian ilmiah skripsi dan upaya pembenahannya. Agar masalah yang dibahas dapat teridentifikasi dengan jelas dan terfokus, maka yang dimaksud laporan penelitian ilmiah skripsi dalam penelitian ini adalah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UMK yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Oleh karena itu, masalah pokok yang diajukan adalah:&lt;br /&gt;1.  Mengapa terjadi kecenderungan mahasiswa kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah skripsi sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh para pembaca?&lt;br /&gt;2. Aspek-aspek bahasa yang manakah yang mengalami kesalahan dalam bahasa penulisan karya ilmiah skrispsi ini?&lt;br /&gt;3. Upaya-upaya apa sajakah yang harus peneliti lakukan agar kesalahan berbahasa laporan penelitian skrispsi mahasiswa ini semakin terinduksi?&lt;br /&gt;           Penelitian ini bertujuan untuk menemukan aspek-aspek bahasa laporan penelitian ilmiah yang mengalami kesalahan. Hal ini perlu ditemukan agar dapat dianalisis secara mendalam. Selanjutnya diupayakan bagaimana penulisan yang benar tentang kaidah tata tulis dan logika berbahasa. &lt;br /&gt;          Sejalan dengan tujuan itu, penelitian ini terbatas pada laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. &lt;br /&gt;        Penelitian ini diharapkan dapat menguak dan menyingkap kesalahan berbahasa dalam laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Di samping itu, juga dapat menjelaskan secara ilmiah aspek-aspek bahasa manakah yang mengalami kesalahan. Oleh karena itu, selanjutnya dapat dianalisis secara mendalam terhadap kesalahan itu untuk dapat dilakukan pembetulan-pembetulan. Upaya untuk memperbaiki bahasa karya ilmiah harus selalu dilakukan. Hal ini agar semakin lama menulis karya ilmiah menjadi sesuatu yang tidak ditakuti oleh para mahasiswa. Bahasa yang dipakai pun semakin baik, muaranya para mahasiswa lebih mudah dan senang menulis karya ilmiah.&lt;br /&gt;B.  Karakteristik Laporan Penelitian Ilmiah&lt;br /&gt;         Bahasa laporan penelitian merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia. Ragam ini sering disebut sebagai ragam bahasa baku, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa standar, atau ragam bahasa ilmu (Sugihastuti 2000:3). Ragam bahasa inilah yang kaidah-kaidahnya paling lengkap dibandingkan dengan ragam bahasa yang lain, misalnya ragam pidato, ragam sastra, ragam jurnalistik, dan sebagainya. Moeliono (1988 b) menyatakan bahwa ragam bahasa baku memiliki tiga ciri dasar, yaitu (1) Ragam bahasa standar memiliki kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Kemampuan ini tidak kaku tetapi luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem dan teratur di bidang kosa kata dan peristilahan, dan mengizinkan perkembangan berjenis ragam yang diperlukan dalam kehidupan modern. Beberapa perubahan yang timbul akibat penerapan kaidah bukan alasan yang cukup kuat, yang dapat menghalalkan penyimpangan; (2) Ciri kedua yang menandai bahasa baku adalah sifat kecendekiaannya. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Proses pencedekiaan bahasa itu amat penting karena pengenalan ilmu dan teknologi modern, yang kini umumnya masih bersumber pada bahasa asing, harus dapat dilangsungkan lewat ragam baku bahasa Indonesia: (3) Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa. &lt;br /&gt;        Dengan demikian, pembakuan bahasa laporan penelitian berarti standarisasi penulisannya. Standarisasi ini menyangkut beberapa hal. Standar artinya tetap, baku, dan tidak mudah berubah setiap saat. Ada kaidah-kaidah bahasa yang mantap. Kaidah-kaidah bahasa inilah yang menjadi tolok ukur agar bahasa laporan penelitian standar.&lt;br /&gt;1. Ciri-ciri Ragam Bahasa Baku&lt;br /&gt;          Ciri-ciri ragam baku bahasa Indonesia dapat diperikan sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;Pertama, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku digunakan dalam situasi resmi. Ragam baku tidak diwarnai dengan dialek atau logat tertentu. Kedua, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku menggunakan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Ketiga, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku memenuhi fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek secara eksplisit dan lengkap.&lt;br /&gt;2. Aspek-aspek Bahasa Baku&lt;br /&gt; a.  Perihal Ejaan&lt;br /&gt;       Poerwodarminto (1976) mendefinisikan ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sedangkan ahli yang lain menyatakan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi [kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya], dalam bentuk tulisan [huruf-huruf] serta penggunaan tanda baca (Moeliono 1988 a). Adapun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang termuat di dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 Tanggal 16 Agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;         Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Aspek Fonologis&lt;br /&gt;          Kaidah dalam aspek fonologis meliputi penulisan huruf, pelafalan [pengucapan], dan pengakroniman. Penulisan huruf menyangkut abjad, vokal, konsonan, diftong, persukuan, dan nama diri. &lt;br /&gt;         Pelafalan atau pengucapan huruf juga termasuk hal penting dalam fonologis. Contoh pelafan yang salah misalnya, akhiran -kan bukan –ken. Kata diharapkan yang seharusnya dilafalkan [diharapkan] tetapi dilafalkan salah [diharapken]. Kata Bandung, mestinya dilafalkan [Bandung] tetapi dilafalkan salah menjadi [mBandung]. Timbulnya pelafalan yang tidak tepat ini, biasanya dipengaruhi idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah. &lt;br /&gt;c.  Aspek Morfologis&lt;br /&gt;         Aspek morfologis ini menyangkut kata, baik pengimbuhan (afiksasi) penggabungan, pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing. Kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata-kata ganti, kata depan, kata si dan sang, partikel, penulisan unsur serapan, tanda baca, penulisan angka dan bilangan sangat penting untuk diperhatikan dalam ragam baku bahasa Indonesia. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Kata turunan ditulis dengan beberapa ketentuan, misalnya : (1) imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, (2) awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata, (3) kalau bentuk dasar berupa gabungan kata sekaligus mendapatkan awalan dan akhiran, kata-kata ditulis serangkai, (4) kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Demikian pula tentang  pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing dengan kaidahnya masing-masing.&lt;br /&gt;d.  Aspek Sintaksis&lt;br /&gt;        Dalam ragam bahasa baku aspek sintaksis ini meliputi frase, klausa, dan kalimat. Frase dan klausa merupakan bagian dari kalimat. Kalimat dikatakan baik apabila memiliki kesatuan pikiran/makna (kohesi) dan terdapat kesatuan bentuk (koherensi) di antara unsur-unsurnya. Begitu pula, kalimat dikatakan sempurna apabila mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami maksudnya. &lt;br /&gt; Secara operasional, kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai ciiri-ciri selalu dipakainya perangkat kebahasaan berikut secara tegas dan bertaat asas (Sugihastuti, 2000:82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)   subjek dan predikat&lt;br /&gt;Para siswa berangkat ke lapangan sepak bola. (baku)&lt;br /&gt;Para siswa ke lapangan sepak bola. (tidak baku)&lt;br /&gt;2)  awalan ber- dan me- (kalimat aktif)&lt;br /&gt;Mereka bertanya kepada pembimbing. (baku)&lt;br /&gt;Mereka tanya kepada pembimbing. (tidak baku)&lt;br /&gt;Gubernur melihat-lihat hasil pameran para siswa. (baku)&lt;br /&gt;Gubernur lihat-lihat hasil pameran para siswa. (tidak baku)&lt;br /&gt;3)   konjungsi bahwa dan karena&lt;br /&gt;Dijelaskan bahwa keadaan belum berubah. (baku)&lt;br /&gt;Dijelaskan keadaan belum berubah. (tidak baku)&lt;br /&gt;4)   pola aspek + agens + verba (kalimat pasif)&lt;br /&gt;Laporan secara mendetil sudah saya sampaikan. (baku)&lt;br /&gt;Laporan secara mendetil saya sudah sampaikan. (tidak baku)&lt;br /&gt;5)   konstruksi sintaksis&lt;br /&gt;pendengarannya (baku)&lt;br /&gt;dia punya pendengaran (tidak baku)&lt;br /&gt;menyempurnakan(baku)&lt;br /&gt;bikin sempurna (tidak baku)&lt;br /&gt;6)   partikel -kah dan pun&lt;br /&gt;Bagaimanakah cara mengangkatnya? (baku)&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengangkatnya? (kurang baku)&lt;br /&gt;Selain kajian literatur, percobaan pun dilakukan pula olehnya. (baku)&lt;br /&gt;Selain kajian literatur, percobaan dilakukan pula olehnya. (kurang baku)&lt;br /&gt;7)  ejaan, kosakata, dan istilah &lt;br /&gt;Pemakaian ejaan, kosakata, dan istilah harus resmi sehingga diperoleh kalimat yang bersih dari unsur dialek daerah dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai warga bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Para siswa sudah pada kumpul. (tidak baku)&lt;br /&gt;Para siswa sudah berkumpul. (baku)&lt;br /&gt;e.  Aspek Paragraf&lt;br /&gt;           Paragraf dalam bentuk tulisan/tuturan merupakan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. Informasi yang disampaikan dalam kalimat/tuturan yang satu berhubungan erat dengan informasi yang dinyatakan dalam kalimat/tuturan yang lain dalam sebuah paragraf. Demikian pula antara paragraf yang satu dan paragraf lainnya haruslah mempunyai keterkaitan dan keserasian.Tanpa adanya keterkaitan maupun keserasian, informasi-informasi tersebut sulitlah dipahami makna komulatifnya. Oleh karena itu, kohesi dan koherensi berbahasa sangat memegang penting dalam logika berbahasa. Kohesi adalah kepaduan di bidang bentuk, sedangkan koherensi adalah kepaduan dibidang makna.           &lt;br /&gt;C.   Kesalahan Bahasa yang Sering Terjadi dalam Laporan Penelitian Skripsi Mahasiswa  Bimbingan dan Konseling &lt;br /&gt;            Dalam penelitian ini yang dikaji adalah penggunaan bahasa Indoneia dalam karya ilmiah. Oleh karena itu, pengkajian dilakukan secara integral meliputi semua unsur yang ada dalam bahasa Indonesia ilmiah. Unsur-unsur yang dimaksud meliputi fonologi, morfologi, sistaksis, wacana, dan semantik, serta ejaan yang digunakan. &lt;br /&gt;Ancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa Indonesia pada karya ilmiah sebagaimana yang digunakan para ahli bahasa (Ramlan, 1993; Sudaryanto, 1993; Sugihastuti, 2000). Kesalahan berbahasa yang terdapat pada skripsi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2007/2008 dikategorikan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;1.  Kesalahan Ejaan dan Istilah&lt;br /&gt;(1) Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia dan mempunyai nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.&lt;br /&gt;Kesalahan tanda baca terjadi karena tidak ada tanda , (koma) setelah frasa berakhlak mulia yang merupakan ciri penjabaran dari sumber daya manusia. Penulisan yang benar adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia, dan mempunyai  nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Dan untuk itu pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;• Dan untuk itu, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kesalahan Kata dan Kalimat&lt;br /&gt;(1) Menurut Mungin Edi Wibowo (2000: 6) dikatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kalimat ini mengalami banyak kesalahan mulai dari logika berbahasa dalam mengutip pendapat ahli, cara mengutip (seharusnya diambil nama belakang saja), sampai pada tanda berhenti yang menyiksa kalau diujarkan (di belakang kata berikut diberi tanda : [titik dua]).&lt;br /&gt;Tanda : [titik dua] ini tidak menunjukkan kesenyapan atau berhenti, sehingga pembaca tidak boleh berhenti sampai kalimat diakhiri dengan tanda . [titik]. Pada hal uraian di belakang tanda : ini masih banyak, kalau demikian apakah pembaca bisa bernafas dengan baik. Oleh karena itu, pembetulan yang seharusnya adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Menurut Wibowo (2000:6) anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini. (dengan ditandai . [titik] di belakang frase berikut ini, maka pembaca akan lebih sesuai dalam mengatur pernafasan, karena titik memang memberikan keleluasaan untuk berhenti).&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Wibowo (2000:6) mengatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini.&lt;br /&gt;(2)   Menurut pendapat Muhammad Surya (1975: 64) menjelaskan bahwa : &lt;br /&gt;     Yang dimaksud studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;Kutipan ini mengalami kejanggalan dalam logika berbahasa dan kesalahan dalam cara mengutip, seharusnya berikut ini.&lt;br /&gt;• Menurut Surya (1975:64) studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau &lt;br /&gt;• Surya (1975:64) menjelaskan bahwa studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;atau &lt;br /&gt;• Surya (1975:64) berpendapat studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik. &lt;br /&gt;(3)  Hubungan antara Minat dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;• Hubungan antara Minat dan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;atau &lt;br /&gt;• Hubungan Minat  dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;(4) Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;• Pada peneltian ini digunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;(5) Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur ialah observasi di mana sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi. &lt;br /&gt;• Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur adalah observasi yang sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi.&lt;br /&gt;(6) Dari data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I  menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;• Data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I  menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;(7) Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;• Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Data yang diperoleh menunjukkan banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;3. Ketidakefektifan Paragraf&lt;br /&gt;(1) Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang menunjukkan gejala-gejala yang mengalami kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajarnya rendah disebabkan karena motivasi belajarnya rendah, sehingga hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, siswa tersebut lambat dalam tugas-tugas sehingga siswa sering tidak mengerjakan tugas PR, menunjukkan tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, sering tidak mencatat, bahkan siswa tersebut tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius, jika permasalah tersebut tidak segera diatasi akan mengakibatkan kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas, untuk itu perlu diadakan studi kasus.&lt;br /&gt;• Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang mengalami gejala-gejala kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajar yang rendah. Hal ini disebabkan motivasi belajar siswa yang rendah. Oleh karena itu, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan siswa. Karakteristik siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain: lambat dalam menyelesaikan tugas, sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, dan sering tidak mencatat. Pada kondisi tertentu, bahkan siswa itu tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal-hal tersebut, merupakan masalah yang cukup serius. Apabila permasalah ini tidak segera diatasi, akibatnya akan cukup fatal. Akibat tersebut antara lain kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas.  Berpijak pada paparan di atas, maka siswa yang motivasi belajarnya rendah perlu diberikan bantuan konseling, salah satunya dengan studi kasus.&lt;br /&gt;(2)           Berdasarkan data dalam tabel I di atas, menurut penulis IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya, sehingga IDR perlu mendapatkan perhatian dan bantuan berupa layanan bimbingan dan konseling secara intensif, agar siswa tersebut dapat merubah sikapnya dari tidak sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Berdasarkan data di atas, IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dan bantuan yang semestinya. Salah satu bantuan yang itu adalah layanan bimbingan dan konseling secara intensif. Dengan layanan ini diharapkan siswa tersebut dapat mengubah (sic!) sikapnya dari tidak sungguh-sungguh menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar. Muaranya, siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.&lt;br /&gt;4. Kesalahan Tata Tulis&lt;br /&gt;(1)  Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”.&lt;br /&gt;• Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti melihat dan memperhatikan.&lt;br /&gt;(2) Korelasi Antara Pola Asuh Orang Tua Dan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007&lt;br /&gt;Penulisan judul /subjudul atau bab/subbab yang menggunakan huruf kapital setiap awal kata tidak berlaku untuk kata aspek dan konjungsi. Pada judul di atas terdapat dua kata yang berupa konjungsi yaitu antara dan dan, sehingga kedua kata tersebut tidak diawali dengan huruf besar.&lt;br /&gt;• Korelasi antara Pola Asuh Orang Tua dan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007&lt;br /&gt;(3) Approach Model&lt;br /&gt;                 Behavior Model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;Penggunaan kata yang belum diakui menjadi bagian dari bahasa Indonesia harus ditulis cetak miring. &lt;br /&gt;• Approach Model&lt;br /&gt;                 Behavior model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas. &lt;br /&gt;5. Penggunaan Kata Baku&lt;br /&gt;(1) Ketiadaan minat terhadap pelajaran yang diberikan guru menjadi pangkal penyebab kenapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.&lt;br /&gt;• tiada    (tidak baku)    -  tidak ada (baku)&lt;br /&gt;• kenapa  (tidak baku)    -  mengapa (baku)&lt;br /&gt;Tidak adanya minat terhadap pelajaran yang diberikan (oleh) guru menjadi pangkal penyebab mengapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.&lt;br /&gt;(2) Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk merubah sifat malas belajarnya agar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.&lt;br /&gt;• merubah  (tidak baku)   -  mengubah (baku)&lt;br /&gt;Kata merubah bukan termasuk kata baku. Kata ini berasal dari bentuk dasar ubah bukan rubah, mendapatkan afiks meng- sehingga menjadi mengubah.&lt;br /&gt;Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk mengubah sifat siswa yang malas belajar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.&lt;br /&gt;(3) Berdasarkan dari informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.&lt;br /&gt;• berdasarkan dari (tidak baku) -  berdasarkan ... (baku)&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, (selanjutnya) konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.&lt;br /&gt;(4) Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang adalah disebabkan oleh proses belajar yang salah.&lt;br /&gt;• adalah disebabkan  (tidak baku)  -  disebabkan  (baku)&lt;br /&gt;Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang disebabkan oleh proses belajar yang salah.&lt;br /&gt;(5) pertanggungan jawab (tidak baku  - pertanggungjawaban (baku)&lt;br /&gt;(6) non sistematis  (tidak baku)  -  nonsistematis  (baku)&lt;br /&gt;(7) antar kota  (tidak baku)  -  antarkota (baku)&lt;br /&gt;(8)  sub bab  (tidak baku)   -  subbab   (baku)   &lt;br /&gt;D. Simpulan&lt;br /&gt;       Penulis sering menemukan aneka kesalahan berbahasa pada karya ilmiah skripsi para mahasiswa bimbingan dan konseling. Kesalahan itu antara lain, menyangkut masalah ejaan dan tanda baca, kata dan frase, kalimat dan paragraf, teknik penulisan ilmiah, serta tidak jarang masalah pertalian bentuk dan makna. Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kerumpangan, misalnya tidak tepat penulisan huruf dan tanda bacanya, tidak lengkap kata dan frasenya, tidak efektif kalimatnya, dan tidak logis paragrafnya. Untuk itu, perlu usaha pembenahannya melalui metode tertentu agar permasalahan yang timbul dapat diatasi atau diminimalisiasi.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alwi, Hasan, dkk.1996. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Moeliono, Anton, Ed. 1988 a. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Moeliono, Anton, Ed. 1988 b. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Mustakim. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Data Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.&lt;br /&gt;Poerwodarminto, W J S. 1876. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Ramlan, M. 1993. Paragraf : Alur Berpikir dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Andi Offset.&lt;br /&gt;Sugihastuti. 2000. Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarigan, H.G. 1985. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung : Angkasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1191686953428414640?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1191686953428414640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/analisis-unsur-bahasa-secara-integral.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1191686953428414640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1191686953428414640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/04/analisis-unsur-bahasa-secara-integral.html' title='ANALISIS UNSUR BAHASA SECARA INTEGRAL  UNTUK PEMBENAHAN KESALAHAN BERBAHASA LAPORAN PENELITIAN ILMIAH  SKRIPSI MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8989512797762872629</id><published>2011-03-24T15:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T04:38:44.099-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>BERITA KEPADA BAPAK</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bapa,&lt;br /&gt;Jagung di ladang dan huma telah berbunga&lt;br /&gt;Wanginya mengembara ke kampung tetangga&lt;br /&gt;Tengoklah segera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa&lt;br /&gt;Angin meniup dan membelai&lt;br /&gt;Menyusuri lenggok pucuk daunnya&lt;br /&gt;Berjurai  tarian menggoda&lt;br /&gt;Tengoklah ke sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa&lt;br /&gt;Hijau daun dan wewangi bunga&lt;br /&gt;Mengundang selera para gembala&lt;br /&gt;Datang berduyun untuk berpesta&lt;br /&gt;Sambil bernyanyi lagu  tra  la  la&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa &lt;br /&gt;tengoklah segera !&lt;br /&gt;sebelum hari tergelincir senja&lt;br /&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8989512797762872629?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8989512797762872629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/doa-dalam-sajak_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8989512797762872629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8989512797762872629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/doa-dalam-sajak_24.html' title='BERITA KEPADA BAPAK'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-9002853831546354442</id><published>2011-03-24T15:47:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T15:49:09.582-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>DOA DALAM SAJAK</title><content type='html'>Abdul Hadi W.M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Ini layaknya musim laut diamkan kapal-kapal berhenti&lt;br /&gt;Senja dan teluk melagukan bulan putih tenang dan bulat sempurna&lt;br /&gt;Di atas pasir gelombang&lt;br /&gt;Angin tak mencari tujuan lagi&lt;br /&gt;Aku&lt;br /&gt;Senandungkan Firdausi dengan Seribu Satu Malam&lt;br /&gt;Diatas perahu dari seorang darwis&lt;br /&gt;Yang bercerita tentang Sinai yang permai&lt;br /&gt;Tapi sekarang hari melambung&lt;br /&gt;Dan anak-anak pantai akan kembali, gadis-gadis mainkan gambus buat Muharam&lt;br /&gt;Perahu tak luncur, bulan perak yang hanyut&lt;br /&gt;Seperti tawa kami yang bercakap-cakap tentang malam itu&lt;br /&gt;Dan apabila ada tanda pelabuhan dibuka dari musim berlayar&lt;br /&gt;Aku tinggalkan mereka kembali dan bulan pun tetap putih&lt;br /&gt;Tapi tersapu buih&lt;br /&gt;Kemana mereka pergi?&lt;br /&gt;Sungai tenang, anak-anak pantai senang dan angin&lt;br /&gt;Mencari tujuan baru,Di pantai lain dibuatnya lagu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Tuhan&lt;br /&gt;Ini layaknya musim laut biarkan kapal-kapal berlayar lagi&lt;br /&gt;Ke mana-mana dank e mana-mana&lt;br /&gt;Dan jika saat badai ajaib datang menghiba padanya:&lt;br /&gt;Sampaikan pada yang berikutya &lt;br /&gt;Senja dan bulan selalu bersama mereka &lt;br /&gt;Yang menyapu laut memainkan tangannya gembira&lt;br /&gt;Tapi pisahnya di mana aku tak tahu&lt;br /&gt;Menghembus senja dan pulang ke rumahnya!&lt;a href="http://ratnokalput.blogspot.com/puisi"&gt;&lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-9002853831546354442?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/9002853831546354442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/doa-dalam-sajak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/9002853831546354442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/9002853831546354442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/doa-dalam-sajak.html' title='DOA DALAM SAJAK'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1832575514442581401</id><published>2011-03-24T03:40:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T03:40:36.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>MUHASABAH</title><content type='html'>Kalau bukan karena kuasa Alloh&lt;br /&gt;Biji-biji kurma tak lagi akan tumbuh&lt;br /&gt;Daun-daunnya tak akan lagi kurasakan keteduhannya&lt;br /&gt;Ketika sorot matamu mengunyah keteguhan imanku&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://ratnokalput.blogspot.com/Keislaman"&gt;&lt;/a&gt;Danau semakin tawar&lt;br /&gt;Menyimpan kemarau teramat panjang&lt;br /&gt;Saat ikan-ikan menggelepar menunaikan kematiannya di ujung ketidakberdayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau telan jiwaku dengan keteduhan pandangmu&lt;br /&gt;Akupun bagai anak kecil mainkan perahu kertas&lt;br /&gt;Bergelora saat terbuai reriak aliran sungai&lt;br /&gt;Berkelok di ujung senyummu yang tak pernah kumengerti kesudahannya&lt;br /&gt;Lumat pada akhirnya terseret arus kebimbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tak lagi kurasakan sebagai anugerah yang menyusahkan&lt;br /&gt;Rintikrintiknya menggelitik kemarau dalam dada&lt;br /&gt;Menelusuri labirin waktu&lt;br /&gt;Begitu panjang dalam guratan kemahasempurnaan duka&lt;br /&gt;Tak pernah kurasakan begitu getar&lt;br /&gt;Sebelum kutemui keteduhan sikap dibalik penutup aurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa lagi mengeja kenyataan&lt;br /&gt;Suarasuara nurani terasa begitu pasrah&lt;br /&gt;Menjanjikan kenikmatan seperti kitabkitab suci menjanjikan surga pada pemeluknya&lt;br /&gt;Sementara bumi berpesta dengan kemaksiatan&lt;br /&gt;Dan nyawa tidak lagi dapat menemui jasad tempat damai bernaung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin seperti burung dengan sayap lemah berhasrat meniti luas samudera&lt;br /&gt;Bersarang pada batas keraguan&lt;br /&gt;Di atas gununggunung penahan gelora ombakmu     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1832575514442581401?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1832575514442581401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/muhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1832575514442581401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1832575514442581401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/muhasabah.html' title='MUHASABAH'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8053112957773989066</id><published>2011-03-21T05:46:00.000-07:00</published><updated>2011-03-21T05:46:38.070-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA LAMA'/><title type='text'>HIKAYAT BAYAN BUDIMAN</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;Sebermula ada saudagar di negara Ajam.Khojan Mubarok namanya,terlalu amat kaya,akan tetapi ia tiada beranak.tak seberapa lama setelah ia berdoa kepada Tuhan,maka saudagar Mubarok pun beranaklah istrinya seorang anak laki-laki yang di beri nama Khojan Maimun.&lt;br /&gt;Setelah umurnya Khojkan maimun lima tahun,maka di serahkan oleh bapaknya mengaji kepada banyak guru sehingga sampai umur Khojan Maimun lima belas tahun,ia di pinangkan dengan anak saudagar yang kaya,amat elok parasnya,namanya Bibi Zainab.&lt;br /&gt;Hatta beberapa lamanya khojan Maimun beristri itu,ia membeli seekor burung bayan jantan.Maka beberapa di antara itu ia juga membeli seekor tiung betina,lalu di bawanya ke rumah dan di taruhnya hampir sangkaran bayan juga&lt;br /&gt;Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut,lalu minta izinlah dia kepada istrinya.Sebelum dia pergi ,berpesanlah dia pada istrinya itu,jika ada barang suatu pekerjaan,mufakatlah dengan dua ekor unggas itu,hubaya-hubaya jangan tiada ,karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari pada senjata.&lt;br /&gt;Hatta beberapa lama di tinggal suaminya,ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua.maka pada suatu malam,pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu,maka bernasehatkah di tentang perbuatanya yang melanggar aturan Allah SWT.maka marahlah istri Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.&lt;br /&gt;Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura2 tidur.maka bayan pun berpura2 terkejut dan mendengar kehendak hati Bibi Zainab perg mendapatkan anak raja.maka bayan pun berpikir bila ia menjawab seperti tiung maka ia juga akan binasa.Setelah ia sudah berpikir demikian itu,mak ujarnya,"Aduhai Siti yang baik paras,pergilah dengan segeranya mendapatkan anak raja itu.Apapun hamba ini haraplah tuan,jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan,Insya Allah di atas kepala hambalah menanggungnya.Baiklah tuan pergi,karena sudah di nanti anak raja itu.Apatah di cara oleh segala manusia di dunia ini selain martabat,kesabaran,dan kekayaan?Adapun akan hamba,tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayan yang dicabut bulunya oleh tuannya seorang istri saudagar.&lt;br /&gt;Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut.Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu.&lt;br /&gt;Hatta setiap malam,Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu,dan setiap berpamitan dengan bayan ,maka di berilah ia cerita2 hingga sampai 24 kisah dan 24 malam burung tersebut bercerita,hingga akhirny lah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatanya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Khoja Mubarak seorang saudagar kaya di negeri yang bernama Ajam. Beliau mempunyai seorang anak yang bernama Khoja Maimun. Apabila cukup umurnya, Khoja Maimun telah dikahwinkan dengan Bibi Zainab.&lt;br /&gt;Oleh kerana hampir kehabisan harta, Khoja Maimun bercadang untuk pergi belayar dan berniaga. Sebelum belayar, Khoja Maimun telah membeli dua ekor burung sebagai peneman isterinya sepeninggalan beliau pergi belayar. Seekor burung bayan dan seekor burung tiung. Apabila sampai masa hendak pergi belayar, Khoja Maimun berpesan kepada isterinya supaya sentiasa bermuafakat dengan burung-burung itu sebelum melakukan sesuatu perkara.&lt;br /&gt;Sepeninggalan Khoja Maimun, Bibi Zainab yang tinggal sendiri berasa kesunyian. Semasa duduk termenung di tingkap, seorang putera raja lalu dihadapan rumahnya. Kedua-duanya saling berpandangan dan berbalas senyum.&lt;br /&gt;Sejak hari itu Bibi Zainab telah jatuh berahi terhadap putera raja itu. Putera Raja itu juga telah jatuh cinta pada Bibi Zainab. Dengan perantaraan seorang perempuan tua, pertemuan antara mereka berdua telah dapat di atur.&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan rumahnya, Bibi Zainab telah menyatakan hasratnya kepada burung tiung betina yang diharapnya akan lebih memahami perasaannya. Maka jawab tiung;&lt;br /&gt;“ya, tuan yang kecil molek, siti yang baik rupa, pekerjaan apakah yang tuan hamba hendak kerjakan ini? Tiadakah tuan takut akan Allah subhanahu wataala dan tiadakah tuan malu akan Nabi Muhammad, maka tuan hendak mengerjakan maksiat lagi dilarangkan Allah Taala dan ditegahkan Rasulullah s.a.w. Istimewanya pula sangat kejahatan, dan tiada wajib atas segala perempuan membuat pekerjaan demikian itu. Tiadakah tuan mendengar di dalam al-Quran dan kitab hadis Nabi, maka barangsiapa perempuan yang menduakan suaminya, bahawa sesungguhnya disulakan oleh malaikat di dalam neraka jahanam seribu tahun lamanya…”&lt;br /&gt;Teguran burung tiung betina itu membuatkan Bibi zainab marah lalu dihempaskan burung itu ke bumi. Matilah burung itu.&lt;br /&gt;Bibi Zainab setertusnya meminta nasihat daripada burung bayan pula sambil mencurahkan hasrat hatinya itu. Setelah mendengar semuanya, burung bayan pun berkata;&lt;br /&gt;“Adapun hamba ini haraplah tuan, jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan, insyaAllah di atas kepala hambalah menanggungnya, jika datang suami tuan pun, tiada mengapa, daripada hamba inipun hendak membuat bakti kepada tuan dan berbuat muka pada suami tuan itu. Baiklah tuan segera pergi, kalau-kalau lamalah anak raja itu menantikan tuan, kerana ia hendak bertemu dengan tuan. apatah dicari oleh segala manusia di dalam dunia ini, melainkan martabat, kebesaran dan kekayaan?Adakah yang lebih daripada martabat anakj raja? tetapi dengan ikhtiar juga sempurnalah adanya. Adapun akan hamba tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayn yang dicabut bulunya oleh seorang isteri saudagar….“&lt;br /&gt;Burung Bayan tidak melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya. Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya dengan putera raja. begitulah seterunya sehingga Khoja Maimun pulang dari pelayarannya.&lt;br /&gt;Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumahtangga tuannya.&lt;br /&gt;Antara ceriota bayan itu ialah mengenai seekor bayan yang mempunyai tiga ekor anak yang masih kecil. Ibu bayan itu menasihatkan anak-anaknya supaya jangan berkawan dengan anak cerpelai yang tinggal berhampiran. Ibu bayan telah bercerita kepada anak-anaknya tentang seekor anak kera yang bersahabat dengan seorang anak saudagar. Pada suatu hari mereka berselisih faham. Anak saudagar mendapat luka di tangannya. Luka tersebut tidak sembuh melainkan diubati dengan hati kera. Maka saudagar itupun menangkap dan membunuh anak kera itu untuk mengubati anaknya.&lt;br /&gt;Sebuah lagi cerita bayan ialah mengenai seorang lelaki yang sangat mengasihi isterinya. Apbila isterinya meninggal dunia, dia telahj memohon dioa kepada Tuhan supaya separuh daripada umurnya dibahagikan kepada isterinya. Doa itu dikabulkan dan isterinya hidup semual. Namun, si isteri tidak jujur dan lari dengan seorang saudagar kaya. Lelaki itu menjejaki isterinya kerana menyangka isterinya dilarikan oleh saudagar kaya itu. Tetapi dia telah dihina dan diusir oleh isterinya. Kerana marah dan kecewa, lelaki itu memohon agar Tuhan mengembalikan usianya yang telah diberi kepada isterinya. Dengan kehendak Tuhan, isterinya mati semula.&lt;br /&gt;Dalam cerita yang lain pula, bayan bercerita mengenai pengorbanan seorang isteri. seorang puteri raja yang kejam telah membunuh 39 orang suaminya. suaminya yang keempat puluh telah berjaya menginsafkannya dengan sebuah cerita mengenai seekor rusa betina yang sanggup menggantikan pasangannya, rusa jantan, untuk disembelih. Begitu kasih rusa betina kepada pasangannya sehingga sanggip mengorbankan diri untuk disembelih. Puteri itu insaf dan tidak jadi membunuh suaminya yang keempat puluh itu, malah sanggup berkorban apa sahaja untuk suaminya.&lt;br /&gt;Sumber : Sari Sastera Lama untuk STPM, Zainuddin Saad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8053112957773989066?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8053112957773989066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-bayan-budiman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8053112957773989066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8053112957773989066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-bayan-budiman.html' title='HIKAYAT BAYAN BUDIMAN'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-133179297076182293</id><published>2011-03-19T20:43:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T16:14:42.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA LAMA'/><title type='text'>HIKAYAT PATANI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahiim. Wabihi nastainu,biIlahi al a'la.&lt;br /&gt;Inilah suatu kisah yang diceritakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu. Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. &lt;br /&gt;Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa. Selama Paya Tu Naqpa kerajaan itu sentiasa ia pergi berburu. Pada suatu hari Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta&amp;nbsp; kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawai hulubalang dan rakyat sekalian. &lt;br /&gt;Arkian maka titah baginda: "Aku dengar khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu banyak konon."&lt;br /&gt;Maka sembah segala menteri: "Daulat Tuanku, sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu,patik dengar pun demikian juga." &lt;br /&gt;Maka titah Paya Tu Naqpa: "Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu." &lt;br /&gt;Maka sembah segala menteri hulubalangnya:"Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang Mahamulia patik junjung."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. Setelah sampai pada tempat berburu itu,maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemah&amp;nbsp; pun didirikan oranglah. Maka baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam didalam kemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat sekalian.&lt;br /&gt;Maka baginda pun menitahkan orang pergi melihat bekas rusa itu. Hatta setelah orang itu datang menghadap baginda maka sembahnya: "Daulat Tuanku, pada hutan sebelah tepi laut ini terlalu banyak bekasnya." &lt;br /&gt;Maka titah baginda: "Baiklah esok pagi-pagi kita berburu"&lt;br /&gt;Maka setelah keesokan harinya maka jarring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuan baginda sendiri itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. &lt;br /&gt;Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. Maka baginda pun segera mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda datang kepada suatu serokan tasik itu, maka baginda pun bertemulah dengan segala orang yang menurut anjing itu. &lt;br /&gt;Maka titah baginda: "Apa yang disalak oleh anjing itu?" &lt;br /&gt;Maka sembah mereka sekalian itu: "Daulat Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. Itulah yang dihambat oleh anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah pada pantai ini." &lt;br /&gt;Setelah baginda mendengar sembah orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada tempat itu. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat. Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua itu, dari mana datangnya maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya. &lt;br /&gt;Maka hamba raja itu pun menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka sembah orang tua itu: "Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawah Duli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka pada masa Paduka Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun dikerah orang pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah Paduka Nenda sampai kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka patik pun ditinggalkan oranglah pada tempat ini." &lt;br /&gt;Maka titah baginda: "Apa nama engkau?" &lt;br /&gt;Maka sembah orang tua itu: "Nama patik Encik Tani." &lt;br /&gt;Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda pun kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan segala menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih itu. Setelah keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang mudik ke Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat negeri itu. Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda masing masing dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota Maligai. &lt;br /&gt;Hatta antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka baginda pun pindah hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu pun dinamakannya Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). &lt;br /&gt;Arkian pangkalan yang di tempat pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu Gajah ke hulu Jambatan Kedi, (itulah. Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani naik turun merawa dan menjerat itu. &lt;br /&gt;Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri itu mengikut nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu mengikut sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.&lt;br /&gt;Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-133179297076182293?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/133179297076182293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-patani-bismillahirrahmanirrahii.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/133179297076182293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/133179297076182293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-patani-bismillahirrahmanirrahii.html' title='HIKAYAT PATANI'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1275287385133218504</id><published>2011-03-13T06:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:51:14.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA LAMA'/><title type='text'>HIKAYAT HANG TUAH</title><content type='html'>&lt;marquee&gt;INI ADALAH HIKAYAT HANG TUAH YANG DICERITAKAN OLEH PENULIS&lt;/marquee&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sudah segala pegawai dan petuanan bertunggu dengan beberapa alat senjatanya, maka keesokan harinya, maka raja pun memberi anugerah akan laksamana pakaian yang indah-indah dan diberi anugerah ayapan pada tempat raja santap. Setelah sudah maka raja pun memeluk leher Laksamana seraya dicium bagiada kepala Lasmana, seraya bertitah, “Hai kekasihku Laksamana, segeralah hapuskan arang pada mukaku ini.” Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku.” Maka Laksamana pun meniarap pada kaki raja, seraya memakai di hadapan raja: pertama dipakainya digangsi yang bertepi emas dipahat bersirat, diragam dan ikat pinggang khatifah tujuh belit bersurat ayat Gur’an dan berbaju kesumba murup bersurat doa besar-besar dan memakai keris parung sari itu. Maka mastul pemberian Syeikh Mansur itu dipakainya. Sudah itu maka keris raja itu dipakai ke hadapan. Setelah sudah maka Laksamana pun bertelut menyembah lalu turun berjalan diiringkan oleh orangnya empat puluh itu.&lt;br /&gt;Maka dilihat segala rakyat di dalam negeri Melaka itu Laksamana dititahkan raja membunuh Si Jebat itu, maka kata orang banyak itu, “Marilah kita melihat temasya Laksamana bertikam dengan Si Jebat itu.  Sekali ini barulah Si Jebat beroleh lawan, sama berani dan sama tahu, kerana Laksamana pun banyak tahunya.” Maka kata seorang pula, “Si Jebat pun tahu banyak maka ia tiada dapat dilawan orang.” Maka kata seorang pula, “Si Jebat pun tahu banyak maka ia tiada dapat dilawan orang.” Maka kata seorang pula, “Apakah kita perbantahkan?&lt;br /&gt;Kita lihat sekarang; siapa mati siapa hidup pun bertentulah, kerana Laksamana hulubalang besar; sudah ia bercakap kebawah Dull Yang Dipertuan masakan ia kembali sahaja.”&lt;br /&gt;Hatta dengan demikian maka Laksamana pun sampailah kebalai gendang. Maka Laksamana berhenti di  balai gendang mendengar bunyi rebana itu terlalu ramai, Si Jebat makan dengan segala isi istana. Setelah dilihatnya hari hampir tengah hari, maka didengar oleh Laksamanabunyi rebana dan redap itu berhenti, hingga bunyi rebana kecil jugalagi bunyinya mengalit Si Jebat tidur. Maka Laksamana pun tahulah akan Si Jebat tidur itu. Maka Laksamana pun melihat ketika dan edaran.  Setelah sudah sampai ketikanya, maka Laksamana pun turun dari balai gendang itu lalu berjalan masuk ke dalam pagar lalu berdiri di tengah halaman istana itu. Maka segala orangnya empat puluh itu pun berdiri di belakang Laksamana. Maka segala orang banyak pun berdiri dari jauh melihat temasya; ada yang naik pohon kayu, ada yang naik bumbungan, ada yang naik ke halang jambatan raja; maka sekalian yang berani masuk berdiri di belakang Laksamana.&lt;br /&gt;Maka gemparlah segala perempuan isi istana itu mendengar bunyi lembing perisai dan tepuk sorak orang banyak mengepung istana itu. Maka Hang Jebat pun terkejut daripada tidurnya lalu bangun. Maka Laksamana pun berseru-seru, katanya, “Hati Si Jebat durhaka! Tiadakah setiamu pada tuanmu? Jika engkau berani, marilah engkau turun bertikam.” Maka didengarnya bunyi lembing perisai gemeretak dan&lt;br /&gt;bunyi suara orang terlalu gempita. Maka di dalam hatinya, “Rupanya yang datang ini.” Maka Hang Jebat pun menghunus kerisnya lalu dikikirnya.&lt;br /&gt;Maka Laksamana pun berseru-seru pula, katanya, “Hai Si Jebat durhaka! Sungguh engkau berani tiada berlawan! Marilah engkau turun dari istana ini bertikam sama seorang.” Maka suara itu pun terdengarkepada Hang Jebat, dikenalnya suara Laksamana. Maka Hang Jebat, ia pun naik ke peranginan; maka dibukanya peranginan itu, maka dilihatnya Laksamana terdiri di tengah halaman itu. Maka Hang Jebat pun berdebar-debar hatinya; ia pun fikir dalam hatinya: “Adapun Hang Tuah itu sudah mati dibunuh Bendahara; sekarang Laksamana itu tiada dalam dunia ini, siapa pula yang datang ini seperti Laksamana punsikapnya dan lakunya? Kalau mataku bekas tidur ini gerangan, maka jadi salah pemandangku?”&lt;br /&gt;Maka Hang Jebat pun turun dari peranginan itu lalu ia mandi pada pasu emas itu dan dibasuh mukanya. Setelah sudah maka Hang Jebat pun memakai pakaian kerajaan lalu ia membuka pintu itu. Maka Laksamana pun berseru-sseru. Katanya, “Hai Si Jebat, segeralah engkau turun.&lt;br /&gt;Jika engkau tiada turun, sekarang istana ini kunaiki, tetapi sukar kita bertikam. “Setelah Hang Jebat  menengar suara Laksamana itu, maka ia pun membuka pintu itu sedikit; maka dilihatnya Laksamana diperamat-amatinya, dikenalkannya itu Laksamana. Maka nyatalah Laksamana itu. Maka Hang Jebat pun hairan.&lt;br /&gt;Maka dilihatnya oleh Laksamana Hang Jebat membuka pintu istana itu, maka Laksamana pun   menyingsing tangan bajunya. Maka kata Laksamana, “Cih, Si Jebat durhaka! Mati engkau olehku!” Maka Hang Jebat pun segera menutup pintu istana itu, seraya berkata, “Siapa engkau yang datang hendak   bertikam dengan aku itu dan siapa namamu?” Maka kata Laksamana, “Hai Si Jebat durhaka, takutkah engkau akan aku bertanya? Akulah Laksamana, baharu datang dari berguru di hulu Melaka.” Maka sahut Jebat, “Hai Laksamana, baharu datang dari berguru di hulu Melaka.” Maka sahut Jebat, “Hai Laksamana, bahwa aku tiada takut akan engkau. Kudengar engkau sudah dibunuh oleh Bendahara; sebab itulah maka aku harian.” Maka kata Laksamana, “Akulah Hang Tuah dititahkan Duli Yang Dipertuan membunuh engkau, kerana aku tiada mati; aku ditaruh oleh Bendahara di hulu Melaka.”&lt;br /&gt;Setelah Hang Jebat mendengar kata Laksamana demikian, maka ia pun heran, seraya berkata, “Hai Orang Kaya Laksamana, keranamulah maka aku berbuat pekerjaan ini. Pada bicaraku, engkau tiada dalam dunia ini lagi. Jika aku tahu akan engkau ada hidup; demi Allah dan Rasul-Nya, tiada aku berbuat pekerjaan yang demikian ini.” Maka kata Hang Jebat, “Hai Laksamana, sekali-kali tiada aku menyesal dan takut akan mati, tetapi aku tahu akan kematianku ini pada tanganmu, di mana dapat kusalahi lagi? Tetapi tuan hamba lihatlah tikam Si Jebat durhaka ini, empat puluh hari orang Melaka membuangkan bangkai dalam negeri Melaka membuangkan bangkai dalam negeri Melaka ini dan tiada menderita bau busuk bangkai. Segala-gala jahata jangan kepalang; kuperbuat sungguh-sungguh.” Maka sahut Laksamana, “Hai Si Jebat, tersalah citamu itu.&lt;br /&gt;Adapun pekerjaanmu durhaka pada tuanmu itu berapa dosanya kepada Allah, tiada tertanggung olehmu di dalam akhirat jemah. Akan sekarang engkau hendak membunuh orang yang tiada berdosa pula berpuluh-puluh ribu itu; benarkah bicaramu itu?” Maka kata Hang Jebat, “Apatah dayaku? Sekalian itu dengan kehendaknya juga; tiada dengan kuasaku perbuat itu, supaya namaku masyhur pada segala negeri.” Maka kata Hang Jebat, “Adapun aku tiada mau turun dari istana ini berlawanan dengan engkau, kerana engkau hulubalang besar lagi ternama; tiada boleh kupermudahkan seperti lawan yang dahulu itu dan engkau saudara tua padaku; tiada baik.&lt;br /&gt;Jika engkau hendak bertikam dengan aku, marilah naik. Maka sahut Laksamana, “Bukakanlah pintu itu.” Maka kata Hang Jebat, “Nantilah aku seketika lagi; aku hendak berlangirkan kerisku.”&lt;br /&gt;Setelah sudah maka Hang Jebat pun makan nikmat pada persantapan raja itu. setelah makan maka ia makan sirih pada puan raja lalu ia berjalan ke muka pintu istana itu. Maka Hang Jebat pun membuka pintu istana itu. Maka Hang Jebat pun membuka pintu istana itu sebelah: maka kata Hang Jebat,:  “Silakanlah orang kaya naik, karena ayapan sudah hadir.” Maka kata Laksamana, “Aku tiada mau naik, kerana engkau hendak mengenai aku. Bukalah pintu itu keduanya supaya aku naik,” Setelah Hang Jebat mendengar kata Laksamana demikian itu, maka Hang Jebat dibukanya pintu setelah lagi. Maka kata Hang Jebat. “Silahkanlah orang kaya naik, pintu sudah terbuka.” Maka kata Laksamana, “Cin! Bukan laki-laki menikam mencuri!” Maka Hang Jebat pun tertawa, katanya, “Hai orang kaya, aku geram melihat engkau terdiri-diri di atas tangga itu, tiada tertahan hatiku.” Maka kata Laksamana, “Bukan laki-laki berani. Jika hendak bertikam berilah aku berjijak dahulu.” Maka kata Hang Hebat, “Silakan Orang Kaya, hamba beri jalan.” Maka kata laksamana, “Baiklah,” serta ia melompat ke atas tangga tiga butir anak tangga. Maka Laksamana pun terdiri di atas tapakan tangga itu. Maka baharu hendak melompat kakinya sebelah ke dalam pintu, maka ditikamnya akan Laksamana. Maka dilepaskannya tikam Hang Jebat itu, salah maka dipertubi-tubinya tikam oleh Hang&lt;br /&gt;Jebat. Maka Laksamana pun terjun ke tanah pula.&lt;br /&gt;Sumber: Zaidan Hendy, 1989&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1275287385133218504?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1275287385133218504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-hang-tuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1275287385133218504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1275287385133218504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/hikayat-hang-tuah.html' title='HIKAYAT HANG TUAH'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-6829770649341782264</id><published>2011-03-13T06:26:00.000-07:00</published><updated>2011-03-13T06:33:09.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSIKOLOGI'/><title type='text'>METAKOGNISI DAN KEBERHASILAN BELAJAR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gatut Iswahyudi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mata kuliah analisis real sebagai bagian dari analisis secara umum merupakan suatu mata kuliah yang memiliki karakteristik dengan struktur deduktif aksiomatik yang ketat. Sesuai dengan karakteristik tersebut topik dalam mata kuliah analisis real sarat dengan definisi dan teorema. Fakta yang penulis temui sepanjang pembelajaran mata kuliah analisis real, kelemahan mendasar mahasiswa adalah kemampuan menalar yang rendah. Padahal kemampuan penalaran merupakan suatu kemampuan yang mutlak harus dikuasai oleh orang yang mendalami matematika. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun diperlukan kemampuan menalar yang baik. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam mengembangkan kualitas penalaran serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang.&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menemukan dan mengembangan Model Pembelajaran Berbasis Metakognisi dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Penalaran Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS, (2) Mendapatkan informasi tentang efektifitas pembelajaran berbasis metakognisi dalam rangka meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS, (3) Mendapatkan gambaran tentang respon mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS terhadap pembelajaran yang berbasis metakognisi.&lt;br /&gt;Dengan mengacu pada rumusan permasalahan, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen yang diawali dengan penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran berkualitas yang meliputi Rencana Pembelajaran (RP), Buku Dosen, Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model 4-D (four D Models) yang telah dimodifikasi, dihasilkan perangkat pembelajaran yang baik untuk materi limit dan kekontinuan. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan meliputi: (1) rencana pembelajaran, (2) buku dosen, (3) lembar kegiatan mahasiswa, dan (5) tes hasil belajar. Hal ini ditunjukkan oleh: (a) kemampuan dosen mengelola pembelajaran: baik, (b) aktivitas mahasiswa efektif, dan (c) respon mahasiswa positif. Kemudian Pembelajaran berbasis metakognisi efektif untuk mengajarkan materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real II. Hal ini ditunjukkan oleh: (a) kemampuan dosen mengelola pembelajaran: baik, (b) aktivitas mahasiswa: efektif, (c) ketuntasan belajar secara klasikal: 91.89% mahasiswa tuntas belajar individual, dan (d) respon mahasiswa terhadap pembelajaran: positif. Juga diperoleh : Hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real, dan Kualitas penalaran mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kata Kunci : metakognisi, penalaran , Limit dan Kekontinuan&lt;br /&gt;A.    PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belajar merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam diri manusia. Namun sampai sekarang belum diketahui secara persis terjadinya proses belajar. Seperti yang dinyatakan oleh Hudoyo (1988 : 5) bahwa proses terjadinya belajar sangat sulit diamati. Perubahan tingkah laku tersebut adalah dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan tingkah laku memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu yang relatif lama. Perubahan tingkah laku yang berlaku dalam relatif lama tersebut harus disertai usaha sehingga seseorang dari tidak dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu.Walker (45 : 2003) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman. CT Morgan dalam Alek Sobur ( 80 : 2003) menyatakan bahwa belajar sebagai ”suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. Good &amp;amp; Boophy menyatakan bahwa belajar bukanlah merupakan suatu tingkah laku, tetapi merupakan suatu proses yang benar-benar bersifat internal pada individu dalam usaha memperoleh berbagai hubungan baru.&lt;br /&gt;Pada dasarnya pada saat seseorang belajar (matematika) terjadi proses berpikir, sebab pada saat belajar ia melakukan kegiatan mental. Dalam berpikir itu seseorang menghubungkan antara bagian-bagian informasi yang telah ada dalam pikiran. Pengetahuan yang diperoleh melalui informasi kemudian dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah ada, membentuk pengertian baru. Pengertian yang baru dikonstruksi berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan bekal pengetahuan yang sudah dimiliki dalam situsi yang baru, mahasiswa sendiri memberikan makna terhadap materi yang dipelajarinya dengan cara membandingkan dengan apa yang telah ia ketahui.&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika di sekolah banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme. Soedjadi (2007 : 28) manyatakan bahwa aliran konstruktivisme cenderung berpendapat bahwa pengetahuan perlu dikonstruk atau dibangun sendiri oleh pribadi yang ingin tahu atau perlu memahaminya. Ini berarti bahwa mahasiswa dalam belajar harus secara individual menemukan dan mentransformasi informasi yang komplek, memeriksa aturan yang ada dan bila perlu merevisi.Mahasiswa belajar dengan menerima informasi (dalam sensori register) kemudian meneruskan ke memori jangka pendek dan sebagai pengetahuan yang baru disimpan pada memori jangka panjang. Pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka panjang selalu akan diperbaharui melalui suatu transformasi. Menurut Piaget, transformasi dilakukan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan suatu proses pengintegrasian informasi baru kedalam skema yang telah terbentuk.&lt;br /&gt;Pada proses asimilasi, informasi yang baru dimodifikasi sehingga sesuai dengan skema yang telah dimiliki. Sedangkan akomodasi merupakan pengintegrasian informasi baru melalui pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan informasi yang baru. Artinya bahwa dalam pikiran seseorang ada suatu proses. Proses pengintegrasian informasi baru dengan skema yang ada dan diikuti dengan terbentuk dan berkembangnya skema baru, sebenarnya telah terjadi konstruksi pengetahuan. Pada saat mengkonstruksi statu pengetahuan, pada dasarnya terjadi proses bagaimana mahasiswa memahami konsep.&lt;br /&gt;Mata kuliah analisis real sebagai bagian dari analisis secara umum merupakan suatu mata kuliah yang memiliki karakteristik dengan struktur deduktif aksiomatik yang ketat. Sesuai dengan karakteristik tersebut topik dalam mata kuliah analisis real sarat dengan definisi dan teorema. Ini berarti mahasiswa dituntut harus mampu memahami setiap definisi dan teorema yang dipelajari. Salah satu syarat agar hal tersebut dapat dicapai adalah mahasiswa harus mempunyai kemampuan untuk membuktikan teorema-teorema yang diberikan, maupun kemampuan membuktikan beberapa permasalahan yang berkenaan dengan soal atau tugas yang diberikan. Pemberian mata kuliah tersebut dimaksudkan agar mahasiswa memahami beberapa struktur dalam analisis serta dapat memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah sederhana dalam analisis serta mampu berpikir logis dan bernalar secara matematika dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Fakta yang penulis temui sepanjang pembelajaran mata kuliah analisis real, kelemahan mendasar mahasiswa adalah kemampuan menalar yang rendah. Padahal kemampuan penalaran merupakan suatu kemampuan yang mutlak harus dikuasai oleh orang yang mendalami matematika. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun diperlukan kemampuan menalar yang baik.Tujuan diberikannya mata kuliah analisis real merupakan sarana untuk melatih mahasiswa berpikir logis atau melakukan penalaran secara benar. Hal ini sejalan sejalan dengan ciri mata kuliah tersebut yaitu sarat dengan definisi dan teorema serta merupakan mata kuliah dengan struktur deduktif aksiomatik yang ketat.&lt;br /&gt;Oleh karena itu tingkat kemampuan penalaran formal mahasiswa digunakan sebagai pemandu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyelesaikan soal.Menurut Piaget, pada taraf operasi formal anak sudah memperkembangkan pemikiran abstrak dan penalaran logis untuk berbagai persoalan. Dalam taraf kognitif ini skema anak terus berkembang. Oleh karena skema seseorang terus berkembang dalam taraf perkembangan kognitifnya, berarti skema seorang anak mengenai suatu obyek tertentu, dapat tidak sama dengan skema orang dewasa. Di pihak lain, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap mahasiswa dan proses pembelajaran pada program studi pendidikan matematika di FKIP UNS diperoleh bahwa, dalam proses pembelajaran dosen belum secara terstruktur melaksanakan pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa. Dosen hanya melihat bahwa apabila ada mahasiswa yang dapat menjawab secara benar, maka mahasiswa tersebut dikategorikan telah memahami konsep secara benar. Dosen cenderung lebih banyak menginformasikan tentang definisi suatu konsep. Setelah meginformasikan definisi, diikuti dengan contoh soal dan penyelesaiannya. Dosen belum sampai pada usaha untuk meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa. Padahal penalaran merupakan suatu kemampuan yang sangat mendukung dalam memahami konsep-konsep dalam matematika, maka perlu dilakukan suatu kajian atau penelitian tentang model pembelajaran yang meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa.&lt;br /&gt;Matematika sebagai wahana pendidikan tidak hanya dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya mencerdaskan mahasiswa, tetapi dapat pula untuk membentuk kepribadian mahasiswa serta mengembangkan keterampilan tertentu (Soedjadi, 32 : 2000). Proses belajar matematika itu sendiri merupakan proses mental yang berkaitan dengan kegiatan berpikir dan bagaimana pengembangannya untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan membentuk sikap. Lebih jauh Soedjadi (34 : 2000) mengatakan bahwa proses penalaran merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian dosen terutama untuk membantu mahasiswa agar dapat mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah baik dalam konteks dunia nyata maupun dalam konteks matematika. Hal ini sejalan dengan pendapat Lester (dalam Gartman dan Freiberg, 1993) bahwa tujuan utama mengajarkan matematika adalah tidak untuk melengkapi mahasiswa dengan sekumpulan keterampilan atau proses, tetapi lebih kepada memungkinkan mahasiswa berpikir atau melakukan penalaran.&lt;br /&gt;Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa metakognisi memainkan peran penting dalam mengembangkan kualitas penalaran serta dalam perolehan dan penerapan keterampilan belajar pada berbagai bidang penemuan (Flavell, 1979, Panaoura dan Philippou, 2005). Mahasiswa yang mampu menyerap pelajaran matematika pada tingkatan paling tinggi dan memperoleh informasi tentang latihan dalam strategi metakognitif (yaitu perencanaan, pemantauan, dan evaluasi belajarnya sendiri) memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatur belajarnya (Chamot, Dale, O’Malley dan Spanos, 1992). Pemecahan masalah yang efektif dapat diperoleh dengan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan strategi metakognitif ketika menyelesaikan soal ( McLoughlin dan Hollingworth, 2003 ).&lt;br /&gt;Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas, dapat diketahui betapa pentingnya kemampuan metakognisi dimiliki oleh mahasiswa pada semua tingkat pendidikan. Dosen dalam hal ini dapat mendorong mahasiswa untuk memiliki kemampuan tersebut melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. Agar dosen dapat membangkitkan kemampuan metakognisi mahasiswa, dosen sendiri harus punya kemampuan metakognisi dan punya pemahaman yang memadai tentang proses metakognisi dalam memecahkan masalah. Untuk itu diperlukan suatu penanaman kesadaran kepada para dosen atau calon dosen tentang proses metakognisi yang mestinya dilaksanakan meningkatkan kualitas penalaran.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan maksud tersebut di atas, maka penulis memandang perlu untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis metakognisi dalam rangka meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa.Berdasar permasalahan yang terungkap di atas, maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini yakni sebagai berikut: (1) Bagaimana hasil pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Metakognisi dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Penalaran Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS? (2) Apakah pembelajaran berbasis metakognisi efektif untuk meningkatkan kualitas penalaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS? (3) Bagaimanakah respon mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNS terhadap pembelajaran yang berbasis metakognisi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;B.    TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;1.    Tinjauan tentang Metakognisi&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian metakognisi yang dikemukakan para pakar pada umumnya memberikan penekanan pada proses berpikir seseorang. Pengertian yang paling umum dari metakognisi adalah berpikir tentang berpikir (Elaine &amp;amp; Sheila, 1990; Huitt, 1997; NCREL, 1995; Kasper, 1993; O’Neil &amp;amp; Brown, 1997; Livington, 1997). Namun untuk dapat memahami lebih mendalam tentang pengertian metakognisi, maka berikut dikemukakan pengertian metakognisi dari beberapa pakar beserta penjelasannya.&lt;br /&gt;O’Neil dan Brown (1997) mengemukakan pengertian metakognisi sebagai proses di mana seseorang berpikir tentang berpikir mereka sendiri dalam rangka membangun strategi untuk memecahkan masalah. Sejalan dengan pengertian di atas, Mohamad Nur (2000) mengemukakan bahwa metakognisi berhubungan dengan berpikir siswa tentang berpikir mereka sendiri dan kemampuan mereka menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan tepat. Huitt (1997) mendefinisikan metakognisi sebagai pengetahuan seseorang tentang sistem kognitifnya, berpikir seseorang tentang berpikirnya, dan keterampilan esensial seseorang dalam “belajar untuk belajar’.Flavell (Livington, 1997) mengemukakan bahwa metakognisi meliputi dua komponen, yaitu (a) pengetahuan metakognitif (metacognitive knowledge), dan (b) pengalaman atau regulasi metakognitif (metacognitive experiences or reguloation). Pendapat yang serupa juga dikemuakan oleh Baker &amp;amp; Brown, 1984; Gagne, E; 1993 dalam (Mohamad Nur, 2000) bahwa metakognisi memiliki dua komponen, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif. Sedangkan Huitt (1997) mengemukakan dalam redaksi yang berbeda tentang dua komponen yang termasuk dalam metakognisi, yaitu (a) apa yang kita ketahui atau tidak ketahui, dan (b) regulasi bagaimana kita belajar.&lt;br /&gt;Gambaran lebih jelas tentang komponen-komponen metakognisi dapat dipahami dalam pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh Flavel (1985) dalam Mohamad Nur (2000) sebagai berikut:“ metakognisi adalah pengetahuan seseorang berkenaan dengan proses dan produk kognitif orang itu sendiri atau segala sesuatu yang berkaitan dengan proses dan produk tersebut. …… Metakognitif berhubungan, salah satu diantaranya, dengan pemonitoran aktif dan pengendalian yang konsekwen serta pengorganisasian proses pemonitoran dan pengendalian ini dalam hubungannya dengan tujuan kognitif, pada mana proses-proses tersebut menunjang, umumnya dalam mendukung sejumlah tujuan konkret.”&lt;br /&gt;Pengetahuan metakognitif merujuk pada pengetahuan umum tentang bagaimana seseorang belajar dan memproses informasi, seperti pengetahuan seseorang tentang proses belajarnya sendiri. Anderson dan Krathwohl (2001) mengemukakan bahwa pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum, seperti kesadaran-diri dan pengetahuan tentang kognisi diri sendiri. Pengetahuan kognitif cenderung diterima sebagai pengetahuan tentang proses kognitif yang dapat digunakan untuk mengontrol proses kognitif. Sedangkan Mohamad Nur (2000) mengemukakan bahwa pengetahuan tentang kognitif terdiri dari informasi dan pemahaman yang dimiliki seseorang pebelajar tentang proses berpikirnya sendiri disamping pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam situasi pembelajaran tertentu. Misalnya, seseorang dengan tipe belajar visual mengetahui bahwa membuat suatu peta konsep merupakan cara terbaik baginya untuk memahami dan meningat sejumlah besar informasi baru.&lt;br /&gt;Sedangkan pengalaman metakognitif meliputi penggunaan startegi-strategi metakognitif atau regulasi metakognitif (Brown dalam Livington, 1997). Sejalan dengan itu, Mohamad Nur (2000) menjelaskan bahwa pemonitoran kognitif adalah kemampuan pebelajar untuk memilih, menggunakan, dan memonitor strategi-strategi belajar yang cocok, cocok dengan gaya belajar mereka sendiri maupun dengan situasi tugas yang sedang dihadapi. Mengenai pentingnya kegiatan pemonitoran kognitif ini, Winkel (1996) mengemukakan bahwa:&lt;br /&gt;“Biarpun siswa diberikan berbagai strategi kognitif yang dapat digunakan dalam menyelesaikan problem tertentu, namun tidak berarti bahwa strategi-strategi itu dapat digunakan terhadap segala macam problem. Akhirnya siswa harus menyerap strategi-strategi itu, kemudian menentukan sendiri strategi mana yang cocok dengan masalah A dan mana yang cocok dengan masalah B. Dengan kata lain, fleksibelitas dalam berpikir di pihak siswa merupakan sasaran instruksional yang sangat ideal.”&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan beberapa pakar di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa secara sederhana metakognisi adalah pengetahuan seseorang tentang proses berpikirnya sendiri, atau pengetahuan seseorang tentang kognisinya serta kemampuan dalam mengatur dan mengontrol aktivitas kognisinya dalam belajar dan berpikir.&lt;br /&gt;Anderson dan Krathwohl (2001) mengemukakan tiga aspek dari pengetahuan metakognitif, yaitu (a) pengetahuan strategi (strategic knowledge), (b) pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional, dan (c) pengetahuan-diri (self-knowledge). Flavel (1979) dalam Livingston, (1997) membagi pengethuan kognitif ke dalam tiga kategori, yaitu (a) variabel pengetahuan-diri (individu), (b) variabel tugas, dan (c) variabel strategi.&lt;br /&gt;Sedangkan indikatior-indikator metakognisi menurut Hacker tergambar dari pengertian metakognitif yang dikemukakannya dalam artikel yang berjudul “Metacognition: Definitions and Empirical Foundations” (http://www.psyc.memphis.edu/trg/meta.html) bahwa metakognitif adalah proses berpikir seseorang tentang tentang berpikirnya sendiri. Wujud dari berpikir dalam pengertian ini adalah: apa yang seseorang ketahui (yaitu pengetahuan metakognitif), apa yang dilakukan seseorang (yaitu keterampilan metakognitif), dan bagaimana keadaan kognitif dan afektif seseorang (yaitu pengalaman metakognitif).&lt;br /&gt;Huitt (1997) mengemukakan bahwa metakognisi mencakup kemampuan seseorang dalam bertanya dan menjawab beberapa tipe pertanyaan berkaitan dengan tugas yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(a)    Apa yang saya ketahui tentang materi, topik, atau masalah ini?&lt;br /&gt;(b)    Tahukah saya apa yang dibutuhkan untuk mengetahuinya?&lt;br /&gt;(c)    Tahukah saya dimana dapat memperoleh informasi atau pengetahuan?&lt;br /&gt;(d)    Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya?&lt;br /&gt;(e)    Strategi-strategi atau taktik-taktik apa yang dapat digunakan untuk mempelajarinya?&lt;br /&gt;(f)    Dapatkah saya pahami dengan hanya mendengar, membaca, atau melihat?&lt;br /&gt;(g)    Akankah saya tahu jika saya mempelajarinya secara cepat?&lt;br /&gt;(h)    Bagaimana saya dapat membuat sedikit kesalahan jika saya membuat sesuatu?&lt;br /&gt;Marzano dkk (1988) menjelaskan bahwa metakognisi mencakup dua komponen, yaitu (a) pengetahuan dan kontrol diri, dan (b) pengetahuan dan kontrol proses. Siswa yang berhasil adalah siswa yang secara sadar dapat memonitor dan mengontrol belajar mereka. Pusat dari pengetahuan-diri dan regulasi-diri adalah komitmen, sikap, dan perhatian. Sedangkan elemen dari pengetahuan dan kontrol proses adalah (a) pengetahuan pentingdalam metakognitif dan (b) kontrol pelakasana dari perilaku (http://www.usask.ca/education/802papers/adkins/sec1.htm).&lt;br /&gt;Mohamad Nur (2002) mengemukakan secara operasional tentang kemampuan metakognitif yang dapat diajarkan kepada siswa, seperti kemampuan–kemampuan untuk menilai pemahaman mereka sendiri, menghitung berapa waktu yang mereka butuhkan untuk mempelajari sesuatu, memilih rencana yang efektif untuk belajar atau memecahkan masalah, bagaimana cara memahami ketika ia tidak memahami sesuatu dan bagaimana cara memperbaiki diri sendiri, kemampuan untuk memprediksi apa yang cenderung akan terjadi atau mengatakan mana yang dapat diterima oleh akal dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;Sedangkan Schoenfeld (1987) mengemukakan secara lebih spesifik tiga cara untuk menjelaskan tentang metakognitif dalam pembelajaran matematika, yaitu: (a) keyakinan dan intuisi, (b) pengetahuan, dan (c) kesadaran-diri (regulasi-diri). Keyakinan dan intuisi menyangkut ide-ide matematika apa saja yang disiapkan untuk memecahkan masalah matematika dan bagaimana ide-ide tersebut membentuk jalan/cara untuk memecahkan masalah matematika. Pengetahuan tentang proses berpikir menyangkut seberapa akuratnya seseorang dalam menggambar proses berpikirnya. Sedangkan kesadaran-diri atau regulasi diri menyangkut seberapa baiknya seseorang dalam menjaga dan mengatur apa yang harus dilakukan ketika memecahkan masalah dan seberapa baiknya seseorang menggunakan input dari pengamatan untuk mengarahkan aktivitas-aktivitas pemecahan masalah.&lt;br /&gt;2.    Tinjauan tentang Penalaran&lt;br /&gt;Copi (1982) menjelaskan bahwa “reasoning is a special kind of thinking in which inference takes place, in which conclusions are drawn from premisses”. Maksud kutipan tersebut adalah bernalar merupakan jenis khusus dari berpikir yang berkenaan dengan pengambilan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis. Pada bagian lain ditegaskan oleh Copi bahwa tidak semua berpikir adalah bernalar. Kegiatan berpikir yang bukan bernalar seperti mengingat sesuatu atau membayangkan sesuatu (melamun). Ditambahkan oleh Suriasumantri (1990) bahwa penalaran merupakan proses berpikir untuk menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan. Kegiatan berpikir dalam penalaran tidak termasuk perasaan. Tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan pada penalaran, misalnya berintuisi. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu untuk menemukan kebenaran. Yang dimaksud dengan karakteristik tertentu adalah pola berpikir yang logis dan proses berpikirnya bersifat analitis. Pola berpikir yang logis atau konsisten, berarti menggunakan logika tertentu. Sedangkan bersifat analitis adalah merupakan konsekuensi dari pola berpikir tertentu. Maksudnya, penelaahan terhadap premis-premis dan hubungannya untuk memperoleh kesimpulan, didasarkan pada logika yang digunakan.&lt;br /&gt;Gie (1991) menyatakan bahwa penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain yang diketahui. Pernyataan yang diketahui itu sering disebut dengan pangkal pikir (premis), sedangkan pernyataan baru yang ditemukan disebut kesimpulan. Soekadijo (2003) menambahkan bahwa proses penalaran meliputi aktivitas mencari proposisi-proposisi untuk disusun menjadi premis, menilai hubungan proposisi-proposisi di dalam premis itu, dan menentukan konklusinya.&lt;br /&gt;Bernalar matematika merupakan salah satu kemampuan yang diharapkan untuk dimiliki mahasiswa dalam mempelajari matematika, seperti yang dicantumkan pada Kurikulum Matematika 1994 (Depdikbud, 1993), Kurikulum Berbasis Kompetensi (Puskur, 2001; Puskur, 2003), dan NCTM (2000). Penalaran matematika merupakan komponen penting dari belajar matematika dan merupakan alat untuk memahami abstraksi (Russel, 1999). Ditambahkan oleh Jones (1999) dan NCTM (2000a) bahwa penalaran matematika merupakan fondasi dalam memahami dan doing matematika. Sedangkan Artzt &amp;amp; Yaloz (199) menjelaskan bahwa penalaran matematika merupakan bagian integral dari pemecahan masalah (problem solving). Jika dikaitkan dengan berpikir (thinking), maka penalaran matematika merupakan komponen utama dari berpikir yang melibatkan pembentukan generalisasi dan menggambarkan konklusi yang valid tentang ide dan bagaimana ide-ide itu dikaitkan (Artzt &amp;amp; Yaloz, 1999; Peressini &amp;amp; Webb, 1999).&lt;br /&gt;Bernalar matematika dapat juga dipandang sebagai aktivitas dinamis yang melibatkan suatu variasi cara berpikir dalam memahami ide, merumuskan ide, menemukan relasi antara ide-ide, menggambarkan konklusi tentang ide-ide dan relasi antara ide-ide (Jones, 1999). Penalaran matematika terjadi ketika mahasiswa: 1) mengamati pola atau keteraturan, 2) merumuskan generalisasi dan konjektur berkenaan dengan keteraturan yang diamati, 3) menilai/menguji konjektur; 4) mengkonstruk dan menilai argumen matematika, dan 5) menggambarkan (menvalidasi) konklusi logis tentang sejumlah ide dan keterkaitannya (NCTM, 2000a; Artzt &amp;amp; Yaloz, 1999, dan Peressini &amp;amp; Webb, 1999).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;C.    METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengacu pada rumusan permasalahan, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen yang diawali dengan penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran berkualitas yang meliputi Rencana Pembelajaran (RP), Buku Dosen, Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar. Hal ini untuk menjawab pertanyaan penelitian yang pertama. Terkait dengan pertanyaan penelitian yang kedua dan ketiga, maka penelitian ini dikategorikan penelitian eksperimen karena ditandai adanya perlakuan yang dirancang secara sengaja untuk mengubah suatu kondisi yakni menerapkan pembelajaran berbasis metakognisi dengan menggunakan perangkat pembelajaran dari hasil penelitian pengembangan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, gejala pertama yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah gambaran dari beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis metakognisi kemampuan dosen mengelola pembelajaran, aktivitas mahasiswa, kualitas penalaran mahasiswa dan respon mahasiswa terhadap pembelajaran. Hal ini untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kedua yaitu apakah pembelajaran berbasis metakognisi efektif untuk mengajarkan materi analisis real. Gejala kedua yang akan diselidiki yaitu perbedaan kualitas penalaran mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi dan tidak. Hal ini untuk menjawab pertanyaan penelitian yang ketiga yaitu apakah penalaran mahasiswa yang pembelajarannya berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan yang pembelajarannya tidak berbasis metakognisi pada mata kuliah analisis real.&lt;br /&gt;Metode Pengembangan Perangkat PembelajaranModel pengembangan yang akan digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini adalah modifikasi dari model 4-D Thiagarajan, dkk. (1974). Dalam model 4–D yang asli ada 4 tahap yang dilalui yaitu define, design, develop, dan disseminate, untuk penelitian pengembangan ini dilakukan pengurangan tahap disseminate (penyebaran), sehingga hanya memuat tahap define (pendefinisisan), design (perancangan), dan develop (pengembangan). Tahap penyebaran (disseminate) tidak dilakukan karena sampai dengan tahap ketiga yaitu tahap develop (pengembangan) sudah diperoleh perangkat pembelajaran yang baik.&lt;br /&gt;Instrumen dan Metode Pengumpulan Data dalam Pengembangan Perangkat&lt;br /&gt;Instrumen yang dimaksud terdiri dari lembar validasi perangkat, lembar observasi (pengamatan) dan angket respon mahasiswa. Instrumen pengumpul data uji coba perangkat pembelajaran, secara singkat diuraikan sebagai berikut.Lembar validasiLembar validasi terdiri dari lembar validasi RP, lembar validasi buku dosen, lembar validasi lembar kegiatan mahasiswa, dan lembar validasi tes hasil belajar. Lembar validasi tersebut diberikan kepada para ahli (validator) bersama dengan perangkat yang akan divalidasi untuk memperoleh masukan/data tentang penilaian para ahli terhadap perangkat pembelajaran tersebut.Pada masing-masing lembar validasi perangkat pembelajaran, validator menuliskan penilaiannya. Penilaian terdiri atas lima kategori, yaitu tidak ada (nilai 0), kurang (nilai 1), cukup (nilai 2), baik (nilai 3), dan sangat baik (nilai 4).&lt;br /&gt;Validator juga menuliskan saran dan komentarnya.Lembar observasi kemampuan dosen mengelola pembelajaranInstrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang berbasis metakognisi.Data kemampuan dosen mengelola pembelajaran diperoleh melalui pengamatan yang dilakukan oleh seorang pengamat dengan cara memberi tanda cek (Ö) pada kolom yang sesuai dengan kategori pengamatan yang diamati. Kriteria penilaian pengelolaan pembelajaran terdiri dari 4 kriteria penilaian yaitu. 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = sangat baik.Lembar observasi aktivitas mahasiswaInstrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas mahasiswa selama pembelajaran. Data aktivitas mahasiswa diperoleh melalui pengamatan yang dilakukan oleh seorang pengamat terhadap mahasiswa yang diamati. Pada lembar pengamatan aktivitas mahasiswa pengamat menuliskan nomor kategori aktivitas mahasiswa yang dominan muncul dalam kegiatan pembelajaran dalam selang waktu 5 menit. Setiap 4 menit pengamat melakukan pengamatan terhadap aktivitas mahasiswa, kemudian 1 menit berikutnya pengamat menuliskan nomor kategori aktivitas mahasiswa.Angket respon mahasiswa Angket digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang respon mahasiswa terhadap kegiatan pembelajaran dan perangkat pembelajaran berbasis metakognisi pada mata kuliah analisis real.&lt;br /&gt;Data ini akan dikumpulkan dengan menggunakan angket yang diberikan ) pada kolomkepada mahasiswa. Mahasiswa memberikan tanda cek list ( yang tersedia untuk setiap pertanyaan yang diajukan. Angket tersebut diberikan kepada mahasiswa pada akhir kegiatan pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang telah disediakan.Tes Kualitas Penalaran MahasiswaTes Kualitas Penalaran Mahasiswa digunakan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan penalaran mahasiswa.&lt;br /&gt;D.    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Berdasarkan pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model 4-D (four D Models) yang telah dimodifikasi, dihasilkan perangkat pembelajaran yang baik untuk materi limit dan kekontinuan. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan meliputi: (1) rencana pembelajaran, (2) buku dosen, (3) lembar kegiatan mahasiswa, dan (5) tes hasil belajar. Hal ini ditunjukkan oleh: (a) kemampuan dosen mengelola pembelajaran: baik, (b) aktivitas mahasiswa efektif, dan (c) respon mahasiswa positif. Kemudian Pembelajaran berbasis metakognisi efektif untuk mengajarkan materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real II. Hal ini ditunjukkan oleh: (a) kemampuan dosen mengelola pembelajaran: baik, (b) aktivitas mahasiswa: efektif, (c) ketuntasan belajar secara klasikal: 91.89% mahasiswa tuntas belajar individual, dan (d) respon mahasiswa terhadap pembelajaran: positif. Juga diperoleh : Hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real, dan Kualitas penalaran mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis realAnalisis Inferensial&lt;br /&gt;Data Hasil Belajar = 5 % diperoleh F(0,95;1;67) =Dengan menggunakan taraf signifikan  3.98, berarti F* &lt; F(0,95;1;67), maka H0 diterima. Artinya model regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar. Di lain pihak tampak bahwa kedua model regresi sejajar dan tidak berimpit maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar mahasiswa yang diberikan pembelajaran berbasis metakognisi menghasilkan prestasi belajar yang berbeda dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang diberikan pembelajaran konvensional. Selanjutnya berdasarkan kondisi garis regresi kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar dan konstanta garis regresi untuk kelas eksperimen lebih besar dari konstanta garis regresi untuk kelas kontrol yaitu 8.48 dan 3.82, hal ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan.Analisis Inferensial Data Penalaran MahasiswaSama seperti pada pengujian sebelumnya, dengan menggunakan taraf  = 5 % diperoleh F(0,95;1;67) = 3.98, berarti F*signifikan  &lt; F(0,95;1;67), maka H0 diterima. Artinya model regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar. Selanjutnya karena kedua model regresi sejajar dan tidak berimpit maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat penalaran mahasiswa yang diberikan pembelajaran berbasis metakognisi dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang diberikan pembelajaran konvensional. Kemusian dengan memperhatikan kondisi garis regresi kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar dan konstanta garis regresi untuk kelas eksperimen lebih besar dari konstanta garis regresi untuk kelas kontrol yaitu 8.07 dan 5.02, hal ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan.&lt;br /&gt;E.    SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;1.    Simpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) Berdasarkan pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model 4-D (four D Models) yang telah dimodifikasi, dihasilkan perangkat pembelajaran yang baik untuk materi limit dan kekontinuan. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan meliputi: (a) rencana pembelajaran, (b) buku dosen, (3) lembar kegiatan mahasiswa, dan (4) tes hasil belajar. Hal ini ditunjukkan oleh: kemampuan dosen mengelola pembelajaran: baik; aktifitas mahasiswa efektif, respon mahasiswa: positif, dan tes hasil belajar: valid dan reliabel. (2) Pembelajaran berbasis metakognisi efektif untuk mengajarkan materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real II. Hal ini ditunjukkan oleh: kemampuan dosen mengelola pembelajaran baik, aktivitas mahasiswa efektif, ketuntasan belajar secara klasikal: 91.89% mahasiswa tuntas belajar individual, respon mahasiswa terhadap pembelajaran: positif. (3) Hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real.. (4) Kualitas penalaran mahasiswa yang mengikuti pembelajaran berbasis metakognisi lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika konvensional untuk materi limit dan kekontinuan pada matakuliah analisis real..&lt;br /&gt;2.    Saran&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika realistik yang diterapkan pada kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini memberikan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyarankan: (1) Perangkat pembelajaran yang dihasilkan masih perlu diujicobakan di program studi program studi yang lain dengan berbagai kondisi agar diperoleh perangkat pembelajaran yang benar-benar berkualitas (sebagai tahapan penyebaran dalam model pengembangan 4-D). (2) Perlu dikembangkan perangkat pembelajaran matematika untuk pokok bahasan/sub pokok bahasan yang lain pada mata kuliah analisis real. (3) Perangkat pembelajaran berbasis metakognisi untuk pokok bahasan limit dan kekontinuan ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran dalam mata kuliah analisis real.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-6829770649341782264?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/6829770649341782264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/metakognisi-dan-keberhasilan-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6829770649341782264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/6829770649341782264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/metakognisi-dan-keberhasilan-belajar.html' title='METAKOGNISI DAN KEBERHASILAN BELAJAR'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-3027705868089290027</id><published>2011-03-13T03:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T15:17:59.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSIKOLOGI'/><title type='text'>HISTORICAL ROOTS OF INQUIRY IN METACOGNITION IMPORTANCE OF METACOGNITION IN THEORIES OF LEARNING AND INSTRUCTION DEVELOPMENTAL AND INDIVIDUAL DIFFEREN</title><content type='html'>&lt;a href="http://ratnokalput.blogspot.com" target="_blank""&gt;PSIKOLOGI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;By Linda Baker&lt;br /&gt;The Gale Group&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Learning depends, in part, on the effective use of basic cognitive processes such as memory and attention, the activation of relevant background knowledge, and the deployment of cognitive strategies to achieve particular goals. To ensure that the basic processes are used effectively, that the activated knowledge is indeed relevant, and that appropriate strategies are being deployed, learners also need to have awareness and control of their cognitive processes. This higher-level cognition was given the label metacognition by American developmental psychologist John Flavell (1976).&lt;br /&gt;The term metacognition literally means cognition about cognition, or more informally, thinking about thinking. Flavell defined metacognition as knowledge about cognition and control of cognition. The knowledge component encompasses what one knows about cognition, including knowledge about oneself as a learner, about aspects of the task at hand, and about strategies needed to carry out the task effectively. The control component encompasses the strategies one uses to make cognitive progress, such as planning how to approach a task, evaluating progress as the task is being completed, and changing tactics if difficulties arise.&lt;br /&gt;HISTORICAL ROOTS OF INQUIRY IN METACOGNITION&lt;br /&gt;Research on metacognition had its origins in the 1970s work of Flavell (1976, 1979) and another prominent developmental psychologist, Ann Brown (1943–1999). This work focused on children's metamemory, that is, their knowledge and control of their memory processes. In a landmark study, Kreutzer, Leonard, and Flavell, interviewed children in kindergarten and grades 1, 3, and 5 to determine their knowledge of how their memories work. Open-ended questions were asked about a variety of hypothetical situations tapping knowledge of person, task, and strategy variables influencing memory. For example, children were asked how they could be sure to remember to take their skates to school with them the next day and how they would remember a phone number, and whether it would be easier or harder to remember a list of words they had already studied. Responses revealed that even the youngest children had some knowledge of the workings of their memory, but that older children had greater insights.&lt;br /&gt;Brown's early interest in metacognition was reflected in the title of a 1978 chapter, “Knowing when, where, and how to remember: A problem of metacognition.” Her 1970s research on how well children were able to assess their readiness to be tested on recall of simple materials, such as pictures of common objects, evolved naturally into research on the role of metacognition in studying academic materials and comprehending prose. Her 1980 chapter in a book on theoretical models of reading introduced metacognition to the community of reading researchers and helped to fuel the most active line of domain-specific inquiry in metacognition.&lt;br /&gt;Although Flavell and Brown are credited with introducing the term metacognition, they were not the first to study phenomena that was to be called metacognitive. From the beginning of the twentieth century reading researchers were documenting the importance of monitoring and regulating one's comprehension processes. Memory researchers were studying feelings of knowing and memory monitoring from at least the 1960s. Information processing models from the 1970s included executive control systems that regulate basic cognitive processes.&lt;br /&gt;In addition, Soviet psychologist Lev Vygotsky (1896–1934) and Swiss psychologist Jean Piaget (1896– 1980) included processes regarded as metacognitive in their theories of children's thinking. Vygotsky theorized that children develop the capacity for self-regulation through interaction with more knowledgeable others. These individuals initially assume responsibility for monitoring progress, setting goals, planning activities, allocating attention, and so on. Gradually, responsibility for these executive processes is given over to the child, who becomes increasingly capable of regulating his or her own cognitive activities. This transition from other-regulation to self-regulation is in the early 2000s regarded as a hallmark of metacognitive development. Piaget theorized that peers challenge one another's thoughts and thus advance their&lt;br /&gt;cognitive development. Inducing children to reflect on their own thinking is in fact inducing metacognition.&lt;br /&gt;Vygotsky's theory provides the foundation for contemporary classroom interventions that begin with explicit instruction on the part of the teacher, followed by modeling and guided practice of cognitive and metacognitive strategies, with a gradual release of responsibility to the student.&lt;br /&gt;Piaget's theory has been built upon by contemporary researchers, including Palincsar and Brown, to reveal that peer discussion and collaboration help students to monitor their own understanding and build new strategic capabilities.&lt;br /&gt;IMPORTANCE OF METACOGNITION IN THEORIES OF LEARNING AND INSTRUCTION&lt;br /&gt;The implicit focus on metacognitive processes in early theories of information processing and cognitive development gave way to an explicit focus in contemporary theories of learning and instruction. Within a decade of the seminal work of Flavell and Brown, hundreds of laboratory studies had accumulated showing that metacognitive knowledge and control were associated with more successful cognitive performance, and applied research confirmed the practical importance of metacognition in the classroom. When students have knowledge and control of their own cognitive processes, learning is enhanced; this assertion holds regardless of the domain of learning, whether reading, writing, science, mathematics, or any other activity that involves thinking.&lt;br /&gt;Evidence that metacognition is firmly entrenched in theorizing about how students learn comes from two influential national committees charged with reviewing and synthesizing the research on learning in the 1990s. Early in the decade a taskforce of the American Psychological Association, under the leadership of Nadine Lambert and Barbara McCombs, developed a set of learner-centered psychological principles intended as guidelines for school redesign and reform. Informing the principles was a model of learning that integrated the following factors: cognitive, metacognitive, motivational, affective, developmental, social, and individual differences. Meta-cognition was featured in one of the 14 learner-centered principles: “Thinking about thinking: Higher order strategies for selecting and monitoring mental operations facilitate creative and critical thinking.” In justifying this principle the authors noted that instructional approaches that foster metacognition can enhance not only student learning but also student responsibility for learning.&lt;br /&gt;Later in the 1990s a committee of the National Research Council, led by John Bransford, Ann Brown, and Rodney Cocking, similarly concluded that metacognition is a key factor in learning that should be deliberately cultivated. They emphasized the particularly important role that metacognition plays in promoting transfer of learning. That is, students can more readily apply knowledge acquired in one context to another context if they have more awareness of themselves as learners, if they monitor their strategies and resources, and if they assess their readiness for tests and other performances.&lt;br /&gt;Although metacognition is a term that may still need to be defined to the general public, it is well represented in most college-level textbooks in cognitive, developmental, and educational psychology. Further information about the role of metacognition to learning and instruction can be found in numerous articles, chapters, and edited books, including those by DeSoete and Veenman; Hacker, Dunlosky and Graesser; Hartman; Israel and colleagues; Miller; Paris; Schneider and Lockl; Schraw and Impara; and Sternberg.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;DEVELOPMENTAL AND INDIVIDUAL DIFFERENCES IN METACOGNITION&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;The early research on metacognition was conducted by developmental psychologists whose particular interest was in age-related changes. Flavell, Brown, and their colleagues documented substantial growth in knowledge and control of memory. Researchers demonstrated similar developmental trends in other cognitive enterprises, including communication, comprehension, problem solving, and attention. A consistent pattern in the domain of reading documented in the early years by Baker and Brown but still found in the early 2000s is that younger readers have little awareness that they must attempt to make sense of text; they focus on reading as a decoding process, rather than as a meaning-getting process.&lt;br /&gt;Metacognitive growth is gradual throughout childhood, adolescence, and even into adulthood.&lt;br /&gt;One cannot simply assert that an individual has or does not have metacognition. Metacognition is not a unitary construct, either across domains or within domains, nor is the deployment of a metacognitive strategy all or none. There are degrees in the effectiveness with which strategies can be applied. Children show primitive abilities to plan and check their activities on simple tasks during the preschool years, but even advanced students in higher education show metacognitive limitations on more difficult tasks.&lt;br /&gt;A parallel line of inquiry that grew up alongside the developmental work focused on individual differences in metacognition, typically involving comparisons of better and poorer students, or students with and without a learning disability. Again, the pattern has been quite consistent, with better students demonstrating more knowledge and control of the processes involved in a given domain, whether it is studying, reading, writing, mathematics, or scientific problem solving. Ability-related differences in knowledge about cognition, like developmental differences, have been documented in countless studies, across age groups ranging from early childhood through later adulthood.&lt;br /&gt;The compelling body of descriptive evidence that younger and less-skilled students have limited metacognitive knowledge and control led psychologists to ask whether metacognition could be deliberately fostered and if so, whether it would enhance children's success in school. Experimental research conducted as early as the 1980s provided an affirmative answer. Although the evidence became clear that increasing students' metacognitive awareness and control can improve learning, Baker points out that the relation between metacognition and learning is not unidirectional. Rather, reciprocal causation is most likely; that is, improvements in metacognition contribute to improvements in learning, which in turn contribute to further improvements in metacognition.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;ASSESSMENT OF METACOGNITION&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;A variety of approaches have been used to measure meta-cognition, and considerable controversy exists as to the best ways to assess it. The tools that one selects must be suited to the developmental levels of the students and the purposes of the assessments. Multiple measures are recommended because they can provide converging evidence; if the same findings are obtained with different tools, the researcher or educator can be more confident in his or her conclusions.&lt;br /&gt;The most frequently used approach to assess both metacognitive knowledge and metacognitive control is to ask students directly what they know or what they do while engaging in particular cognitive activities. Verbal reports are typically elicited through structured interviews, such as that originally used by Flavell, or by questionnaires that include multiple response options to a series of items. Most questionnaires are domain specific (e.g., they focus only on reading or only on math), but some are intended to be more domain general. A domain-specific inventory might tap a student's understanding of variables that affect reading outcomes and of strategies that are effective for comprehending text. An example of a well-validated inventory is Mokhtari and Reichard's Metacognitive Awareness of Reading Strategies Inventory. A domaingeneral inventory might assess an individual's knowledge about cognition (including declarative, procedural, and conditional knowledge) and regulation of cognition (including planning, monitoring, debugging, and evaluating learning). An example of a well-validated inventory is Schraw and Dennison's Metacognitive Awareness Inventory. Another valuable self-report option for assessing metacognitive control is to ask students to think aloud about what they are doing and thinking as they solve a problem or read a text.&lt;br /&gt;Technological advances have led to more sophisticated and sensitive ways of assessing metacognitive control. Students can be asked to engage in a task while process measures are being collected online. For example, to assess metacognitive control during reading, a passage may be presented to the reader on a computer screen. Patterns of movement through the text are collected automatically, revealing whether the reader paused at a particular point, whether he or she looked back at previous text, or whether he or she jumped ahead. In many cases, the texts participants read contain errors that were deliberately introduced to make the text difficult to understand. Patterns of movement through the texts reveal processes of comprehension monitoring, or the lack thereof. These process measures are often supplemented by asking readers to reflect on what they were thinking or to answer follow-up comprehension questions. Online processing tasks can also be used to track cognitive monitoring while performing other activities such as mathematical problem solving, writing, computer programming, and vocabulary learning. An advantage of these approaches is that they reveal what students actually do instead of what they say they do. Research using online measures reveals the same developmental and ability-related differences documented through verbal reports.&lt;br /&gt;Still another general approach to assessing metacog-nition is used primarily by researchers studying basic cognitive processes. In judgments of learning tasks, students are presented with to-be-learned material, such as a list of words or a passage, and they are given a test over the material. They are then asked to judge how well they learned the material or how well they answered the comprehension questions. Judgments of learning are then examined in relation to actual performance. A related approach assesses feelings of knowing or knowledge monitoring; it involves presenting students with material and asking them how well they think they would perform on a test. For example, they might be presented with a list of vocabulary words and asked how many they would be able to define or a set of math problems and asked how many they can solve. They are then asked to complete the task, and their performance is compared to their predictions. Even students at the college level generally are not very good at monitoring their learning, but research has shown that a host of factors influences their success, such as item difficulty and familiarity of the to-be-learned materials, and that they can be taught to monitor more effectively.&lt;br /&gt;Researchers are the most frequent users of metacog-nitive assessments, but classroom teachers and school psychologists have also become interested in evaluating their students' metacognitive knowledge and control. According to Baker and Cerro, it is important to be mindful of the limitations of the tools that are used and the conclusions that can be drawn. For example, a limitation of questionnaires is that there is not necessarily a correspondence between what people say they do and what they actually do. Comparisons of questionnaire responses with performance measures on a given task often yield rather low correlations. In addition, people often respond according to what they think they should say, rather than what they actually believe or do. Despite their limitations, verbal reports can be valid and reliable sources of information about cognitive processes when carefully elicited and interpreted, as can more direct processing measures.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;INSTRUCTIONAL IMPLICATIONS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Classroom-based intervention studies began to be implemented in the 1980s shortly after laboratory studies provided solid evidence that metacognitive knowledge and control could be fostered through direct instruction. These interventions typically are domain specific, undertaken not with the goal of increasing metacognition for its own sake, but rather with the goal of increasing learning. Teacher-led interventions using metacognitively oriented reading instruction have resulted in gains in students' metacognition as well as comprehension. One program developed by Michael Pressley and colleagues, known as Transactional Strategies Instruction, is effective with children as early as second grade. Similarly, teacher-led interventions have been devised and successfully implemented to help students plan, monitor, and evaluate their own thinking during mathematical problem solving. Peer collaboration and discussion play a vital role in the classroom as students make explicit their cognitive processes, assumptions, and strategies. Evidence that metacognitive intervention is effective is in the early 2000s so strong that disciplinary organizations and national panels recommend that metacognition be included in teacher preparation and in classroom curricula.&lt;br /&gt;See also:Brown, Ann Leslie 1943-1999, Cognitive Strategies, Piaget, Jean 1896-1980, Pressley, G. Michael 1951-2006, Reciprocal Teaching, Self-Regulated Learning, Theories of Learning, Theory of Mind, Vygotsky, Lev Semenovich 1896-1934&lt;br /&gt;BIBLIOGRAPHY&lt;br /&gt;Baker, L. (2008). Metacognitive development in reading: Contributors and consequences. In K. Mokhtari &amp;amp; R. Sheorey (Eds.), Reading strategies of first and second language learners: See how they read. Norwood, MA: Christopher Gordon.&lt;br /&gt;Baker, L., &amp;amp; Brown, A. L. (1984). Metacognitive skills and reading. In P. D. Pearson, M. Kamil, R. Barr, &amp;amp; P. Mosenthal (Eds.), Handbook of research in reading (Vol. 1, pp. 353–395). New York: Longman.&lt;br /&gt;Baker, L., &amp;amp; Cerro, L. (2000). Assessing metacognition in children and adults. In G. Schraw &amp;amp; J. Impara (Eds.), Issues in the measurement of metacognition (pp. 99–145). Lincoln: Buros Institute of Mental Measurements, University of Nebraska.&lt;br /&gt;Bransford, J. D., Brown, A. L., &amp;amp; Cocking, R. R. (Eds.). (2000). How people learn: Brain, mind, experience, and school. Washington, DC: National Academy Press.&lt;br /&gt;Brown, A. L. (1978). Knowing when, where, and how to remember: A problem of meta-cognition. In R. Glaser (Ed.), Advances in instructional psychology (Vol. 2, pp. 77–165). Hillsdale, NJ: Erlbaum.&lt;br /&gt;Brown, A. L. (1980). Metacognitive development and reading. In R. J. Spiro, B. C. Bruce, &amp;amp; W. F. Brewer (Eds.), Theoretical issues in reading comprehension (pp. 453–482). Hillsdale, NJ: Erlbaum.&lt;br /&gt;Brown, R., Pressley, M., Van Meter, P., &amp;amp; Schuder, T. (1996). A quasi-experimental validation of transactional strategies instruction with low-achieving second-grade readers. Journal of Educational Psychology, 88, 18–37.&lt;br /&gt;Desoete, A., &amp;amp; Veenman, M. (Eds.) (2006). Metacognition in mathematics education. Hauppauge, NY: Nova Science.&lt;br /&gt;Flavell, J. H. (1976). Metacognitive aspects of problem solving. In L. B. Resnick (Ed.), The nature of intelligence (pp. 231–235). Hillsdale, NJ: Erlbaum.&lt;br /&gt;Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34, 906–911.&lt;br /&gt;Hacker, D. J., Dunlosky, J., &amp;amp; Graesser, A. C. (Eds.). (1998). Metacognition in educational theory and practice. Mahwah, NJ: Erlbaum.&lt;br /&gt;Hartman, H. J. (Ed.). (2001). Metacognition in learning and instruction: Theory, research and practice. New York: Springer.&lt;br /&gt;Israel, S. E., Block, C. C., Bauserman, K. L., &amp;amp; Kinnucan-Welsch (Eds.). (2005). Metacognition in literacy learning: Theory, assessment, instruction, and professional development. Mahwah, NJ: Erlbaum.&lt;br /&gt;Kreutzer, M. A., Leonard, C., &amp;amp; Flavell, J. H. (1975). An interview study of children's knowledge about memory. Monographs of the Society for Research in Child Development, 40, 313–319.&lt;br /&gt;Lambert, N. M., &amp;amp; McCombs, B. L. (Eds.). (1998). How students learn: Reforming schools through learner-centered education. Washington, DC: American Psychological Association.&lt;br /&gt;McCormick, C. (2003). Metacognition and learning. In Reynolds, W. M., Miller, G. J., &amp;amp; Weiner, I. B. (Eds.). Handbook of psychology, Vol. 7, Educational psychology. New York: Wiley.&lt;br /&gt;Mokhtari, K., &amp;amp; Reichard, C. A. (2002). Assessing students' metacognitive awareness of reading strategies. Journal of Educational Psychology, 94, 249–259.&lt;br /&gt;Myers, M., &amp;amp; Paris, S. G. (1978). Children's metacognitive knowledge about reading. Journal of Educational Psychology, 70, 680–690.&lt;br /&gt;Palincsar, A. S., &amp;amp; Brown, A. L. (1984). Reciprocal teaching of comprehension-fostering and comprehension-monitoring activities. Cognition and Instruction, 1, 117–175.&lt;br /&gt;Paris, S. G. (2002). When is metacognition helpful, debilitating, or benign? In P. Chambres, M. Izaute, &amp;amp; P. Marescaux (Eds.), Metacognition: Process, function and use (pp. 105–120). Boston: Kluwer.&lt;br /&gt;Schneider, W., &amp;amp; Lockl, K. (2002). The development of metacognitive knowledge in children and adolescents. In T. Perfect &amp;amp; B. Schwartz (Eds), Applied metacognition (pp. 224–257). Cambridge, UK: Cambridge University Press.&lt;br /&gt;Schraw, G., &amp;amp; Dennison, R. S. (1994). Assessing metacognitive awareness. Contemporary Educational Psychology, 19, 460–475.&lt;br /&gt;Schraw, G., &amp;amp; Impara, J. (Eds.). (2000). Issues in the measurement of metacognition. Lincoln, NE: Buros Institute of Mental Measurements.&lt;br /&gt;Sternberg, R. J. (1998). Metacognition, abilities, and developing expertise: What makes an expert student? Instructional Science, 26, 127–140.&lt;br /&gt;Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society. Cambridge, MA: Harvard University Press.&lt;br /&gt;Diunduh pada hari Minggu 7 November 2010 jam 14 09.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-3027705868089290027?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/3027705868089290027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/historical-roots-of-inquiry-in.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3027705868089290027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/3027705868089290027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2011/03/historical-roots-of-inquiry-in.html' title='HISTORICAL ROOTS OF INQUIRY IN METACOGNITION IMPORTANCE OF METACOGNITION IN THEORIES OF LEARNING AND INSTRUCTION DEVELOPMENTAL AND INDIVIDUAL DIFFEREN'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1960317582893622213</id><published>2010-07-03T16:34:00.001-07:00</published><updated>2010-07-03T16:51:16.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='linguistics'/><title type='text'>Kesalahan Bahasa</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Laporan penelitian karya ilmiah skripsi merupakan karya ilmiah yang menjadi salah satu muara akhir persyaratan menjadi seorang sarjana [baca: ilmuwan]. Istilah karya ilmiah mengacu pada karya tulis yang penyusunannya didasarkan pada kajian ilmiah. Sebagai salah satu pembimbing penulisan skripsi mahasiswa, setiap saat penulis selalu menemukan aneka kesalahan berbahasa para mahasiswa kita. Kesalahan-kesalahan itu antara lain, menyangkut masalah ejaan dan tanda baca, kata dan frase, kalimat dan paragraf, teknik penulisan ilmiah, serta tidak jarang masalah pertalian bentuk dan makna. Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kerumpangan, misalnya tidak tepat penulisan huruf dan tanda bacanya, tidak lengkap kata dan frasenya, tidak efektif kalimatnya, dan tidak logis paragrafnya. Ada dua kecenderungan, mengapa para mahasiswa melakukan kesalahan dalam berbahasa. Pertama, rupa-rupanya mereka kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh para pembaca. Kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah.&lt;br /&gt;    Kenyataan adanya dua kecenderungan berkait dengan bahasa penulisan karya ilmiah ini, maka perlu adanya terapi yang berbeda. Berkait dengan sikap pertama, maka penulis merasa perlu untuk memberikan penjelasan mendalam betapa pentingnya bahasa yang baik dan benar menurut kaidahnya. Para penyusun laporan yang berorientasi yang penting laporan penelitiannya secara keseluruhan dapat dipahami pembaca, bisa jadi memang tidak masalah apabila pembaca berasal dari daerah yang serumpun, misalnya sesama oarang Jawa Tengah, sesama orang Sunda, sesama orang Betawi. Akan tetapi, hal ini akan menjadi kendala apabila pembaca berasal dari budaya lokal yang berbeda. Oleh karena bahasa yang tidak dikendalikan dengan teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia benar, maupun logika berbahasa ilmiah akan mudah terinterferensi oleh bahasa daerah setempat, dialek tertentu, maupun idiolek perorangan. Dampaknya, masyarakat dari budaya daerah lain yang berbahasa Indonesia yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini akan mengalami ambiguitas, kebiasan, bahkan dapat menyebabkan salah tafsir. Pada hal perlu kita ketahui bahwa pengguna bahasa Indonesia tidak hanya berasal dari satu rumpun. Betapa runyamnya, apabila semua masyarakat daerah itu berbahasa tanpa kaidah bersama. Inilah mengapa penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan ragamnya penting untuk dilaksanakan bersama.&lt;br /&gt;         Kecenderungan kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah. Hal ini perlu diungkap dan dianalisis secara mendalam agar para mahasiswa mengetahui letak kesalahannya. Setelah permasalahan ditemukan barulah solusi diberikan, baik melalui perkuliahan maupun melalui ajang-ajang diskusi lainnya.&lt;br /&gt;1.2  Rumusan Masalah&lt;br /&gt;        Pokok bahasan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa laporan penelitian ilmiah Skripsi dan upaya pembenahannya. Agar masalah yang dibahas dapat teridentifikasi dengan jelas dan terfokus, maka yang dimaksud laporan penelitian ilmiah skripsi dalam penelitian ini adalah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UMK yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Analisis kesalahan yang dilakukan akan meliputi seluruh unsur bahasa, sehingga secara integral dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, masalah pokok yang diajukan adalah berikut ini.&lt;br /&gt;1.  Mengapa terjadi kecenderungan mahasiswa kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah skripsi sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh para pembaca?&lt;br /&gt;2. Aspek-aspek bahasa yang manakah yang mengalami kesalahan dalam bahasa penulisan karya ilmiah skrispsi ini?&lt;br /&gt;3.  Bagaimanakah pembetulan aspek-aspek bahasa yang mengalami kesalahan dalam bahasa penulisan karya ilmiah skripsi ini?&lt;br /&gt;4. Upaya-upaya apakah sajakah yang peneliti lakukan agar kesalahan berbahasa laporan penelitian skrispsi mahasiswa ini semakin terinduksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3  Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;          Penelitian ini bertujuan untuk menemukan aspek-aspek bahasa laporan penelitian ilmiah yang mengalami kesalahan. Hal ini perlu ditemukan agar dapat dianalis secara mendalam, sehingga lebih mudah untuk membahasanya. Selanjutnya diupayakan bagaimana penulisan yang benar tentang kaidah tata tulis dan logika berbahasa.&lt;br /&gt;         Sejalan dengan tujuan itu, penelitian ini terbatas pada laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Cakupan penelitian ini dibatasi hanya pada skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling, dimaksudkan agar penelitian dapat mendalam, spesifik, dan tuntas. Di samping itu, tentu karena keterbatasan waktu dan dana yang ada.&lt;br /&gt;1.4  Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;       Penelitian ini diharapkan dapat menguak dan menyingkap kesalahan berbahasa dalam laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang kenyataan hasil tulisan ilmiah mahasiswa sehingga akhirnya dapat dilakukan pembenahan dan perbaikan.&lt;br /&gt;Di samping itu, juga dapat menjelaskan secara ilmiah aspek-aspek bahasa yang manakah yang mengalami kesalahan. Oleh karena itu, selanjutnya dapat dianalisis secara mendalam terhadap kesalahan itu untuk dapat dilakukan pembetulan-pembetulan. Upaya untuk memperbaiki bahasa karya ilmiah harus selalu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar para mahasiswa yang selama ini merasa kesulitan bahkan ketakutan menulis karya ilmiah menjadi tidak takut lagi. Bahkan sebisa mungkin dapat berubah menjadi menyenangi. Bahasa yang dipakai pun semakin baik, muaranya para mahasiswa lebih mudah dan terbiasa menulis karya ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB  II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORETIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2.1   Bahasa Laporan Penelitian&lt;br /&gt;        Bahasa laporan penelitian merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia. Ragam ini sering disebut sebagai ragam bahasa baku, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa standar, atau ragam bahasa ilmu (Sugihastuti 2000 : 3). Ragam bahasa inilah yang kaidah-kaidahnya paling lengkap dibandingkan dengan ragam bahasa yang lain, misalnya ragam pidato, ragam sastra, ragam jurnalistik, dan sebagainya. Moeliono (1988 b) menyatakan bahwa ragam bahasa baku memiliki tiga ciri dasar, yaitu (1) Ragam bahasa standar memiliki kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Kemampuan ini tidak kaku tetapi luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem dan teratur di bidang kosa kata dan peristilahan, dan mengizinkan perkembangan berjenis ragam yang diperlukan dalam kehidupan modern. Beberapa perubahan yang timbul akibat penerapan kaidah bukan alasan yang cukup kuat, yang dapat menghalalkan penyimpangan; (2) Ciri kedua yang menandai bahasa baku adalah sifat kecendekiaannya. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Proses pencedekiaan bahasa itu amat penting karena pengenalan ilmu dan teknologi modern, yang kini umumnya masih bersumber pada bahasa asing, harus dapat dilangsungkan lewat ragam baku bahasa Indonesia: (3) Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa.&lt;br /&gt;       Dengan demikian, pembakuan bahasa laporan penelitian berarti standarisasi penulisannya. Standarisasi ini menyangkut beberapa hal. Standar artinya tetap, baku, dan tidak mudah berubah setiap saat. Ada kaidah-kaidah bahasa yang mantap. Kaidah-kaidah bahasa inilah yang menjadi tolok ukur agar bahasa laporan penelitian standar.&lt;br /&gt;2. 2   Ciri-ciri Ragam Bahasa Baku&lt;br /&gt;         Dalam pemakaiannya, bahasa Indonesia ditemukan beberapa ragam bahasa. Mulai dari bahasa kehidupan sehari-hari, bahasa anak muda, bahasa lisan, bahasa tulis, dan sebagainya. Di antara beberapa jenis pemakaian bahasa tersebut, ada yang menggunakan bahasa baku dan ada juga yang menggunakan bahasa ragam tidak baku. Karya ilmiah sebagai salah satu jenis pemakaian bahasa diharuskan menggunakan ragam baku.&lt;br /&gt;          Adapun ciri-ciri ragam baku bahasa Indonesia dapat diperikan sebagai berikut ini. Pertama, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku digunakan dalam situasi resmi. Ragam baku tidak diwarnai dengan dialek atau logat tertentu. Kedua, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku menggunakan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Ketiga, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku memenuhi fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek secara eksplisit dan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. 3. Aspek-aspek Bahasa Baku&lt;br /&gt;2.3.1  Perihal Ejaan&lt;br /&gt;      Poerwodarminto (1976) mendefinisikan ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sedangkan ahli yang lain menyatakan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi [kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya], dalam bentuk tulisan [huruf-huruf] serta penggunaan tanda baca (Moeliono 1988 a). Adapun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang termuat di dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 Tanggal 16 Agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;        Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.2   Aspek Fonologis&lt;br /&gt;         Kaidah dalam aspek fonologis meliputi penulisan huruf, pelafalan [pengucapan], dan pengakroniman.&lt;br /&gt;        Penulisan huruf menyangkut abjad, vokal, konsonan, diftong, persukuan, dan nama diri.&lt;br /&gt;        Pelafalan atau pengucapan huruf juga termasuk hal penting dalam fonologis. Contoh pelafan yang salah misalnya, akhiran -kan bukan –ken. Kata diharapkan yang seharusnya dilafalkan [diharapkan] tetapi dilafalkan salah [diharapken]. Kata Bandung, mestinya dilafalkan [Bandung] tetapi dilafalkan salah menjadi [mBandung]. Timbulnya pelafalan yang tidak tepat ini, biasanya dipengaruhi idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah.&lt;br /&gt;2.3.3  Aspek Morfologis&lt;br /&gt;        Aspek morfologis ini menyangkut kata, baik pengimbuhan (afiksasi) penggabungan, pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing. Kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata-kata ganti, kata depan, kata si dan sang, partikel, penulisan unsur serapan, tanda baca, penulisan angka dan bilangan sangat penting untuk diperhatikan dalam ragam baku bahasa Indonesia. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Kata turunan ditulis dengan beberapa ketentuan, misalnya : (1) imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, (2) awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata, (3) kalau bentuk dasar berupa gabungan kata sekaligus mendapatkan awalan dan akhiran, kata-kata ditulis serangkai, (4) kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.&lt;br /&gt; Hal yang berbeda dengan imbuhan adalah kata depan. Apabila imbuhan penulisannya harus serangkai dengan kata dasarnya, kata depan penulisannya harus dipisah. Kata depan itu, misalnya di dan ke. Penulisannya harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Kalimat berikut adalah contoh penulisannya yang benar dan salah.&lt;br /&gt;(1) a.  Dia pergi kekantor. (salah)&lt;br /&gt;b.  Dia pergi ke kantor. (betul)&lt;br /&gt;(2) a. Dia sekarang berada dirumah. (salah)&lt;br /&gt;b. Dia sekarang berada di rumah (betul)&lt;br /&gt; Demikian juga, penggunaan kata daripada dan dari. Kata dari digunakan untuk asal, daripada untuk perbandingan.&lt;br /&gt; (3)  a. Bangunannya dibut daripada bambu. (salah)&lt;br /&gt;        b. Bangunannya dibuat dari bambu (betul)&lt;br /&gt; (4)  a. Dalam hal orasi, Sukarno lebih unggul dari Suharto.(salah)&lt;br /&gt;        b. Dalam hal orasi, Sukarno lebih unggul dari Suharto.(betul)&lt;br /&gt;Demikian pula tentang  pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing dengan kaidahnya masing-masing. Semua harus dilakukan secara cermat dan hati-hati.&lt;br /&gt;2.3.4   Aspek Sintaksis&lt;br /&gt;       Dalam ragam bahasa baku aspek sintaksis ini meliputi frase, klausa, dan kalimat. Frase dan klausa merupakan bagian dari kalimat. Kalimat dikatakan baik apabila memiliki kesatuan pikiran/makna (kohesi) dan terdapat kesatuan bentuk (koherensi) di antara unsur-unsurnya. Begitu pula, kalimat dikatakan sempurna apabila mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami maksudnya.&lt;br /&gt; Secara operasional, kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai ciiri-ciri selalu dipakainya perangkat kebahasaan berikut secara tegas dan bertaat asas (Sugihastuti, 2000:82).&lt;br /&gt;a.   subjek dan predikat&lt;br /&gt;Para siswa berangkat ke lapangan sepak bola. (baku)&lt;br /&gt;Para siswa ke lapangan sepak bola. (tidak baku)&lt;br /&gt;b.  awalan ber- dan me- (kalimat aktif)&lt;br /&gt;Mereka bertanya kepada pembimbing. (baku)&lt;br /&gt;Mereka tanya kepada pembimbing. (tidak baku)&lt;br /&gt;Gubernur melihat-lihat hasil pameran para siswa. (baku)&lt;br /&gt;Gubernur lihat-lihat hasil pameran para siswa. (tidak baku)&lt;br /&gt;c.    konjungsi bahwa dan karena&lt;br /&gt;Dijelaskan bahwa keadaan belum berubah. (baku)&lt;br /&gt;Dijelaskan keadaan belum berubah. (tidak baku)&lt;br /&gt;d.   pola aspek + agens + verba (kalimat pasif)&lt;br /&gt;Laporan secara mendetil sudah saya sampaikan. (baku)&lt;br /&gt;Laporan secara mendetil saya sudah sampaikan. (tidak baku)&lt;br /&gt;e.   konstruksi sintaksis&lt;br /&gt;pendengarannya (baku)&lt;br /&gt;dia punya pendengaran (tidak baku)&lt;br /&gt;menyempurnakan(baku)&lt;br /&gt;bikin sempurna (tidak baku)&lt;br /&gt;f.    partikel -kah dan pun&lt;br /&gt;Bagaimanakah cara mengangkatnya? (baku)&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengangkatnya? (kurang baku)&lt;br /&gt;Selain kajian literatur, percobaan pun dilakukan pula olehnya. (baku)&lt;br /&gt;Selain kajian literatur, percobaan dilakukan pula olehnya. (kurang baku)&lt;br /&gt;g.    ejaan, kosakata, dan istilah&lt;br /&gt;Pemakaian ejaan, kosakata, dan istilah harus resmi sehingga diperoleh kalimat yang bersih dari unsur dialek daerah dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai warga bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Para siswa sudah pada kumpul. (tidak baku)&lt;br /&gt;Para siswa sudah berkumpul. (baku)&lt;br /&gt;Bus itu antar kota itu mengalami hambatan di jembatan Comal (tidak baku)&lt;br /&gt;Bus itu antarkota itu mengalami hambatan di jembatan Comal (baku)&lt;br /&gt;2.3.5   Aspek Paragraf&lt;br /&gt;          Paragraf dalam bentuk tulisan/tuturan merupakan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. Informasi yang disampaikan dalam kalimat/tuturan yang satu berhubungan erat dengan informasi yang dinyatakan dalam kalimat/tuturan yang lain dalam sebuah paragraf. Demikian pula antara paragraf yang satu dan paragraf lainnya haruslah mempunyai keterkaitan dan keserasian. Tanpa adanya keterkaitan maupun keserasian, informasi-informasi tersebut sulitlah dipahami makna komulatifnya. Oleh karena itu, kohesi dan koherensi berbahasa sangat memegang penting dalam logika berbahasa. Kohesi adalah kepaduan di bidang bentuk, sedangkan koherensi adalah kepaduan dibidang makna. Berikut contoh beberapa kalimat yang digabungkan menjadi sebuah paragraf yang kohesif dan koherensif.&lt;br /&gt;(1) Arni berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB.&lt;br /&gt;(2) Arni menghampiri Karmila, temannya satu kos.&lt;br /&gt;(3) Arni dan Karmila naik sepeda motor pergi ke toko buku.&lt;br /&gt;(4) Arni tertarik dengan buku cerita Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;(5) Arni dan Karmila pulang dari toko buku pukul 20.00 WIB.&lt;br /&gt;Kelima kalimat di atas disusun menjadi satu paragraf berikut ini.&lt;br /&gt;         Arni berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB. Sebelum berangkat, gadis itu  menghampiri Karmila, temannya satu kos. Mereka berdua naik sepeda motor pergi ke toko buku. Arni tertarik dengan buku cerita Laskar Pelangi. Akhirnya, kedua gadis itu pulang dari toko buku pukul 20.00 WIB.         &lt;br /&gt; Paragraf ini sangat efektif dan efisien penggunaan katanya. Demikian juga, sangat kohesif dan koherensif.&lt;br /&gt;            Paragraf di atas disebut efektif dan efisien karena penggunaan katanya tidak boros dan juga sangat mudah untuk dipahami. Di samping itu, hampir tidak ada pengulangan kata yang sama sehingga enak untuk dibaca/didengarkan. Penggunaan kata ganti dan kata sambung sangat membantu efektivitas dan efisiensi penggunaan katanya.&lt;br /&gt; Demikian juga, paragraf ini disebut sangat kohesif dan koherensif karena kepaduan makna dan bentuknya sangat logis dan jelas. Paragraf tersebut secara logika sangat mudah dipahami. Demikian juga secara bentuk sangat jelas dan enak dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB  III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;        Metode yang baik akan menghasilkan penelitian yang baik pula. Agar penelitian ini memperoleh hasil yang optimal digunakan metode yang mencakupi empat hal, yaitu (1) Sasaran dan ancangan penelitian, (2) data dan sumber data, (3) metode pengumpulan data, (4) metode analisis data, dan (5) metode penyajian hasil analisis data. &lt;br /&gt;3.1 Sasaran dan Ancangan Penelitian&lt;br /&gt;         Dalam penelitian ini yang dikaji adalah penggunaan bahasa Indoneia dalam karya ilmiah. Oleh karena itu, pengkajian dilakukan secara integral meliputi semua unsur yang ada dalam bahasa Indonesia ilmiah. Unsur-unsur yang dimaksud meliputi fonologi, morfologi, sistaksis, wacana, dan semantik, serta ejaan yang digunakan.&lt;br /&gt;        Ancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa Indonesia pada karya ilmiah sebagaimana yang digunakan para ahli bahasa (Ramlan, 1993; Sudaryanto, 1993; Sugihastuti, 2000).&lt;br /&gt;3.2 Data dan Sumber Data&lt;br /&gt;       Data penelitian ini meliputi kesalahan-kesalahan berbahasa pada laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UMK yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Data penelitian ini terbatas pada data tertulis yang digunakan dalam penulisan skripsi.&lt;br /&gt;3.3 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;        Ada tiga tahapan yang dipakai dalam pengumpulan data penelitian ini. Tahap pertama adalah pengambilan data dari sumber data dengan cara dicatat dalam kartu data. Tahapan kedua berupa pengelompokkan data sesuai dengan aspek kesalahannya. Dan tahap ketiga penganalisisan data dan upaya pembenahannya.&lt;br /&gt;       Pada tahap pertama dipergunakan metode simak. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik penyadapan dengan teknik lanjutan dengan nonpartisipasi dan teknik pencatatan (Sudaryanto, 1988). Teknik nonpartisipasi berarti peneliti tidak secara langsung berperan aktif sebagai penghasil data dalam penelitian ini, semua data diambil dari sumber tertulis. Teknik pencatatan dipakai untuk mencatat semua kesalahan yang terjadi pada penggunaan bahasa Indonesia ilmiah, baik kesalahan ejaan dan istilah, kata dan kalimat, paragraf, tata tulis, maupun penggunaan kata baku. Pencatatan ini dilakukan pada kartu data yang berukuran 10,5 x 11 cm. Setiap data yang sama dicatat sekali saja agar tidak terjadi kesia-siaan. Dengan demikian, pada akhir pengumpulan data akan diperoleh data yang tersimpan dalam kartu-kartu datayang betul-betul berbeda.&lt;br /&gt;      Tahap kedua, data-data yang terkumpul dikelompokkan sesuai dengan jenis kesalahannya (walaupun terkadang ada yang tumpang tindih/data satu masuk dua kelompok). Hal ini dilakukan untuk membantu kecermatan analisis sehingga memperoleh hasil yang lebih sempurna.&lt;br /&gt;        Tahap ketiga menganalisis data secara mendetil sesuai dengan kesalahan penggunaannya.&lt;br /&gt;       Adapun kartu data yang digunakan untuk pencatatan data berukuran 10,5 x 11 cm. Kartu data ini berfungsi untuk mencatat data penelitian sebelum diklasifikasi. Setiap kartu data hanya digunakan untuk mencatat satu data saja agar memudahkan pengklasifikasiannya. Kartu data yang penulis gunakan dipilah menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap bagian berisi nomor, sumber data, jenis kesalahan, kalimat atau paragraf yang ada kesalahan penggunaan bahasa, analisis, dan pembetulan. Berikut adalah kartu data penelitian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO. DATA SUMBER DATA JENIS KESALAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalimat atau aragraf yang ada kesalahan penggunaan bahasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembetulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4    Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;       Setelah data tersedia dengan baik dalam arti telah disusun dengan rapi dalam kartu data, dikelompokkan sesuai dengan kesalahan aspeknya, baru dilakukan analisis data. Untuk menganalisis data ini digunakan teknik banding, yaitu kesesuaian data dengan aspek-aspek bahasa yang baku, baik dan benar, serta logika penulisan karya ilmiah. Aspek-aspek bahasa ini dianggap salah apabila menyimpang dari kaidah EYD dan logika berbahasa.&lt;br /&gt;3.5   Teknik Penyajian Hasil Analisis Data&lt;br /&gt;      Hasil data analisis kesalahan berbahasa laporan penelitian ilmiah skripsi dan upaya pembenahannya ini disajikan secara informal, yaitu penyajian kaidah-kaidah dengan terminologi yang bersifat teknis, tanpa adanya tanda dan lambang-lambang (Sudaryanto 1993).&lt;br /&gt;     Adapun prosedur kerja dalam penelitian ini adalah berikut ini. Diuraikan urut sesuai dengan langkah yang dilakukan. &lt;br /&gt;a. Menyediakan sumber data,&lt;br /&gt;b. mengumpulkan data dengan berpedoman pada kriteria yang telah ditentukan, yakni kesalahan berbahasa dalam bentuk kalimat atau paragraf,&lt;br /&gt;c. mencatat data dalam kartu data,&lt;br /&gt;d. memberikan tanda dalam setiap data sesuai kesalahan,&lt;br /&gt;e. mengklasifikasi data sesuai dengan jenis kesalahannya,&lt;br /&gt;f. memberikan kode tertentu pada jenis kesalahan yang berbeda,&lt;br /&gt;g. menganalisis dan memaparkan data sesuai dengan kesalahannya,&lt;br /&gt;h. memberikan penjelasan mengapa sebuah penggunaan bahasa mengalami kesalahan,&lt;br /&gt;i. pengadakan pembetulan,&lt;br /&gt;j. memberikan solusi supaya tidak terjadi kesalahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB  IV&lt;br /&gt;ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kesalahan berbahasa yang terjadi pada skripsi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2007/2008 dikategorikan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;4.1 Kesalahan Ejaan dan Istilah&lt;br /&gt;           Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca.&lt;br /&gt;     Kesalahan yang ejaan dan istilah adalah kesalahan yang berkaitan dengan pemakaian ejaan dan istilah. Ejaan pada dasarnya mencakup penulisan huruf, penulisan kata, penulisan singkatan, akronim, angka dan bilangan, serta penggunaan tanda baca. Di samping itu, pelafalan dan peraturan dalam penyerapan unsur asing juga termasuk dalam ejaan (Mustakim, 1992).&lt;br /&gt;  Di dalam bagian ini diuraikan contoh-contoh kesalahan ejaan dan istilah, kemudian diberikan pembetulannya.&lt;br /&gt;(1) Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia dan mempunyai nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.&lt;br /&gt;Kesalahan tanda baca terjadi karena tidak ada tanda , (koma) setelah frasa berakhlak mulia yang merupakan ciri penjabaran dari sumber daya manusia. Penulisan yang benar adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia, dan mempunyai  nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Dan untuk itu pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;• Dan untuk itu, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;(3) Permasalahan yang sering muncul ini sebetulnya juga bersumber dari tidak adanya komunikasi antara orang tua dan klien, karena ternyata orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan.&lt;br /&gt;Dalam bahasa ragam ilmiah harus dihindari penggunaan kata sebetulnya, ternyata yang sekiranya mubazir.&lt;br /&gt;• Permasalahan yang sering muncul ini juga bersumber dari tidak adanya komunikasi antara orang tua dan klien, karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan.&lt;br /&gt;(4) Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya penanganan kasus ini adalah pengenalan karakteristik klien itu sendiri belum difahami secara detil.&lt;br /&gt;Kata itu sendiri sebaiknya dihilangkan. Kata difahami tidak baku, yang baku dipamahi.&lt;br /&gt;• Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya penanganan kasus ini adalah pengenalan karakteristik klien belum dipahami secara detil.&lt;br /&gt;(5) Kasus pemukulan terhadap temannya memang bukan melulu dialami oleh siswi. Namun kondiri ini juga dialami oleh siswa.&lt;br /&gt;Kata melulu tidak baku, yang baku hanya. Di belakang kata sambung namun seharusnya diletakkan tanda , [koma] karena kata itu merupakan kata hubung antarkalimat.&lt;br /&gt;• Kasus pemukulan terhadap temannya memang bukan dialami oleh siswi. Namun, kondiri ini juga dialami oleh siswa.&lt;br /&gt;Kata/frasa hubung yang menghubungkan dua kalimat, dibelakangnya harus diletakkan tanda , [koma) karena merupakan kata hubung antarkalimat.&lt;br /&gt;(6) Klien mengalami banyak hambatan dalam belajarnya. Karena itu perlu penanganan secara mendalam dan menyeluruh.&lt;br /&gt;Kata sambung antarkalimat Karena itu yang benar adalah Oleh karena itu dan di belakang Oleh karena itu harus diberi koma [,]. Jadi pembetulannya adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Klien mengalami banyak hambatan dalam belajarnya. Oleh karena itu, perlu penanganan secara mendalam dan menyeluruh.&lt;br /&gt;Namun demikian, ....&lt;br /&gt;Akan tetapi, ...&lt;br /&gt;Lagi pula, ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;4.2 Kesalahan Kata dan Kalimat&lt;br /&gt;          Kata-kata yang sering salah adalah penggunaan kata yang rancu (tidak logis), kata berimbuhan, kata berimbuhan, gabungan kata, kata ulang, kata depan, partikel, penggalan kata, singkatan, dan akronim.&lt;br /&gt;      Kalimat yang sering salah adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Sebuah kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki unsur subjek dan predikat. Kalimat yang bersubjek umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat (Sugihartuti, 2000).&lt;br /&gt;  Di dalam bagian ini diuraikan contoh-contoh kesaalahan kata dan kalimat, kemudian diberikan pembetulannya.&lt;br /&gt;(1) Menurut Mungin Edi Wibowo (2000: 6) dikatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kalimat ini mengalami banyak kesalahan mulai dari logika berbahasa dalam mengutip pendapat ahli, cara mengutip (seharusnya diambil nama belakang saja), sampai pada tanda berhenti yang menyiksa kalau diujarkan (di belakang kata berikut diberi tanda : [titik dua]) Tanda : [titik dua] ini tidak menunjukkan kesenyapan atau berhenti, sehingga pembaca tidak boleh berhenti sampai kalimat diakhiri dengan tanda . [titik]. Pada hal uraian di belakang tanda : ini masih banyak, kalau demikian apakah pembaca bisa bernafas dengan baik. Oleh karena itu, pembetulan yang seharusnya adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Menurut Wibowo (2000:6) anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini. (dengan ditandai . [titik] di belakang frase berikut ini, maka pembaca akan lebih sesuai dalam mengatur pernafasan, karena titik memang memberikan keleluasaan untuk berhenti).&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Wibowo (2000:6) mengatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini.&lt;br /&gt;(2)  Menurut pendapat Muhammad Surya (1975: 64) menjelaskan bahwa :&lt;br /&gt;     Yang dimaksud studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;Kutipan ini mengalami kejanggalan dalam logika berbahasa dan kesalahan dalam cara mengutip, seharusnya berikut ini.&lt;br /&gt;• Menurut Surya (1975:64) studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Surya (1975:64) menjelaskan bahwa studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Surya (1975:64) berpendapat studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.&lt;br /&gt;(3) Ali Lukman (2001: 180) penerapan adalah proses, cara mempraktekkan. Poerwodarminto (1984: 421) penerapan adalah berkenaan dengan perihal mempraktikkan.&lt;br /&gt;• Lukman (2001:180) menyatakan bahwa penerapan adalah proses, cara mempraktikkan (sic!). Demikian pula, Poerwodarminto (1984:421) menjelaskan bahwa penerapan adalah berkenaan dengan perihal mempraktikkan.&lt;br /&gt;(4) Diperoleh pendapat dari Suharsimi Arikunto (1998: 314) menjelaskan bahwa&lt;br /&gt;        Studi kasus adalah mengumpulkan data yang menyangkut individu atau unit yang dipelajari mengenai gejala yang ada saat dilakukannya penelitian, pengalaman waktu lampau, tingkat kehidupan dan bagaimana faktor-faktor ini berhubungan satu sama lain.&lt;br /&gt;• Arikunto (1998:314) menjelaskan bahwa studi kasus adalah mengumpulkan data yang menyangkut individu atau unit yang dipelajari mengenai gejala yang ada saat dilakukannya penelitian, pengalaman waktu lampau, tingkat kehidupan dan bagaimana faktor-faktor ini berhubungan satu sama lain.&lt;br /&gt;(5) Hubungan antara Minat dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;• Hubungan antara Minat dan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Hubungan Minat  dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD&lt;br /&gt;(6) Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;• Pada peneltian ini digunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.&lt;br /&gt;(7) Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur ialah observasi di mana sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi.&lt;br /&gt;• Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur adalah observasi yang sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi.&lt;br /&gt;(8) Dilihat dari hasil belajar semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;• Hasil belajar semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;(9) Dari data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I  menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;• Data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I  menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.&lt;br /&gt;(10) Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;• Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Data yang diperoleh menunjukkan banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;(11) Tingkah laku manusia banyak dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial untuk memahami, meramalkan, dan mengontrol tingkah laku manusia tersebut.&lt;br /&gt;Kalimat ini sebenarnya terdiri dari dua kalimat yang dijadikan satu sehingga menjadi rancu. &lt;br /&gt;• Tingkah laku manusia banyak dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial. Hal ini dilakukan untuk memahami, meramalkan, dan mengontrol tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;(12) Prinsip condicioning digunakan tidak hanya dalam menyembuhkan gejala-gejala yang sederhana, akan tetapi juga sampai pada tingkah laku yang lebih kompleks, seperti kecemasan, phobia dan psychosis.&lt;br /&gt;Penulisan kata-kata asing yang belum diserap menjadi kata-kata bahasa Indonesia seharusnya ditulis secara miring.&lt;br /&gt;• Prinsip condicioning digunakan tidak hanya dalam menyembuhkan gejala-gejala yang sederhana, akan tetapi juga sampai pada tingkah laku yang lebih kompleks, seperti kecemasan, phobia, dan psychosis.&lt;br /&gt;4.3 Ketidakefektifan Paragraf&lt;br /&gt;      Kalimat yang efektif, pada gilirannya akan menghasilkan paragraf yang efektif. Oleh karena itu, keefektifan kalimat akan memberikan sumbangan besar terhadap kefektifan paragraf. Paragraf yang efektif adalah paragraf yang mengandung kesatuan makna (kohesi) dan kepaduan bentuk (kohensi).&lt;br /&gt;       Paragraf yang berkesatuan makna adalah paragraf yang mengandung satu gagasan utama, yang diikuti oleh beberapa gagasan pengembang atau penjelas. Oleh karena itu, rangkaian kalimatnya hanya mempersoalkan satu gagasan utama.&lt;br /&gt;        Paragraf yang berkepaduan bentuk adalah paragraf yang memperlihatkan kepaduan hubungan antarkalimatnya. Hal ini dapat diketahui dari susunan kalimat yang sistematis, logis, dan mudah dipahami. Kepaduan itu dapat dicapai jika kalimat-kalimatnya terangkai secara baik, misalnya dengan menggunakan sarana pengait kalimat dalam paragraf yang berupa penggantian, pengulangan, penghubungan antarkalimat, atau gabungan dari ketiganya. Di samping itu, kalimat yang berkepaduan sebaiknya tidak berkepanjangan, sehingga idenya mudah untuk dicerna.&lt;br /&gt;      Berikut disajikan kesalahan dalam paragraf beserta pembetulannya.&lt;br /&gt;(1) Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang menunjukkan gejala-gejala yang mengalami kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajarnya rendah disebabkan karena motivasi belajarnya rendah, sehingga hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, siswa tersebut lambat dalam tugas-tugas sehingga siswa sering tidak mengerjakan tugas PR, menunjukkan tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, sering tidak mencatat, bahkan siswa tersebut tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius, jika permasalah tersebut tidak segera diatasi akan mengakibatkan kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas, untuk itu perlu diadakan studi kasus.&lt;br /&gt;Paragraf yang rancu di atas dibenahi menjadi berikut ini.&lt;br /&gt;•              Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang mengalami gejala-gejala kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajar yang rendah. Hal ini disebabkan motivasi belajar siswa yang rendah. Oleh karena itu, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan siswa. Karakteristik siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain: lambat dalam menyelesaikan tugas, sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, dan sering tidak mencatat. Pada kondisi tertentu, bahkan siswa itu tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal-hal tersebut, merupakan masalah yang cukup serius. Apabila permasalah ini tidak segera diatasi, akibatnya akan cukup fatal. Akibat tersebut antara lain kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas.  Berpijak pada paparan di atas, maka siswa yang motivasi belajarnya rendah perlu diberikan bantuan konseling, salah satunya dengan studi kasus.&lt;br /&gt;(2)           Berdasarkan data dalam tabel I di atas, menurut penulis IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya, sehingga IDR perlu mendapatkan perhatian dan bantuan berupa layanan bimbingan dan konseling secara intensif, agar siswa tersebut dapat merubah sikapnya dari tidak sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.&lt;br /&gt;•           Berdasarkan data di atas, IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dan bantuan yang semestinya. Salah satu bantuan itu adalah layanan bimbingan dan konseling secara intensif. Dengan layanan ini diharapkan siswa tersebut dapat mengubah (sic!) sikapnya dari tidak sungguh-sungguh menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar. Muaranya, siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.&lt;br /&gt;(3)           Berdasarkan tabel 4 di atas, menurut penulis klien IDR memang tidak mendapat perhatian orang tua dalam belajar di samping faktor sarana dan prasarana yang kurang mendukung sehingga konselor perlu memberikan pengertian kepada klien agar tetap rajin belajar walau keadaan orang tua yang serba kekurangan.&lt;br /&gt;Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.&lt;br /&gt;•           Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat disimpulkan bahwa klien IDR memang tidak mendapat perhatian orang tua dalam belajar.  Di samping itu,  faktor sarana dan prasarana juga kurang mendukung. Perilaku orang tua yang demikian disebabkan oleh keadaan orang tua yang serba kekurangan. Walaupun demikian, konselor perlu memberikan pengertian kepada klien agar tetap rajin belajar.&lt;br /&gt;(4)          Dilihat dari hasil rapornya semester I menunjukkan bahwa klien (AMD) mendapat ranking 13 dari 14 siswa dengan jumlah nilai 506 dari 9 mata pelajaran dengan nilai rata-rata 56. tidak masuk karena sakit 2, ijin 2, tanpa ijin 0. berkelakuan baik, kerajinan baik, dan kerapian baik. Dari daftar nilai menunjukkan bahwa tugas-tugas yang diberikan guru pelajaran rumah tidak dikerjakan dengan baik.&lt;br /&gt;Paragraf ini mengalami banyak kesalahan berbahasa, mulai dari penyusunan kalimat, kelengkapan unsur kalimat, sampai kata-kata tidak baku.  Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien dengan kata-kata yang baku untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.&lt;br /&gt;•            Hasil rapor semester I klien ini menunjukkan bahwa siswa (AMD) mendapat ranking 13 dari 14 siswa. Nilai yang diperoleh sejumlah 506 dari 9 mata pelajaran, sehingga nilai rata-ratanya 56. Kehadiran siswa selama satu semester tidak masuk karena sakit dua hari, izin dua hari, dan tidak pernah tanpa izin. Siswa ini berkelakuan baik, kerajinan baik, dan kerapian baik. Daftar nilai menunjukkan bahwa tugas-tugas rumah yang diberikan guru pelajaran tidak dikerjakan dengan baik.&lt;br /&gt;5)           Berpijak pada paparan di atas penulis menyimpulkan bahwa masalah malas belajar di kelas V SD 5 Bae merupakan suatu kasus yang harus segera ditangani, karena kalau tidak, bisa menghambat keberhasilan dalam belajarnya. Cara penangannya adalah dengan cara studi kasus.&lt;br /&gt;        Maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar Di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007”.&lt;br /&gt;Paragraf di atas seharusnya hanya satu paragraf saja, karena kedua paragraf di atas mendukung satu pikiran utama. Di samping itu, ada juga beberapa kesalahan. Pembetulannya adalah berikut ini.&lt;br /&gt;•           Berpijak pada paparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa masalah malas belajar di kelas V SD 5 Bae merupakan suatu kasus yang harus segera ditangani. Oleh karena, apabila tidak segera ditangani akan menghambat keberhasilan dalam belajar. Salah satu cara penangannya adalah dengan studi kasus. Bertitik tolak dari kenyataan inilah, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007.&lt;br /&gt;6)         Berpijak pada judul penelitian “Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar Di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007” maka dalam pembahasan ini peneliti mengungkap upaya-upaya konselor menggunakan pendekatan behavior dalam menangani masalah malas belajar siswa kelas V di SD 5 Bae.&lt;br /&gt;Paragraf di atas terdapat beberapa kesalahan, pembetulannya sebagai berikut.&lt;br /&gt;•         Berpijak pada judul penelitian Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007, maka dalam pembahasan ini peneliti berusaha mengungkap upaya-upaya konselor menggunakan pendekatan behavior dalam menangani masalah malas belajar siswa kelas V di SD 5 Bae.&lt;br /&gt;7)            Studi kasus dalam penelitian ini dikandung maksud suatu teknik untuk mempelajari keadaan siswa kelas V di SD 5 Bae secara mendalam baik fisik maupun psikis untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi yaitu malas belajar supaya lebih rajin belajar dengan penerapan model konseling behavior.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;•       Pada penelitian ini, studi kasus adalah suatu teknik untuk mempelajari keadaan siswa kelas V di SD 5 Bae secara mendalam baik fisik maupun psikis. Hal ini dilakukan untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi klien yaitu malas belajar. Metode yang diterapkan adalah model konseling behavior dengan tujuan mengubak perilaku malas belajar menjadi rajin belajar.&lt;br /&gt;8) Menurut Nasution (1993:44) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupan yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenal masa ini sebagai “masa sekolah” oleh karena pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Tetapi bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah. Disebut masa sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Disebut masa matang untuk belajar karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitas itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan di sekolah. Dalam masa usia sekolah ini, anak sudah siap menjelajahi lingkungannya. Ia tak puas lagi sebagai penonton saja, ia ingin mengetahui lingkungannya, tata kerjanya, bagaimana perasaan-perasaan, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.&lt;br /&gt;pembetulannya  &lt;br /&gt;•           Nasution (1993:44) menjelaskan bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupan yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenal masa ini sebagai masa sekolah. Oleh karena, pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Akan tetapi, bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah.&lt;br /&gt;           Anak usia ini disebut masa sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Masa ini disebut masa matang untuk belajar karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitas itu sendiri. Demikian juga, usia ini disebut disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan di sekolah. Dalam masa usia sekolah ini, anak sudah siap menjelajahi lingkungannya. Ia tak puas lagi sebagai penonton saja, ia ingin mengetahui lingkungannya, tata kerjanya, bagaimana perasaan-perasaan, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.&lt;br /&gt;4.4 Kesalahan Tata Tulis&lt;br /&gt;     Kesalahan tata tulis menyangkut kesalahan yang terdapat pada penulisan baku, misalnya: seharusnya tidak menggunakan tanda petik, ditulis diberi tanda petik; seharusnya tidak huruf besar semua, ternyata ditulis huruf besar semua; seharusnya awal kata yang menggunakan huruf besar selain kata aspek/konjungsi, ditulis semua awal kata dengan huruf besar semua, dan sebagainya.&lt;br /&gt;(1) Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti melihat dan memperhatikan.&lt;br /&gt;(2) Korelasi Antara Pola Asuh Orang Tua Dengan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007&lt;br /&gt;Penulisan judul /subjudul atau bab/subbab yang menggunakan huruf kapital setiap awal kata tidak berlaku untuk kata aspek dan konjungsi. Pada judul di atas terdapat dua kata yang berupa konjungsi yaitu antara dan dan, sehingga kedua kata tersebut tidak diawali dengan huruf besar.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• Korelasi antara Pola Asuh Orang Tua dan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Korelasi Pola Asuh Orang Tua dengan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007&lt;br /&gt;(3) Approach Model&lt;br /&gt;                Behavior Model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;Penggunaan kata asing yang belum diakui menjadi bagian dari bahasa Indonesia harus ditulis cetak miring.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• Approach Model&lt;br /&gt;                Behavior model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;(4) Siswa yang bernama AMD berusia 10 tahun adalah anak stu-satunya dari keluarga Bapak Sujarwadi dan Ibu Yayuk.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;     stu-satunya  (salah ketik)  - seharusnya satu-satunya&lt;br /&gt;• Siswa yang bernama AMD berusia 10 tahun adalah anak satu-satunya dari keluarga Bapak Sujarwadi dan Ibu Yayuk.&lt;br /&gt;(5) Klien ini ternyat mengalami gangguan mental yang cukup serius karena jarangnya bertemu dengan orang tua.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;ternyat     (salah ketik )  -  seharusnya  ternyata&lt;br /&gt;• Klien ini ternyata mengalami gangguan mental yang cukup serius karena jarangnya bertemu dengan orang tua.&lt;br /&gt;(6) AMD adlah klien yang mengalami hambatan dalam belajar matematika, IPA, dan IPS.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;adlah     (salah ketik)     -  seharusnya  adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  AMD adalah klien yang mengalami hambatan dalam belajar matematika, IPA, dan IPS.&lt;br /&gt;Beberapa kesalahan akibat salat ketik seharusnya tidak boleh terjadi. Walaupun direntalkan, tanggung jawab kebenaran karya ilmiah tetap pada mahasiswa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;4.5 Kesalahan Penggunaan Kata Baku&lt;br /&gt;      Kesalahan penggunaan kata baku adalah kesalahan yang menyangkut penggunaan kata secara tidak baku, baik terletak pada kesalahan ejaan, penulisan huruf, penulisan unsur serapan, kata, maupun frasa. Berikut dipaparkan kesalahan penulisan kata baku secara khusus beserta pembetulannya.&lt;br /&gt;(1) Ketiadaan minat terhadap pelajaran yang diberikan guru menjadi pangkal penyebab kenapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• tiada      (tidak baku)    -  tidak ada (baku)&lt;br /&gt;• kenapa  (tidak baku)    -  mengapa (baku)&lt;br /&gt;• Tidak adanya minat terhadap pelajaran yang diberikan guru menjadi pangkal penyebab mengapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.&lt;br /&gt;(2) Studi kasus adalah suatu studi atau analisa yang komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik, bahan dan alat mengenali gejala atau ciri.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Analisa (tidak baku)  -   analisis (baku)&lt;br /&gt;• Studi kasus adalah suatu studi atau analisis yang komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik, bahan dan alat mengenali gejala atau ciri.&lt;br /&gt;(3) Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk merubah sifat malas belajarnya agar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.&lt;br /&gt;pembetulan&lt;br /&gt;• merubah (tidak baku)   -  mengubah (baku)&lt;br /&gt;Kata merubah bukan termasuk kata baku. Kata ini berasal dari bentuk dasar ubah bukan rubah, mendapatkan afiks meng- sehingga menjadi mengubah.&lt;br /&gt;• Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk mengubah sifat siswa yang malas belajar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.&lt;br /&gt;(4) Berdasarkan dari informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• berdasarkan dari (tidak baku) -  berdasarkan ... (baku)&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, (selanjutnya) konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.&lt;br /&gt;(5) Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang adalah disebabkan oleh proses belajar yang salah.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• adalah disebabkan  (tidak baku)  -  disebabkan  (baku)&lt;br /&gt;• Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang disebabkan oleh proses belajar yang salah.&lt;br /&gt;(6) Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya adalah merupakan pertangungan jawab konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• adalah merupakan  (tidak baku)  -  adalah  (baku)&lt;br /&gt;• adalah merupakan (tidak baku)   -  merupakan (baku)&lt;br /&gt;• pertanggungan jawab (tidak baku  - pertanggungjawaban (baku)&lt;br /&gt;Jadi kalimat yang betul adalah berikut ini.&lt;br /&gt;• Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya adalah bentuk pertangungjawaban konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;• Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya merupakan bentuk pertangungjawaban konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.&lt;br /&gt;(7) Apabila pengamat tidak mengambil bagian sama sekali dalam kegiatan orang atau objek yang diobservasi, maka observasi itu disebut observasi non partisipatif.&lt;br /&gt;pembetulannya     &lt;br /&gt;• non partisipatif  (tidak baku)  -  nonpartisipatif  (baku)&lt;br /&gt;• Apabila pengamat tidak mengambil bagian sama sekali dalam kegiatan orang atau objek yang diobservasi, maka observasi itu disebut observasi nonpartisipatif.&lt;br /&gt;(8) Apabila dalam suatu observasi tidak terdapat sistematika struktur kategori itu, observasi itu disebut observasi non sistematik.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• non sistematis  (tidak baku)  -  nonsistematis  (baku)&lt;br /&gt;• Apabila dalam suatu observasi tidak terdapat sistematika struktur kategori, observasi itu disebut observasi nonsistematik.&lt;br /&gt;(9) Suatu wawancara disebut wawancara tak terpimpin, unguided atau non-directive, jika jalan tanya jawab dikuasai oleh mood, keinginan, dan kecenderungan orang yang diwawancarai, tanpa dikendalikan oleh suatu pedoman yang telah dipersiapkan lebih dahulu oleh pihak pewawancara.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• tak terpimpin  (tidak baku)  -  takterpimpin (baku)&lt;br /&gt;• non-directive  (tidak baku)   -  nondirektif (baku)&lt;br /&gt;direktif sudah diakui menjadi bagian dari bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;• Suatu wawancara disebut wawancara takterpimpin, unguided atau nondirektif, jika jalan tanya jawab dikuasai oleh mood, keinginan, dan kecenderungan orang yang diwawancarai, tanpa dikendalikan oleh suatu pedoman yang telah dipersiapkan lebih dahulu oleh pihak pewawancara.&lt;br /&gt;(10) Secara materiil, guru pembimbing mengasah kompetensi akademik melalui musyawarah guru pembimbing kabupaten, sedangkan secara strukturil mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya kepada kepala sekolah masing-masing.&lt;br /&gt;pembetulannya &lt;br /&gt;semua kata pungut asing yang berasal dari bahasa Inggris, penulisannya sedapat mungkin mendekati bahasa aslinya.&lt;br /&gt;• materiil  (tidak baku)  -  material   (baku)&lt;br /&gt;• strukturil  (tidak baku)   -  struktural  (baku)&lt;br /&gt;• Secara material, guru pembimbing mengasah kompetensi akademik melalui musyawarah guru pembimbing kabupaten, sedangkan secara struktural mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya kepada kepala sekolah masing-masing.&lt;br /&gt;(11) Klien SDM kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, karena orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan antar kota, kadang-kadang bahkan antar pulau.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• antar kota  (tidak baku)  -  antarkota (baku)&lt;br /&gt;• antar pulau (tidak baku)  -  antarpulau  (baku)&lt;br /&gt;• Klien SDM kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, karena orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan antarkota, kadang-kadang bahkan antarpulau.&lt;br /&gt;(12) Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 03 Demaan Kudus Tahun Pelajaran 2007/2008.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• subyek (tidak baku)   -  subjek   (baku)&lt;br /&gt;• Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 03 Demaan Kudus Tahun Pelajaran 2007/2008.&lt;br /&gt;(13) Data-data yang terkumpul tetapi kurang bermanfaat untuk mendukung hasil penelitian ini akan dieliminir. Hal ini dilakukan agar data-data yang digunakan dalam penelitian ini betul-betul yang berkait dengan materi penelitian.&lt;br /&gt;pembetulannya&lt;br /&gt;• eliminir (tidak baku)   - eliminasi (baku)&lt;br /&gt;• Data-data yang terkumpul tetapi kurang bermanfaat untuk mendukung hasil penelitian ini akan dieliminasi. Hal ini dilakukan agar data-data yang digunakan dalam penelitian ini betul-betul yang berkait dengan materi penelitian.&lt;br /&gt;(14) sub judul  (tidak baku)  -  subjudul (baku)&lt;br /&gt;(15) sub bab  (tidak baku)   -  subbab   (baku)&lt;br /&gt;(16) legalisir  (tidak baku)   - dilegalisasi (baku)&lt;br /&gt;(17) dikoordinir  (tidak baku)   -  dikoordinasi  (baku)&lt;br /&gt;(18) agro bisnis (tidak baku)   -   agrobisnis  (baku)&lt;br /&gt;(19) lantas  (tidak baku)      - lalu, kemudian   (baku)&lt;br /&gt;(20) IP komulatif  (tidak baku)  - IP kumulatif  (baku)&lt;br /&gt;(21) cuma   (tidak baku)  - hanya   (baku)&lt;br /&gt;(22) jaman  (tidak baku)  -  zaman  (baku)&lt;br /&gt;(23) Senen   (tidak baku)  - Senin  (baku)&lt;br /&gt;(24) obyek  (tidak baku)  -  objek  (baku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB   V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;5.1 Simpulan&lt;br /&gt;        Kesalahan berbahasa yang terjadi pada skripsi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2007/2008 dikategorikan menjadi lima kelompok.&lt;br /&gt;(1) Kesalahan ejaan dan istilah.&lt;br /&gt;(2) Kesalahan kata dan kalimat.&lt;br /&gt;(3) Ketidakefektifan paragraf.&lt;br /&gt;(4) Kesalahan tata tulis.&lt;br /&gt;(5) Kesalahan penggunaan kata baku.&lt;br /&gt;Kesalahan yang ejaan dan istilah adalah kesalahan yang berkaitan dengan pemakaian ejaan dan istilah. Ejaan pada dasarnya mencakup penulisan huruf, penulisan kata, penulisan singkatan, akronim, angka dan bilangan, serta penggunaan tanda baca.  Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan ejaan berupa kesalahan penggunaan tanda baca,  huruf kapital, penggunaan kata yang mubazir, dan pemakaian kata yang tidak baku.&lt;br /&gt;            Kesalahan kata adalah penggunaan kata yang rancu (tidak logis), kata berimbuhan, kata berimbuhan, gabungan kata, kata ulang, kata depan, partikel, penggalan kata, singkatan, dan akronim. Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan penggunaan kata, misalnya: penggunaan kata tidak baku (mempraktekkan seharusnya mempraktikkan), penggunaan kata semakna yang berlebihan (sangat penting sekali seharusnya sangat penting atau penting sekali), penggunaan frase yang tidak tepat (hubungan antara ... dengan ... seharusnya hubungan antara ... dan ..., atau hubungan ... dengan ...).&lt;br /&gt;      Kesalahan kalimat adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Sebuah kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki unsur subjek dan predikat. Kalimat yang bersubjek umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat. Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan kalimat, misalnya: kalimat mengalami banyak kesalahan mulai dari logika berbahasa dalam mengutip pendapat ahli, cara mengutip (seharusnya diambil nama belakang saja), sampai pada tanda berhenti yang menyiksa kalau diujarkan (di belakang kata berikut diberi tanda : [titik dua]). Tanda : [titik dua] ini tidak menunjukkan kesenyapan atau berhenti, sehingga pembaca tidak boleh berhenti sampai kalimat diakhiri dengan tanda . [titik]. Pada hal uraian di belakang tanda : ini masih banyak, kalau demikian apakah pembaca bisa bernafas dengan baik.&lt;br /&gt;   Kalimat yang efektif, pada gilirannya akan menghasilkan paragraf yang efektif. Oleh karena itu, keefektifan kalimat akan memberikan sumbangan besar terhadap kefektifan paragraf. Paragraf yang efektif adalah paragraf yang mengandung kesatuan makna (kohesi) dan kepaduan bentuk (kohensi). Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan yang berupa penyusunan paragraf yang tidak efektif dan sulit untuk dipahami. Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami.&lt;br /&gt;          Kesalahan tata tulis menyangkut kesalahan yang terdapat pada penulisan baku, misalnya: seharusnya tidak menggunakan tanda petik, ditulis diberi tanda petik; seharusnya tidak huruf besar semua, ternyata ditulis huruf besar semua; seharusnya awal kata yang menggunakan huruf besar selain kata aspek/konjungsi, ditulis semua awal kata dengan huruf besar semua, dan sebagainya.&lt;br /&gt;          Kesalahan penggunaan kata baku adalah kesalahan yang menyangkut penggunaan kata secara tidak baku, baik terletak pada kesalahan ejaan, penulisan huruf, penulisan unsur serapan, kata, maupun frasa.&lt;br /&gt;5.2  Saran&lt;br /&gt;            Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kesalahan. Kesalahan itu berupa kesalahan ejaan dan istilah, kesalahan penggunaan kata dan kalimat, kesalahan tata tulis, ketidakefektifan paragraf, dan penggunaan kata tidak baku. Berkait dengan tidak sedikitnya kesalahan tersebut, penulis menyarankan beberapa hal berikut ini.&lt;br /&gt;1. Mahasiswa diharapkan lebih sungguh-sungguh berlatih menulis karya ilmiah. Kesalahan adalah hal yang wajar sebagai seorang pemula. Namun, apabila diikuti kesungguhan, lambat laun akan berkembang dengan baik.&lt;br /&gt;2. Para dosen pembimbing diharapkan memperhatikan tulisan skripsi mahasiswa, baik dari segi bahasa, logika bahasa, keefektifan penulisan kalimat, kohesi dan koherensi paragraf maupun wacana keseluruhan,  menggunakan kata baku, ejaan, maupun kesalahan penulisan.&lt;br /&gt;3. Perlu adanya metode baru dalam pembelajaran menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis ilmiah mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Alwi, Hasan, dkk. 1996. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;.Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Moeliono, Anton, Ed. 1988 a. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia.&lt;/span&gt; Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moeliono, Anton, Ed. 1988 b. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesi&lt;/span&gt;a. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Mustakim. 1992. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum&lt;/span&gt;. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudaryanto. 1993. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metode Linguistik&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.&lt;br /&gt;Sudaryanto. 1993. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metode dan Aneka Teknik Analisis Data Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.&lt;br /&gt;Poerwodarminto, W J S. 1876. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Ramlan, M. 1993. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paragraf: Alur Berpikir dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Andi Offset.&lt;br /&gt;Sugihastuti. 2000. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahasa Laporan Penelitian&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarigan, H.G. 1985.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia&lt;/span&gt;. Bandung: Angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarigan, H.G. 1991. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa Indonesia&lt;/span&gt;. Bandung: Angkasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1960317582893622213?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1960317582893622213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/07/kesalahan-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1960317582893622213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1960317582893622213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/07/kesalahan-bahasa.html' title='Kesalahan Bahasa'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1225488135513030829</id><published>2010-02-25T04:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T04:14:29.621-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://fisika.co.nr"&gt;fisika Man1&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1225488135513030829?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1225488135513030829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/fisika-man1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1225488135513030829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1225488135513030829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/fisika-man1.html' title=''/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-2251777364456270340</id><published>2010-02-03T16:34:00.000-08:00</published><updated>2011-03-24T16:16:27.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='linguistics'/><title type='text'>MONOGENESIS</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In &lt;a title="Linguistics" href="/wiki/Linguistics"&gt;linguistics&lt;/a&gt;,  &lt;b&gt;monogenesis&lt;/b&gt; refers to the thesis that all spoken human languages are  descended from a single ancestral language spoken many thousands of years ago in  the &lt;a title="Paleolithic" href="/wiki/Paleolithic"&gt;Paleolithic&lt;/a&gt; or Old Stone  Age.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The first serious scientific attempt to establish the reality of monogenesis  was that of &lt;a title="Alfredo Trombetti" href="/wiki/Alfredo_Trombetti"&gt;Alfredo  Trombetti&lt;/a&gt;, an accomplished Italian linguist, in his book &lt;i&gt;L'unità  d'origine del linguaggio&lt;/i&gt;, published in 1905 (cf. Ruhlen 1994:263). Trombetti  estimated that the common ancestor of existing languages had been spoken between  100,000 and 200,000 years ago (1922:315).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The best-known supporter of monogenesis in America in the mid-20th century  was &lt;a title="Morris Swadesh" href="/wiki/Morris_Swadesh"&gt;Morris Swadesh&lt;/a&gt;  (cf. Ruhlen 1994:215). He pioneered two important methods for investigating deep  relationships between languages, &lt;a title="Lexicostatistics" href="/wiki/Lexicostatistics"&gt;lexicostatistics&lt;/a&gt; and &lt;a title="Glottochronology" href="/wiki/Glottochronology"&gt;glottochronology&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;In the second half of the 20th century, &lt;a title="Joseph Greenberg" href="/wiki/Joseph_Greenberg"&gt;Joseph Greenberg&lt;/a&gt; produced a series of  large-scale classifications of the world's languages. These were and are  controversial but widely discussed. Although Greenberg did not produce an  explicit argument for monogenesis, all of his classification work was geared  toward this end. As he stated (1987:337): "The ultimate goal is a comprehensive  classification of what is very likely a single language family."&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Three well-known living advocates of monogenesis are &lt;a title="Merritt Ruhlen" href="/wiki/Merritt_Ruhlen"&gt;Merritt Ruhlen&lt;/a&gt;, &lt;a title="John Bengtson" href="/wiki/John_Bengtson"&gt;John Bengtson&lt;/a&gt;, and &lt;a title="Harold C. Fleming" href="/wiki/Harold_C._Fleming"&gt;Harold Fleming&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Monogenesis was dismissed by many linguists in the late 19th and early 20th  centuries, when the doctrine of the &lt;a class="mw-redirect" title="Polygenesis" href="/wiki/Polygenesis"&gt;polygenesis&lt;/a&gt; of the human races &lt;a title="Polygenesis (linguistics)" href="/wiki/Polygenesis_%28linguistics%29"&gt;and  their languages&lt;/a&gt; held the ascendancy (e.g. Saussure 1986/1916:190). It is  scarcely more popular today.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;However, in the opinion of many scientists in other fields, such as &lt;a title="Richard Klein (paleoanthropologist)" href="/wiki/Richard_Klein_%28paleoanthropologist%29"&gt;Richard Klein&lt;/a&gt; in  paleoanthropology (see &lt;a title="Origin of language" href="/wiki/Origin_of_language"&gt;glottogony&lt;/a&gt;), the ability to produce complex  speech only developed some 50,000 years ago (with the appearance of modern man  or Cro-Magnon man). Thus, if all recent human populations on Earth (including,  for example, Australians, appearing 40,000 - 50,000 years before the present)  stem from a single &lt;a title="Recent African origin of modern humans" href="/wiki/Recent_African_origin_of_modern_humans"&gt;out-of-Africa migration&lt;/a&gt;,  linguistic monogenesis becomes a conceivable hypothesis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The difficulty lies in the time depth, which is far beyond what linguists can  trace back today (e.g. 6,000 - 9,000 years in the case of &lt;a title="Proto-Indo-European Urheimat hypotheses" href="/wiki/Proto-Indo-European_Urheimat_hypotheses"&gt;Indo-European&lt;/a&gt; and 7,000  - 10,000 years in the case of &lt;a title="Afroasiatic languages" href="/wiki/Afroasiatic_languages#Original_homeland_and_date"&gt;Afroasiatic&lt;/a&gt;).  Some linguists (e.g. Trombetti and, more recently, Ruhlen 1994) claim that this  difficulty can be overcome. Methods proposed include simultaneous comparison of  a greater number of languages to increase the data sample and pyramiding &lt;a title="Linguistic reconstruction" href="/wiki/Linguistic_reconstruction"&gt;reconstructed&lt;/a&gt; &lt;a title="Proto-language" href="/wiki/Proto-language"&gt;proto-languages&lt;/a&gt; on top of each other to reach  their common source (cf. Babaev 2008).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-2251777364456270340?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/2251777364456270340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/monogenesis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2251777364456270340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2251777364456270340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/monogenesis.html' title='MONOGENESIS'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-1272742624942973896</id><published>2010-02-03T04:03:00.001-08:00</published><updated>2010-02-03T04:07:52.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengingat Firman Allah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S2lmkP3vIDI/AAAAAAAAACQ/YWJREECX0FM/s1600-h/12102008826.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S2lmkP3vIDI/AAAAAAAAACQ/YWJREECX0FM/s200/12102008826.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433987198320844850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.( Q.S 14 : 21, 22 )&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-1272742624942973896?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/1272742624942973896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/dan-mereka-semuanya-di-padang-mahsyar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1272742624942973896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/1272742624942973896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/02/dan-mereka-semuanya-di-padang-mahsyar.html' title=''/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S2lmkP3vIDI/AAAAAAAAACQ/YWJREECX0FM/s72-c/12102008826.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-8073641300682949576</id><published>2010-01-30T04:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-30T04:36:02.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengingat Firman Allah'/><title type='text'>Akankah Kita Ingat Kisah Unta Nabi Shaleh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi shaleh adalah seorang nabi yang diberi mu'jizat dengan munculnya unta betina dari batu. Kaum Nabi Shaleh diminta memberi minum kepada unta tersebut tetapi mereka menghalangi unta tersebut mendekati mata air, bahkan mereka membunuhnya. Boleh jadi di jaman sekarang ada tanda-tanda seperti unta nabi Shaleh dan kita telah memusnahkannya sehingga gempa sering kali muncul.&lt;br /&gt;Pada kehidupan yang masih sangat tradisional mu'jizat berupa benda-benda yang dapat di jamah oleh indera kita. Boleh jadi pada kehidupan modern sekarang ini kita tidak menemukan mu"jizat serupa itu, karena mu'jizat sekarang berupa Al Quran yang di dalamnya terkandung banyak ilmu. Kita telah mengambil banyak ilmu dari Al Quran namun kita telah menyalahgunakan ilmu itu untuk merusak manusia dan alam. Maka berlakulah hukum Allah seperti yang telah ditimpakan kepada kaum Nabi Shaleh dalam petikan tiga ayat berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;73. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia  berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu  selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu.  Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi  Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya)  kamu akan ditimpa siksaan yang pedih."( Al A'Raaf : 73 )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;77. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap  perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu  ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus  (Allah)." ( Al A'Raaf : 77 )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;78. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang  bergelimpangan di tempat tinggal mereka. ( Al Araaf : 78 )&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-8073641300682949576?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/8073641300682949576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/01/akankah-kita-ingat-kisah-unta-nabi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8073641300682949576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/8073641300682949576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/01/akankah-kita-ingat-kisah-unta-nabi.html' title='Akankah Kita Ingat Kisah Unta Nabi Shaleh'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-2552840080360957377</id><published>2010-01-19T05:03:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T03:06:14.741-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S1baeaS220I/AAAAAAAAAB4/LjTiUofn38M/s1600-h/14042009989-001.jpg"&gt;Kembang Wijaya Kusuma&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S1WunZxN-cI/AAAAAAAAABY/0-vm5X_MGRw/s1600-h/14042009989-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S1WunZxN-cI/AAAAAAAAABY/0-vm5X_MGRw/s200/14042009989-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428436917820455362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-2552840080360957377?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/2552840080360957377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/01/kembang-wijaya-kusuma.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2552840080360957377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/2552840080360957377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2010/01/kembang-wijaya-kusuma.html' title=''/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_YehRDEKiifs/S1WunZxN-cI/AAAAAAAAABY/0-vm5X_MGRw/s72-c/14042009989-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5882769572419327265.post-4458514037557617002</id><published>2009-04-20T18:41:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T18:30:25.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual Quotion'/><title type='text'>Memberi Makna pada Keikhlasan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ikhlas berarti hanya tertuju kepadaa Alloh. Artinya ketika kita melakukan sesuatu maka kita niatkan bahwa apa yang kita lakukan adalah memang perintah dari Alloh, sesuai dengan apa yang dikehendaki Alloh dan memliki tujuan untuk mencari ridlo Alloh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita akan merasa ringan dalam melaksanakan tugas, kegiatan maupun pekerjaan apabila dilandasi oleh rasa ikhlas. Kita juga tidak akan merasa bersalah, bangga ataupun kecewa ketika kita melihat hasil pekerjaan kita. Karena ikhlas hakekatnya kita melaksanakan segala sesuatu berdasarkan apa yang dikehendaki oleh Alloh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5882769572419327265-4458514037557617002?l=ratnokalput.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratnokalput.blogspot.com/feeds/4458514037557617002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2009/04/memberi-makna-pada-keikhlasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/4458514037557617002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5882769572419327265/posts/default/4458514037557617002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratnokalput.blogspot.com/2009/04/memberi-makna-pada-keikhlasan.html' title='Memberi Makna pada Keikhlasan'/><author><name>Suratno nano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02683563573948980410</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-AR13RchSFko/TbFqwem_QvI/AAAAAAAAAH4/BHn1T5ZLoWU/s220/lat%2B1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
