TATA CARA BERDOA

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Sabtu, 03 Juli 2010

Kesalahan Bahasa


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Laporan penelitian karya ilmiah skripsi merupakan karya ilmiah yang menjadi salah satu muara akhir persyaratan menjadi seorang sarjana [baca: ilmuwan]. Istilah karya ilmiah mengacu pada karya tulis yang penyusunannya didasarkan pada kajian ilmiah. Sebagai salah satu pembimbing penulisan skripsi mahasiswa, setiap saat penulis selalu menemukan aneka kesalahan berbahasa para mahasiswa kita. Kesalahan-kesalahan itu antara lain, menyangkut masalah ejaan dan tanda baca, kata dan frase, kalimat dan paragraf, teknik penulisan ilmiah, serta tidak jarang masalah pertalian bentuk dan makna. Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kerumpangan, misalnya tidak tepat penulisan huruf dan tanda bacanya, tidak lengkap kata dan frasenya, tidak efektif kalimatnya, dan tidak logis paragrafnya. Ada dua kecenderungan, mengapa para mahasiswa melakukan kesalahan dalam berbahasa. Pertama, rupa-rupanya mereka kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh para pembaca. Kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah.
Kenyataan adanya dua kecenderungan berkait dengan bahasa penulisan karya ilmiah ini, maka perlu adanya terapi yang berbeda. Berkait dengan sikap pertama, maka penulis merasa perlu untuk memberikan penjelasan mendalam betapa pentingnya bahasa yang baik dan benar menurut kaidahnya. Para penyusun laporan yang berorientasi yang penting laporan penelitiannya secara keseluruhan dapat dipahami pembaca, bisa jadi memang tidak masalah apabila pembaca berasal dari daerah yang serumpun, misalnya sesama oarang Jawa Tengah, sesama orang Sunda, sesama orang Betawi. Akan tetapi, hal ini akan menjadi kendala apabila pembaca berasal dari budaya lokal yang berbeda. Oleh karena bahasa yang tidak dikendalikan dengan teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia benar, maupun logika berbahasa ilmiah akan mudah terinterferensi oleh bahasa daerah setempat, dialek tertentu, maupun idiolek perorangan. Dampaknya, masyarakat dari budaya daerah lain yang berbahasa Indonesia yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini akan mengalami ambiguitas, kebiasan, bahkan dapat menyebabkan salah tafsir. Pada hal perlu kita ketahui bahwa pengguna bahasa Indonesia tidak hanya berasal dari satu rumpun. Betapa runyamnya, apabila semua masyarakat daerah itu berbahasa tanpa kaidah bersama. Inilah mengapa penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan ragamnya penting untuk dilaksanakan bersama.
Kecenderungan kedua, ada tanda-tanda nyata bahwa para mahasiswa kurang menguasai teknik tata tulis laporan karya ilmiah, tata bahasa Indonesia, maupun logika berbahasa ilmiah. Hal ini perlu diungkap dan dianalisis secara mendalam agar para mahasiswa mengetahui letak kesalahannya. Setelah permasalahan ditemukan barulah solusi diberikan, baik melalui perkuliahan maupun melalui ajang-ajang diskusi lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Pokok bahasan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa laporan penelitian ilmiah Skripsi dan upaya pembenahannya. Agar masalah yang dibahas dapat teridentifikasi dengan jelas dan terfokus, maka yang dimaksud laporan penelitian ilmiah skripsi dalam penelitian ini adalah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UMK yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Analisis kesalahan yang dilakukan akan meliputi seluruh unsur bahasa, sehingga secara integral dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, masalah pokok yang diajukan adalah berikut ini.
1. Mengapa terjadi kecenderungan mahasiswa kurang peduli terhadap bahasa laporan penelitian ilmiah skripsi sehingga menganggap angin lalu, yang penting laporan penelitian secara keseluruhan dapat dipahami oleh para pembaca?
2. Aspek-aspek bahasa yang manakah yang mengalami kesalahan dalam bahasa penulisan karya ilmiah skrispsi ini?
3. Bagaimanakah pembetulan aspek-aspek bahasa yang mengalami kesalahan dalam bahasa penulisan karya ilmiah skripsi ini?
4. Upaya-upaya apakah sajakah yang peneliti lakukan agar kesalahan berbahasa laporan penelitian skrispsi mahasiswa ini semakin terinduksi?


1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan aspek-aspek bahasa laporan penelitian ilmiah yang mengalami kesalahan. Hal ini perlu ditemukan agar dapat dianalis secara mendalam, sehingga lebih mudah untuk membahasanya. Selanjutnya diupayakan bagaimana penulisan yang benar tentang kaidah tata tulis dan logika berbahasa.
Sejalan dengan tujuan itu, penelitian ini terbatas pada laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Cakupan penelitian ini dibatasi hanya pada skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling, dimaksudkan agar penelitian dapat mendalam, spesifik, dan tuntas. Di samping itu, tentu karena keterbatasan waktu dan dana yang ada.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menguak dan menyingkap kesalahan berbahasa dalam laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang kenyataan hasil tulisan ilmiah mahasiswa sehingga akhirnya dapat dilakukan pembenahan dan perbaikan.
Di samping itu, juga dapat menjelaskan secara ilmiah aspek-aspek bahasa yang manakah yang mengalami kesalahan. Oleh karena itu, selanjutnya dapat dianalisis secara mendalam terhadap kesalahan itu untuk dapat dilakukan pembetulan-pembetulan. Upaya untuk memperbaiki bahasa karya ilmiah harus selalu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar para mahasiswa yang selama ini merasa kesulitan bahkan ketakutan menulis karya ilmiah menjadi tidak takut lagi. Bahkan sebisa mungkin dapat berubah menjadi menyenangi. Bahasa yang dipakai pun semakin baik, muaranya para mahasiswa lebih mudah dan terbiasa menulis karya ilmiah.

BAB II
LANDASAN TEORETIS

2.1 Bahasa Laporan Penelitian
Bahasa laporan penelitian merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia. Ragam ini sering disebut sebagai ragam bahasa baku, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa standar, atau ragam bahasa ilmu (Sugihastuti 2000 : 3). Ragam bahasa inilah yang kaidah-kaidahnya paling lengkap dibandingkan dengan ragam bahasa yang lain, misalnya ragam pidato, ragam sastra, ragam jurnalistik, dan sebagainya. Moeliono (1988 b) menyatakan bahwa ragam bahasa baku memiliki tiga ciri dasar, yaitu (1) Ragam bahasa standar memiliki kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Kemampuan ini tidak kaku tetapi luwes sehingga memungkinkan perubahan yang bersistem dan teratur di bidang kosa kata dan peristilahan, dan mengizinkan perkembangan berjenis ragam yang diperlukan dalam kehidupan modern. Beberapa perubahan yang timbul akibat penerapan kaidah bukan alasan yang cukup kuat, yang dapat menghalalkan penyimpangan; (2) Ciri kedua yang menandai bahasa baku adalah sifat kecendekiaannya. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Proses pencedekiaan bahasa itu amat penting karena pengenalan ilmu dan teknologi modern, yang kini umumnya masih bersumber pada bahasa asing, harus dapat dilangsungkan lewat ragam baku bahasa Indonesia: (3) Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa.
Dengan demikian, pembakuan bahasa laporan penelitian berarti standarisasi penulisannya. Standarisasi ini menyangkut beberapa hal. Standar artinya tetap, baku, dan tidak mudah berubah setiap saat. Ada kaidah-kaidah bahasa yang mantap. Kaidah-kaidah bahasa inilah yang menjadi tolok ukur agar bahasa laporan penelitian standar.
2. 2 Ciri-ciri Ragam Bahasa Baku
Dalam pemakaiannya, bahasa Indonesia ditemukan beberapa ragam bahasa. Mulai dari bahasa kehidupan sehari-hari, bahasa anak muda, bahasa lisan, bahasa tulis, dan sebagainya. Di antara beberapa jenis pemakaian bahasa tersebut, ada yang menggunakan bahasa baku dan ada juga yang menggunakan bahasa ragam tidak baku. Karya ilmiah sebagai salah satu jenis pemakaian bahasa diharuskan menggunakan ragam baku.
Adapun ciri-ciri ragam baku bahasa Indonesia dapat diperikan sebagai berikut ini. Pertama, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku digunakan dalam situasi resmi. Ragam baku tidak diwarnai dengan dialek atau logat tertentu. Kedua, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku menggunakan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Ketiga, baik secara lisan maupun tulisan, ragam baku memenuhi fungsi gramatikal seperti subjek, predikat, dan objek secara eksplisit dan lengkap.

2. 3. Aspek-aspek Bahasa Baku
2.3.1 Perihal Ejaan
Poerwodarminto (1976) mendefinisikan ejaan sebagai cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Sedangkan ahli yang lain menyatakan bahwa ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi [kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya], dalam bentuk tulisan [huruf-huruf] serta penggunaan tanda baca (Moeliono 1988 a). Adapun Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah yang termuat di dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 Tanggal 16 Agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa Indonesia.
Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim 1992).




2.3.2 Aspek Fonologis
Kaidah dalam aspek fonologis meliputi penulisan huruf, pelafalan [pengucapan], dan pengakroniman.
Penulisan huruf menyangkut abjad, vokal, konsonan, diftong, persukuan, dan nama diri.
Pelafalan atau pengucapan huruf juga termasuk hal penting dalam fonologis. Contoh pelafan yang salah misalnya, akhiran -kan bukan –ken. Kata diharapkan yang seharusnya dilafalkan [diharapkan] tetapi dilafalkan salah [diharapken]. Kata Bandung, mestinya dilafalkan [Bandung] tetapi dilafalkan salah menjadi [mBandung]. Timbulnya pelafalan yang tidak tepat ini, biasanya dipengaruhi idiolek seseorang, juga besar kemungkinan dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah.
2.3.3 Aspek Morfologis
Aspek morfologis ini menyangkut kata, baik pengimbuhan (afiksasi) penggabungan, pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing. Kata dasar, kata turunan, kata ulang, gabungan kata-kata ganti, kata depan, kata si dan sang, partikel, penulisan unsur serapan, tanda baca, penulisan angka dan bilangan sangat penting untuk diperhatikan dalam ragam baku bahasa Indonesia. Kata dasar ditulis sebagai satu satuan. Kata turunan ditulis dengan beberapa ketentuan, misalnya : (1) imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, (2) awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikutinya atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata, (3) kalau bentuk dasar berupa gabungan kata sekaligus mendapatkan awalan dan akhiran, kata-kata ditulis serangkai, (4) kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Hal yang berbeda dengan imbuhan adalah kata depan. Apabila imbuhan penulisannya harus serangkai dengan kata dasarnya, kata depan penulisannya harus dipisah. Kata depan itu, misalnya di dan ke. Penulisannya harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Kalimat berikut adalah contoh penulisannya yang benar dan salah.
(1) a. Dia pergi kekantor. (salah)
b. Dia pergi ke kantor. (betul)
(2) a. Dia sekarang berada dirumah. (salah)
b. Dia sekarang berada di rumah (betul)
Demikian juga, penggunaan kata daripada dan dari. Kata dari digunakan untuk asal, daripada untuk perbandingan.
(3) a. Bangunannya dibut daripada bambu. (salah)
b. Bangunannya dibuat dari bambu (betul)
(4) a. Dalam hal orasi, Sukarno lebih unggul dari Suharto.(salah)
b. Dalam hal orasi, Sukarno lebih unggul dari Suharto.(betul)
Demikian pula tentang pemenggalan, penulisan, maupun penyesuaian kosa kata asing dengan kaidahnya masing-masing. Semua harus dilakukan secara cermat dan hati-hati.
2.3.4 Aspek Sintaksis
Dalam ragam bahasa baku aspek sintaksis ini meliputi frase, klausa, dan kalimat. Frase dan klausa merupakan bagian dari kalimat. Kalimat dikatakan baik apabila memiliki kesatuan pikiran/makna (kohesi) dan terdapat kesatuan bentuk (koherensi) di antara unsur-unsurnya. Begitu pula, kalimat dikatakan sempurna apabila mampu berdiri sendiri terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami maksudnya.
Secara operasional, kalimat bahasa Indonesia yang baku mempunyai ciiri-ciri selalu dipakainya perangkat kebahasaan berikut secara tegas dan bertaat asas (Sugihastuti, 2000:82).
a. subjek dan predikat
Para siswa berangkat ke lapangan sepak bola. (baku)
Para siswa ke lapangan sepak bola. (tidak baku)
b. awalan ber- dan me- (kalimat aktif)
Mereka bertanya kepada pembimbing. (baku)
Mereka tanya kepada pembimbing. (tidak baku)
Gubernur melihat-lihat hasil pameran para siswa. (baku)
Gubernur lihat-lihat hasil pameran para siswa. (tidak baku)
c. konjungsi bahwa dan karena
Dijelaskan bahwa keadaan belum berubah. (baku)
Dijelaskan keadaan belum berubah. (tidak baku)
d. pola aspek + agens + verba (kalimat pasif)
Laporan secara mendetil sudah saya sampaikan. (baku)
Laporan secara mendetil saya sudah sampaikan. (tidak baku)
e. konstruksi sintaksis
pendengarannya (baku)
dia punya pendengaran (tidak baku)
menyempurnakan(baku)
bikin sempurna (tidak baku)
f. partikel -kah dan pun
Bagaimanakah cara mengangkatnya? (baku)
Bagaimana cara mengangkatnya? (kurang baku)
Selain kajian literatur, percobaan pun dilakukan pula olehnya. (baku)
Selain kajian literatur, percobaan dilakukan pula olehnya. (kurang baku)
g. ejaan, kosakata, dan istilah
Pemakaian ejaan, kosakata, dan istilah harus resmi sehingga diperoleh kalimat yang bersih dari unsur dialek daerah dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai warga bahasa Indonesia.
Para siswa sudah pada kumpul. (tidak baku)
Para siswa sudah berkumpul. (baku)
Bus itu antar kota itu mengalami hambatan di jembatan Comal (tidak baku)
Bus itu antarkota itu mengalami hambatan di jembatan Comal (baku)
2.3.5 Aspek Paragraf
Paragraf dalam bentuk tulisan/tuturan merupakan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. Informasi yang disampaikan dalam kalimat/tuturan yang satu berhubungan erat dengan informasi yang dinyatakan dalam kalimat/tuturan yang lain dalam sebuah paragraf. Demikian pula antara paragraf yang satu dan paragraf lainnya haruslah mempunyai keterkaitan dan keserasian. Tanpa adanya keterkaitan maupun keserasian, informasi-informasi tersebut sulitlah dipahami makna komulatifnya. Oleh karena itu, kohesi dan koherensi berbahasa sangat memegang penting dalam logika berbahasa. Kohesi adalah kepaduan di bidang bentuk, sedangkan koherensi adalah kepaduan dibidang makna. Berikut contoh beberapa kalimat yang digabungkan menjadi sebuah paragraf yang kohesif dan koherensif.
(1) Arni berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB.
(2) Arni menghampiri Karmila, temannya satu kos.
(3) Arni dan Karmila naik sepeda motor pergi ke toko buku.
(4) Arni tertarik dengan buku cerita Laskar Pelangi.
(5) Arni dan Karmila pulang dari toko buku pukul 20.00 WIB.
Kelima kalimat di atas disusun menjadi satu paragraf berikut ini.
Arni berangkat dari rumah pukul 18.00 WIB. Sebelum berangkat, gadis itu menghampiri Karmila, temannya satu kos. Mereka berdua naik sepeda motor pergi ke toko buku. Arni tertarik dengan buku cerita Laskar Pelangi. Akhirnya, kedua gadis itu pulang dari toko buku pukul 20.00 WIB.
Paragraf ini sangat efektif dan efisien penggunaan katanya. Demikian juga, sangat kohesif dan koherensif.
Paragraf di atas disebut efektif dan efisien karena penggunaan katanya tidak boros dan juga sangat mudah untuk dipahami. Di samping itu, hampir tidak ada pengulangan kata yang sama sehingga enak untuk dibaca/didengarkan. Penggunaan kata ganti dan kata sambung sangat membantu efektivitas dan efisiensi penggunaan katanya.
Demikian juga, paragraf ini disebut sangat kohesif dan koherensif karena kepaduan makna dan bentuknya sangat logis dan jelas. Paragraf tersebut secara logika sangat mudah dipahami. Demikian juga secara bentuk sangat jelas dan enak dilihat.




















BAB III
METODE PENELITIAN

Metode yang baik akan menghasilkan penelitian yang baik pula. Agar penelitian ini memperoleh hasil yang optimal digunakan metode yang mencakupi empat hal, yaitu (1) Sasaran dan ancangan penelitian, (2) data dan sumber data, (3) metode pengumpulan data, (4) metode analisis data, dan (5) metode penyajian hasil analisis data.
3.1 Sasaran dan Ancangan Penelitian
Dalam penelitian ini yang dikaji adalah penggunaan bahasa Indoneia dalam karya ilmiah. Oleh karena itu, pengkajian dilakukan secara integral meliputi semua unsur yang ada dalam bahasa Indonesia ilmiah. Unsur-unsur yang dimaksud meliputi fonologi, morfologi, sistaksis, wacana, dan semantik, serta ejaan yang digunakan.
Ancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesalahan berbahasa Indonesia pada karya ilmiah sebagaimana yang digunakan para ahli bahasa (Ramlan, 1993; Sudaryanto, 1993; Sugihastuti, 2000).
3.2 Data dan Sumber Data
Data penelitian ini meliputi kesalahan-kesalahan berbahasa pada laporan penelitian ilmiah skripsi mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UMK yang diselesaikan pada tahun akademik 2007/2008. Data penelitian ini terbatas pada data tertulis yang digunakan dalam penulisan skripsi.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Ada tiga tahapan yang dipakai dalam pengumpulan data penelitian ini. Tahap pertama adalah pengambilan data dari sumber data dengan cara dicatat dalam kartu data. Tahapan kedua berupa pengelompokkan data sesuai dengan aspek kesalahannya. Dan tahap ketiga penganalisisan data dan upaya pembenahannya.
Pada tahap pertama dipergunakan metode simak. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik penyadapan dengan teknik lanjutan dengan nonpartisipasi dan teknik pencatatan (Sudaryanto, 1988). Teknik nonpartisipasi berarti peneliti tidak secara langsung berperan aktif sebagai penghasil data dalam penelitian ini, semua data diambil dari sumber tertulis. Teknik pencatatan dipakai untuk mencatat semua kesalahan yang terjadi pada penggunaan bahasa Indonesia ilmiah, baik kesalahan ejaan dan istilah, kata dan kalimat, paragraf, tata tulis, maupun penggunaan kata baku. Pencatatan ini dilakukan pada kartu data yang berukuran 10,5 x 11 cm. Setiap data yang sama dicatat sekali saja agar tidak terjadi kesia-siaan. Dengan demikian, pada akhir pengumpulan data akan diperoleh data yang tersimpan dalam kartu-kartu datayang betul-betul berbeda.
Tahap kedua, data-data yang terkumpul dikelompokkan sesuai dengan jenis kesalahannya (walaupun terkadang ada yang tumpang tindih/data satu masuk dua kelompok). Hal ini dilakukan untuk membantu kecermatan analisis sehingga memperoleh hasil yang lebih sempurna.
Tahap ketiga menganalisis data secara mendetil sesuai dengan kesalahan penggunaannya.
Adapun kartu data yang digunakan untuk pencatatan data berukuran 10,5 x 11 cm. Kartu data ini berfungsi untuk mencatat data penelitian sebelum diklasifikasi. Setiap kartu data hanya digunakan untuk mencatat satu data saja agar memudahkan pengklasifikasiannya. Kartu data yang penulis gunakan dipilah menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap bagian berisi nomor, sumber data, jenis kesalahan, kalimat atau paragraf yang ada kesalahan penggunaan bahasa, analisis, dan pembetulan. Berikut adalah kartu data penelitian ini.

NO. DATA SUMBER DATA JENIS KESALAHAN

kalimat atau aragraf yang ada kesalahan penggunaan bahasa:



Analisis :


Pembetulan:


3.4 Teknik Analisis Data
Setelah data tersedia dengan baik dalam arti telah disusun dengan rapi dalam kartu data, dikelompokkan sesuai dengan kesalahan aspeknya, baru dilakukan analisis data. Untuk menganalisis data ini digunakan teknik banding, yaitu kesesuaian data dengan aspek-aspek bahasa yang baku, baik dan benar, serta logika penulisan karya ilmiah. Aspek-aspek bahasa ini dianggap salah apabila menyimpang dari kaidah EYD dan logika berbahasa.
3.5 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil data analisis kesalahan berbahasa laporan penelitian ilmiah skripsi dan upaya pembenahannya ini disajikan secara informal, yaitu penyajian kaidah-kaidah dengan terminologi yang bersifat teknis, tanpa adanya tanda dan lambang-lambang (Sudaryanto 1993).
Adapun prosedur kerja dalam penelitian ini adalah berikut ini. Diuraikan urut sesuai dengan langkah yang dilakukan.
a. Menyediakan sumber data,
b. mengumpulkan data dengan berpedoman pada kriteria yang telah ditentukan, yakni kesalahan berbahasa dalam bentuk kalimat atau paragraf,
c. mencatat data dalam kartu data,
d. memberikan tanda dalam setiap data sesuai kesalahan,
e. mengklasifikasi data sesuai dengan jenis kesalahannya,
f. memberikan kode tertentu pada jenis kesalahan yang berbeda,
g. menganalisis dan memaparkan data sesuai dengan kesalahannya,
h. memberikan penjelasan mengapa sebuah penggunaan bahasa mengalami kesalahan,
i. pengadakan pembetulan,
j. memberikan solusi supaya tidak terjadi kesalahan lagi.

BAB IV
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Kesalahan berbahasa yang terjadi pada skripsi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2007/2008 dikategorikan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut ini.
4.1 Kesalahan Ejaan dan Istilah
Pengertian ejaan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi khusus dan segi umum. Secara khusus, ejaan dapat diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sedangkan secara umum, ejaan berarti keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca.
Kesalahan yang ejaan dan istilah adalah kesalahan yang berkaitan dengan pemakaian ejaan dan istilah. Ejaan pada dasarnya mencakup penulisan huruf, penulisan kata, penulisan singkatan, akronim, angka dan bilangan, serta penggunaan tanda baca. Di samping itu, pelafalan dan peraturan dalam penyerapan unsur asing juga termasuk dalam ejaan (Mustakim, 1992).
Di dalam bagian ini diuraikan contoh-contoh kesalahan ejaan dan istilah, kemudian diberikan pembetulannya.
(1) Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia dan mempunyai nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.
Kesalahan tanda baca terjadi karena tidak ada tanda , (koma) setelah frasa berakhlak mulia yang merupakan ciri penjabaran dari sumber daya manusia. Penulisan yang benar adalah berikut ini.
• Sumber daya manusia yang berkemampuan, berakhlak mulia, dan mempunyai nilai keagamaan dapat diciptakan melalui pendidikan.
(2) Dan untuk itu pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.
• Dan untuk itu, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.
(3) Permasalahan yang sering muncul ini sebetulnya juga bersumber dari tidak adanya komunikasi antara orang tua dan klien, karena ternyata orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Dalam bahasa ragam ilmiah harus dihindari penggunaan kata sebetulnya, ternyata yang sekiranya mubazir.
• Permasalahan yang sering muncul ini juga bersumber dari tidak adanya komunikasi antara orang tua dan klien, karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan.
(4) Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya penanganan kasus ini adalah pengenalan karakteristik klien itu sendiri belum difahami secara detil.
Kata itu sendiri sebaiknya dihilangkan. Kata difahami tidak baku, yang baku dipamahi.
• Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya penanganan kasus ini adalah pengenalan karakteristik klien belum dipahami secara detil.
(5) Kasus pemukulan terhadap temannya memang bukan melulu dialami oleh siswi. Namun kondiri ini juga dialami oleh siswa.
Kata melulu tidak baku, yang baku hanya. Di belakang kata sambung namun seharusnya diletakkan tanda , [koma] karena kata itu merupakan kata hubung antarkalimat.
• Kasus pemukulan terhadap temannya memang bukan dialami oleh siswi. Namun, kondiri ini juga dialami oleh siswa.
Kata/frasa hubung yang menghubungkan dua kalimat, dibelakangnya harus diletakkan tanda , [koma) karena merupakan kata hubung antarkalimat.
(6) Klien mengalami banyak hambatan dalam belajarnya. Karena itu perlu penanganan secara mendalam dan menyeluruh.
Kata sambung antarkalimat Karena itu yang benar adalah Oleh karena itu dan di belakang Oleh karena itu harus diberi koma [,]. Jadi pembetulannya adalah berikut ini.
• Klien mengalami banyak hambatan dalam belajarnya. Oleh karena itu, perlu penanganan secara mendalam dan menyeluruh.
Namun demikian, ....
Akan tetapi, ...
Lagi pula, ...


4.2 Kesalahan Kata dan Kalimat
Kata-kata yang sering salah adalah penggunaan kata yang rancu (tidak logis), kata berimbuhan, kata berimbuhan, gabungan kata, kata ulang, kata depan, partikel, penggalan kata, singkatan, dan akronim.
Kalimat yang sering salah adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Sebuah kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki unsur subjek dan predikat. Kalimat yang bersubjek umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat (Sugihartuti, 2000).
Di dalam bagian ini diuraikan contoh-contoh kesaalahan kata dan kalimat, kemudian diberikan pembetulannya.
(1) Menurut Mungin Edi Wibowo (2000: 6) dikatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Kalimat ini mengalami banyak kesalahan mulai dari logika berbahasa dalam mengutip pendapat ahli, cara mengutip (seharusnya diambil nama belakang saja), sampai pada tanda berhenti yang menyiksa kalau diujarkan (di belakang kata berikut diberi tanda : [titik dua]) Tanda : [titik dua] ini tidak menunjukkan kesenyapan atau berhenti, sehingga pembaca tidak boleh berhenti sampai kalimat diakhiri dengan tanda . [titik]. Pada hal uraian di belakang tanda : ini masih banyak, kalau demikian apakah pembaca bisa bernafas dengan baik. Oleh karena itu, pembetulan yang seharusnya adalah berikut ini.
• Menurut Wibowo (2000:6) anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini. (dengan ditandai . [titik] di belakang frase berikut ini, maka pembaca akan lebih sesuai dalam mengatur pernafasan, karena titik memang memberikan keleluasaan untuk berhenti).
atau
• Wibowo (2000:6) mengatakan bahwa anak yang mengalami kendala dalam belajar ditandai dengan ciri-ciri berikut ini.
(2) Menurut pendapat Muhammad Surya (1975: 64) menjelaskan bahwa :
Yang dimaksud studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
Kutipan ini mengalami kejanggalan dalam logika berbahasa dan kesalahan dalam cara mengutip, seharusnya berikut ini.
• Menurut Surya (1975:64) studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
atau
• Surya (1975:64) menjelaskan bahwa studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
atau
• Surya (1975:64) berpendapat studi kasus adalah suatu teknik untuk memahami individu secara integratif dan komprehensif dengan mempelajari keadaan dan perkembangan individu secara mendalam, dengan tujuan membantu individu untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
(3) Ali Lukman (2001: 180) penerapan adalah proses, cara mempraktekkan. Poerwodarminto (1984: 421) penerapan adalah berkenaan dengan perihal mempraktikkan.
• Lukman (2001:180) menyatakan bahwa penerapan adalah proses, cara mempraktikkan (sic!). Demikian pula, Poerwodarminto (1984:421) menjelaskan bahwa penerapan adalah berkenaan dengan perihal mempraktikkan.
(4) Diperoleh pendapat dari Suharsimi Arikunto (1998: 314) menjelaskan bahwa
Studi kasus adalah mengumpulkan data yang menyangkut individu atau unit yang dipelajari mengenai gejala yang ada saat dilakukannya penelitian, pengalaman waktu lampau, tingkat kehidupan dan bagaimana faktor-faktor ini berhubungan satu sama lain.
• Arikunto (1998:314) menjelaskan bahwa studi kasus adalah mengumpulkan data yang menyangkut individu atau unit yang dipelajari mengenai gejala yang ada saat dilakukannya penelitian, pengalaman waktu lampau, tingkat kehidupan dan bagaimana faktor-faktor ini berhubungan satu sama lain.
(5) Hubungan antara Minat dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD
• Hubungan antara Minat dan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD
atau
• Hubungan Minat dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas V SD
(6) Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.
• Pada peneltian ini digunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.
atau
• Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, artinya bahwa penelitian berorientasi pada teori-teori atau kata-kata atau kalimat berdasarkan perbedaan kategori untuk mendapatkan kesimpulan dari gambaran data.
(7) Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur ialah observasi di mana sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi.
• Observasi sistematik atau disebut juga observasi terstruktur adalah observasi yang sebelumnya telah diatur struktur berisikan faktor-faktor berdasarkan kategori masalah yang hendak diobservasi.
(8) Dilihat dari hasil belajar semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.
• Hasil belajar semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.
(9) Dari data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.
• Data dokumentasi yang diperoleh dari hasil rapor semester I menunjukkan bahwa IDR menempati peringkat terakhir.
(10) Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.
• Data yang diperoleh menunjukkan sangat banyak siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.
atau
• Data yang diperoleh menunjukkan banyak sekali siswa yang kesulitan menyelesaikan masalah.
(11) Tingkah laku manusia banyak dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial untuk memahami, meramalkan, dan mengontrol tingkah laku manusia tersebut.
Kalimat ini sebenarnya terdiri dari dua kalimat yang dijadikan satu sehingga menjadi rancu.
• Tingkah laku manusia banyak dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial. Hal ini dilakukan untuk memahami, meramalkan, dan mengontrol tingkah laku manusia.
(12) Prinsip condicioning digunakan tidak hanya dalam menyembuhkan gejala-gejala yang sederhana, akan tetapi juga sampai pada tingkah laku yang lebih kompleks, seperti kecemasan, phobia dan psychosis.
Penulisan kata-kata asing yang belum diserap menjadi kata-kata bahasa Indonesia seharusnya ditulis secara miring.
• Prinsip condicioning digunakan tidak hanya dalam menyembuhkan gejala-gejala yang sederhana, akan tetapi juga sampai pada tingkah laku yang lebih kompleks, seperti kecemasan, phobia, dan psychosis.
4.3 Ketidakefektifan Paragraf
Kalimat yang efektif, pada gilirannya akan menghasilkan paragraf yang efektif. Oleh karena itu, keefektifan kalimat akan memberikan sumbangan besar terhadap kefektifan paragraf. Paragraf yang efektif adalah paragraf yang mengandung kesatuan makna (kohesi) dan kepaduan bentuk (kohensi).
Paragraf yang berkesatuan makna adalah paragraf yang mengandung satu gagasan utama, yang diikuti oleh beberapa gagasan pengembang atau penjelas. Oleh karena itu, rangkaian kalimatnya hanya mempersoalkan satu gagasan utama.
Paragraf yang berkepaduan bentuk adalah paragraf yang memperlihatkan kepaduan hubungan antarkalimatnya. Hal ini dapat diketahui dari susunan kalimat yang sistematis, logis, dan mudah dipahami. Kepaduan itu dapat dicapai jika kalimat-kalimatnya terangkai secara baik, misalnya dengan menggunakan sarana pengait kalimat dalam paragraf yang berupa penggantian, pengulangan, penghubungan antarkalimat, atau gabungan dari ketiganya. Di samping itu, kalimat yang berkepaduan sebaiknya tidak berkepanjangan, sehingga idenya mudah untuk dicerna.
Berikut disajikan kesalahan dalam paragraf beserta pembetulannya.
(1) Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang menunjukkan gejala-gejala yang mengalami kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajarnya rendah disebabkan karena motivasi belajarnya rendah, sehingga hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, siswa tersebut lambat dalam tugas-tugas sehingga siswa sering tidak mengerjakan tugas PR, menunjukkan tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, sering tidak mencatat, bahkan siswa tersebut tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal ini merupakan masalah yang cukup serius, jika permasalah tersebut tidak segera diatasi akan mengakibatkan kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas, untuk itu perlu diadakan studi kasus.
Paragraf yang rancu di atas dibenahi menjadi berikut ini.
• Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik yang mengalami gejala-gejala kesulitan belajar ditandai dengan prestasi belajar yang rendah. Hal ini disebabkan motivasi belajar siswa yang rendah. Oleh karena itu, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan siswa. Karakteristik siswa yang motivasi belajarnya rendah antara lain: lambat dalam menyelesaikan tugas, sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tingkah laku yang kurang wajar, acuh tak acuh, dan sering tidak mencatat. Pada kondisi tertentu, bahkan siswa itu tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal atas hasil rendah yang dicapai. Hal-hal tersebut, merupakan masalah yang cukup serius. Apabila permasalah ini tidak segera diatasi, akibatnya akan cukup fatal. Akibat tersebut antara lain kegagalan dalam belajar yaitu tidak naik kelas. Berpijak pada paparan di atas, maka siswa yang motivasi belajarnya rendah perlu diberikan bantuan konseling, salah satunya dengan studi kasus.
(2) Berdasarkan data dalam tabel I di atas, menurut penulis IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya, sehingga IDR perlu mendapatkan perhatian dan bantuan berupa layanan bimbingan dan konseling secara intensif, agar siswa tersebut dapat merubah sikapnya dari tidak sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik lagi.
Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.
• Berdasarkan data di atas, IDR cenderung tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dan bantuan yang semestinya. Salah satu bantuan itu adalah layanan bimbingan dan konseling secara intensif. Dengan layanan ini diharapkan siswa tersebut dapat mengubah (sic!) sikapnya dari tidak sungguh-sungguh menjadi sungguh-sungguh mengikuti kegiatan belajar mengajar. Muaranya, siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
(3) Berdasarkan tabel 4 di atas, menurut penulis klien IDR memang tidak mendapat perhatian orang tua dalam belajar di samping faktor sarana dan prasarana yang kurang mendukung sehingga konselor perlu memberikan pengertian kepada klien agar tetap rajin belajar walau keadaan orang tua yang serba kekurangan.
Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.
• Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat disimpulkan bahwa klien IDR memang tidak mendapat perhatian orang tua dalam belajar. Di samping itu, faktor sarana dan prasarana juga kurang mendukung. Perilaku orang tua yang demikian disebabkan oleh keadaan orang tua yang serba kekurangan. Walaupun demikian, konselor perlu memberikan pengertian kepada klien agar tetap rajin belajar.
(4) Dilihat dari hasil rapornya semester I menunjukkan bahwa klien (AMD) mendapat ranking 13 dari 14 siswa dengan jumlah nilai 506 dari 9 mata pelajaran dengan nilai rata-rata 56. tidak masuk karena sakit 2, ijin 2, tanpa ijin 0. berkelakuan baik, kerajinan baik, dan kerapian baik. Dari daftar nilai menunjukkan bahwa tugas-tugas yang diberikan guru pelajaran rumah tidak dikerjakan dengan baik.
Paragraf ini mengalami banyak kesalahan berbahasa, mulai dari penyusunan kalimat, kelengkapan unsur kalimat, sampai kata-kata tidak baku. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami. Paragraf yang efektif dan efisien dengan kata-kata yang baku untuk mengungkapkan pikiran tersebut adalah berikut ini.
• Hasil rapor semester I klien ini menunjukkan bahwa siswa (AMD) mendapat ranking 13 dari 14 siswa. Nilai yang diperoleh sejumlah 506 dari 9 mata pelajaran, sehingga nilai rata-ratanya 56. Kehadiran siswa selama satu semester tidak masuk karena sakit dua hari, izin dua hari, dan tidak pernah tanpa izin. Siswa ini berkelakuan baik, kerajinan baik, dan kerapian baik. Daftar nilai menunjukkan bahwa tugas-tugas rumah yang diberikan guru pelajaran tidak dikerjakan dengan baik.
5) Berpijak pada paparan di atas penulis menyimpulkan bahwa masalah malas belajar di kelas V SD 5 Bae merupakan suatu kasus yang harus segera ditangani, karena kalau tidak, bisa menghambat keberhasilan dalam belajarnya. Cara penangannya adalah dengan cara studi kasus.
Maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar Di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007”.
Paragraf di atas seharusnya hanya satu paragraf saja, karena kedua paragraf di atas mendukung satu pikiran utama. Di samping itu, ada juga beberapa kesalahan. Pembetulannya adalah berikut ini.
• Berpijak pada paparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa masalah malas belajar di kelas V SD 5 Bae merupakan suatu kasus yang harus segera ditangani. Oleh karena, apabila tidak segera ditangani akan menghambat keberhasilan dalam belajar. Salah satu cara penangannya adalah dengan studi kasus. Bertitik tolak dari kenyataan inilah, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007.
6) Berpijak pada judul penelitian “Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar Di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007” maka dalam pembahasan ini peneliti mengungkap upaya-upaya konselor menggunakan pendekatan behavior dalam menangani masalah malas belajar siswa kelas V di SD 5 Bae.
Paragraf di atas terdapat beberapa kesalahan, pembetulannya sebagai berikut.
• Berpijak pada judul penelitian Studi Kasus Penerapan Model Konseling Behavior untuk Menangani Siswa Malas Belajar di Kelas V SD 5 Bae Tahun Pelajaran 2006/2007, maka dalam pembahasan ini peneliti berusaha mengungkap upaya-upaya konselor menggunakan pendekatan behavior dalam menangani masalah malas belajar siswa kelas V di SD 5 Bae.
7) Studi kasus dalam penelitian ini dikandung maksud suatu teknik untuk mempelajari keadaan siswa kelas V di SD 5 Bae secara mendalam baik fisik maupun psikis untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi yaitu malas belajar supaya lebih rajin belajar dengan penerapan model konseling behavior.
pembetulannya
• Pada penelitian ini, studi kasus adalah suatu teknik untuk mempelajari keadaan siswa kelas V di SD 5 Bae secara mendalam baik fisik maupun psikis. Hal ini dilakukan untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi klien yaitu malas belajar. Metode yang diterapkan adalah model konseling behavior dengan tujuan mengubak perilaku malas belajar menjadi rajin belajar.
8) Menurut Nasution (1993:44) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupan yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenal masa ini sebagai “masa sekolah” oleh karena pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Tetapi bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah. Disebut masa sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Disebut masa matang untuk belajar karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitas itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan di sekolah. Dalam masa usia sekolah ini, anak sudah siap menjelajahi lingkungannya. Ia tak puas lagi sebagai penonton saja, ia ingin mengetahui lingkungannya, tata kerjanya, bagaimana perasaan-perasaan, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.
pembetulannya
• Nasution (1993:44) menjelaskan bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupan yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenal masa ini sebagai masa sekolah. Oleh karena, pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Akan tetapi, bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah.
Anak usia ini disebut masa sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Masa ini disebut masa matang untuk belajar karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitas itu sendiri. Demikian juga, usia ini disebut disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan di sekolah. Dalam masa usia sekolah ini, anak sudah siap menjelajahi lingkungannya. Ia tak puas lagi sebagai penonton saja, ia ingin mengetahui lingkungannya, tata kerjanya, bagaimana perasaan-perasaan, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.
4.4 Kesalahan Tata Tulis
Kesalahan tata tulis menyangkut kesalahan yang terdapat pada penulisan baku, misalnya: seharusnya tidak menggunakan tanda petik, ditulis diberi tanda petik; seharusnya tidak huruf besar semua, ternyata ditulis huruf besar semua; seharusnya awal kata yang menggunakan huruf besar selain kata aspek/konjungsi, ditulis semua awal kata dengan huruf besar semua, dan sebagainya.
(1) Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”.
pembetulannya
• Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti melihat dan memperhatikan.
(2) Korelasi Antara Pola Asuh Orang Tua Dengan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007
Penulisan judul /subjudul atau bab/subbab yang menggunakan huruf kapital setiap awal kata tidak berlaku untuk kata aspek dan konjungsi. Pada judul di atas terdapat dua kata yang berupa konjungsi yaitu antara dan dan, sehingga kedua kata tersebut tidak diawali dengan huruf besar.
pembetulannya
• Korelasi antara Pola Asuh Orang Tua dan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007
atau
• Korelasi Pola Asuh Orang Tua dengan Hubungan Sosial Siswa Kelas II SMA 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007
(3) Approach Model
Behavior Model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.
Penggunaan kata asing yang belum diakui menjadi bagian dari bahasa Indonesia harus ditulis cetak miring.
pembetulannya
• Approach Model
Behavior model adalah suatu model konseling yang berorientasi pada perubahan tingkah laku yang tampak, spesifik, dan dapat diukur. Dengan konseling behavior, konselor berusaha mengubah tingkah laku TPN yang tidak mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas menjadi mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas.
(4) Siswa yang bernama AMD berusia 10 tahun adalah anak stu-satunya dari keluarga Bapak Sujarwadi dan Ibu Yayuk.
pembetulannya
stu-satunya (salah ketik) - seharusnya satu-satunya
• Siswa yang bernama AMD berusia 10 tahun adalah anak satu-satunya dari keluarga Bapak Sujarwadi dan Ibu Yayuk.
(5) Klien ini ternyat mengalami gangguan mental yang cukup serius karena jarangnya bertemu dengan orang tua.
pembetulannya
ternyat (salah ketik ) - seharusnya ternyata
• Klien ini ternyata mengalami gangguan mental yang cukup serius karena jarangnya bertemu dengan orang tua.
(6) AMD adlah klien yang mengalami hambatan dalam belajar matematika, IPA, dan IPS.
pembetulannya
adlah (salah ketik) - seharusnya adalah

• AMD adalah klien yang mengalami hambatan dalam belajar matematika, IPA, dan IPS.
Beberapa kesalahan akibat salat ketik seharusnya tidak boleh terjadi. Walaupun direntalkan, tanggung jawab kebenaran karya ilmiah tetap pada mahasiswa yang bersangkutan.
4.5 Kesalahan Penggunaan Kata Baku
Kesalahan penggunaan kata baku adalah kesalahan yang menyangkut penggunaan kata secara tidak baku, baik terletak pada kesalahan ejaan, penulisan huruf, penulisan unsur serapan, kata, maupun frasa. Berikut dipaparkan kesalahan penulisan kata baku secara khusus beserta pembetulannya.
(1) Ketiadaan minat terhadap pelajaran yang diberikan guru menjadi pangkal penyebab kenapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.
pembetulannya
• tiada (tidak baku) - tidak ada (baku)
• kenapa (tidak baku) - mengapa (baku)
• Tidak adanya minat terhadap pelajaran yang diberikan guru menjadi pangkal penyebab mengapa siswa tersebut tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan guru.
(2) Studi kasus adalah suatu studi atau analisa yang komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik, bahan dan alat mengenali gejala atau ciri.
pembetulannya

• Analisa (tidak baku) - analisis (baku)
• Studi kasus adalah suatu studi atau analisis yang komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik, bahan dan alat mengenali gejala atau ciri.
(3) Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk merubah sifat malas belajarnya agar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.
pembetulan
• merubah (tidak baku) - mengubah (baku)
Kata merubah bukan termasuk kata baku. Kata ini berasal dari bentuk dasar ubah bukan rubah, mendapatkan afiks meng- sehingga menjadi mengubah.
• Peneliti menggunakan studi kasus untuk mempelajari keadaan siswa kelas V SD 5 Bae dan menggunakan teknik konseling behavior untuk mengubah sifat siswa yang malas belajar menjadi rajin belajar sehingga prestasi belajarnya dapat lebih baik.
(4) Berdasarkan dari informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.
pembetulannya
• berdasarkan dari (tidak baku) - berdasarkan ... (baku)
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis, (selanjutnya) konselor dan klien menyusun perangkat untuk merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.
(5) Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang adalah disebabkan oleh proses belajar yang salah.
pembetulannya
• adalah disebabkan (tidak baku) - disebabkan (baku)
• Behavior therapy merumuskan suatu konsep bahwa tingkah laku menyimpang disebabkan oleh proses belajar yang salah.
(6) Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya adalah merupakan pertangungan jawab konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.
pembetulannya
• adalah merupakan (tidak baku) - adalah (baku)
• adalah merupakan (tidak baku) - merupakan (baku)
• pertanggungan jawab (tidak baku - pertanggungjawaban (baku)
Jadi kalimat yang betul adalah berikut ini.
• Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya adalah bentuk pertangungjawaban konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.
atau
• Mencarikan jalan keluar bagi klien agar dapat mengatasi masalah hidupnya merupakan bentuk pertangungjawaban konselor kepada tugas pendidiknya dan juga kepala sekolah.
(7) Apabila pengamat tidak mengambil bagian sama sekali dalam kegiatan orang atau objek yang diobservasi, maka observasi itu disebut observasi non partisipatif.
pembetulannya
• non partisipatif (tidak baku) - nonpartisipatif (baku)
• Apabila pengamat tidak mengambil bagian sama sekali dalam kegiatan orang atau objek yang diobservasi, maka observasi itu disebut observasi nonpartisipatif.
(8) Apabila dalam suatu observasi tidak terdapat sistematika struktur kategori itu, observasi itu disebut observasi non sistematik.
pembetulannya
• non sistematis (tidak baku) - nonsistematis (baku)
• Apabila dalam suatu observasi tidak terdapat sistematika struktur kategori, observasi itu disebut observasi nonsistematik.
(9) Suatu wawancara disebut wawancara tak terpimpin, unguided atau non-directive, jika jalan tanya jawab dikuasai oleh mood, keinginan, dan kecenderungan orang yang diwawancarai, tanpa dikendalikan oleh suatu pedoman yang telah dipersiapkan lebih dahulu oleh pihak pewawancara.
pembetulannya
• tak terpimpin (tidak baku) - takterpimpin (baku)
• non-directive (tidak baku) - nondirektif (baku)
direktif sudah diakui menjadi bagian dari bahasa Indonesia.
• Suatu wawancara disebut wawancara takterpimpin, unguided atau nondirektif, jika jalan tanya jawab dikuasai oleh mood, keinginan, dan kecenderungan orang yang diwawancarai, tanpa dikendalikan oleh suatu pedoman yang telah dipersiapkan lebih dahulu oleh pihak pewawancara.
(10) Secara materiil, guru pembimbing mengasah kompetensi akademik melalui musyawarah guru pembimbing kabupaten, sedangkan secara strukturil mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya kepada kepala sekolah masing-masing.
pembetulannya
semua kata pungut asing yang berasal dari bahasa Inggris, penulisannya sedapat mungkin mendekati bahasa aslinya.
• materiil (tidak baku) - material (baku)
• strukturil (tidak baku) - struktural (baku)
• Secara material, guru pembimbing mengasah kompetensi akademik melalui musyawarah guru pembimbing kabupaten, sedangkan secara struktural mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya kepada kepala sekolah masing-masing.
(11) Klien SDM kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, karena orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan antar kota, kadang-kadang bahkan antar pulau.
pembetulannya
• antar kota (tidak baku) - antarkota (baku)
• antar pulau (tidak baku) - antarpulau (baku)
• Klien SDM kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, karena orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan antarkota, kadang-kadang bahkan antarpulau.
(12) Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 03 Demaan Kudus Tahun Pelajaran 2007/2008.
pembetulannya
• subyek (tidak baku) - subjek (baku)
• Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 03 Demaan Kudus Tahun Pelajaran 2007/2008.
(13) Data-data yang terkumpul tetapi kurang bermanfaat untuk mendukung hasil penelitian ini akan dieliminir. Hal ini dilakukan agar data-data yang digunakan dalam penelitian ini betul-betul yang berkait dengan materi penelitian.
pembetulannya
• eliminir (tidak baku) - eliminasi (baku)
• Data-data yang terkumpul tetapi kurang bermanfaat untuk mendukung hasil penelitian ini akan dieliminasi. Hal ini dilakukan agar data-data yang digunakan dalam penelitian ini betul-betul yang berkait dengan materi penelitian.
(14) sub judul (tidak baku) - subjudul (baku)
(15) sub bab (tidak baku) - subbab (baku)
(16) legalisir (tidak baku) - dilegalisasi (baku)
(17) dikoordinir (tidak baku) - dikoordinasi (baku)
(18) agro bisnis (tidak baku) - agrobisnis (baku)
(19) lantas (tidak baku) - lalu, kemudian (baku)
(20) IP komulatif (tidak baku) - IP kumulatif (baku)
(21) cuma (tidak baku) - hanya (baku)
(22) jaman (tidak baku) - zaman (baku)
(23) Senen (tidak baku) - Senin (baku)
(24) obyek (tidak baku) - objek (baku)
















BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Kesalahan berbahasa yang terjadi pada skripsi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2007/2008 dikategorikan menjadi lima kelompok.
(1) Kesalahan ejaan dan istilah.
(2) Kesalahan kata dan kalimat.
(3) Ketidakefektifan paragraf.
(4) Kesalahan tata tulis.
(5) Kesalahan penggunaan kata baku.
Kesalahan yang ejaan dan istilah adalah kesalahan yang berkaitan dengan pemakaian ejaan dan istilah. Ejaan pada dasarnya mencakup penulisan huruf, penulisan kata, penulisan singkatan, akronim, angka dan bilangan, serta penggunaan tanda baca. Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan ejaan berupa kesalahan penggunaan tanda baca, huruf kapital, penggunaan kata yang mubazir, dan pemakaian kata yang tidak baku.
Kesalahan kata adalah penggunaan kata yang rancu (tidak logis), kata berimbuhan, kata berimbuhan, gabungan kata, kata ulang, kata depan, partikel, penggalan kata, singkatan, dan akronim. Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan penggunaan kata, misalnya: penggunaan kata tidak baku (mempraktekkan seharusnya mempraktikkan), penggunaan kata semakna yang berlebihan (sangat penting sekali seharusnya sangat penting atau penting sekali), penggunaan frase yang tidak tepat (hubungan antara ... dengan ... seharusnya hubungan antara ... dan ..., atau hubungan ... dengan ...).
Kesalahan kalimat adalah penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Sebuah kalimat sekurang-kurangnya harus memiliki unsur subjek dan predikat. Kalimat yang bersubjek umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat. Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan kalimat, misalnya: kalimat mengalami banyak kesalahan mulai dari logika berbahasa dalam mengutip pendapat ahli, cara mengutip (seharusnya diambil nama belakang saja), sampai pada tanda berhenti yang menyiksa kalau diujarkan (di belakang kata berikut diberi tanda : [titik dua]). Tanda : [titik dua] ini tidak menunjukkan kesenyapan atau berhenti, sehingga pembaca tidak boleh berhenti sampai kalimat diakhiri dengan tanda . [titik]. Pada hal uraian di belakang tanda : ini masih banyak, kalau demikian apakah pembaca bisa bernafas dengan baik.
Kalimat yang efektif, pada gilirannya akan menghasilkan paragraf yang efektif. Oleh karena itu, keefektifan kalimat akan memberikan sumbangan besar terhadap kefektifan paragraf. Paragraf yang efektif adalah paragraf yang mengandung kesatuan makna (kohesi) dan kepaduan bentuk (kohensi). Di dalam penelitian ini ditemukan kesalahan yang berupa penyusunan paragraf yang tidak efektif dan sulit untuk dipahami. Paragraf ini hanya terdiri atas satu kalimat. Apabila kita membaca dengan benar akan menguras pernafasan kita, karena tidak ada jeda berhenti [.] di dalam paragraf tersebut. Di samping itu, kalimatnya juga agak sulit untuk dipahami.
Kesalahan tata tulis menyangkut kesalahan yang terdapat pada penulisan baku, misalnya: seharusnya tidak menggunakan tanda petik, ditulis diberi tanda petik; seharusnya tidak huruf besar semua, ternyata ditulis huruf besar semua; seharusnya awal kata yang menggunakan huruf besar selain kata aspek/konjungsi, ditulis semua awal kata dengan huruf besar semua, dan sebagainya.
Kesalahan penggunaan kata baku adalah kesalahan yang menyangkut penggunaan kata secara tidak baku, baik terletak pada kesalahan ejaan, penulisan huruf, penulisan unsur serapan, kata, maupun frasa.
5.2 Saran
Bahasa laporan penelitian mahasiswa banyak yang mengalami kesalahan. Kesalahan itu berupa kesalahan ejaan dan istilah, kesalahan penggunaan kata dan kalimat, kesalahan tata tulis, ketidakefektifan paragraf, dan penggunaan kata tidak baku. Berkait dengan tidak sedikitnya kesalahan tersebut, penulis menyarankan beberapa hal berikut ini.
1. Mahasiswa diharapkan lebih sungguh-sungguh berlatih menulis karya ilmiah. Kesalahan adalah hal yang wajar sebagai seorang pemula. Namun, apabila diikuti kesungguhan, lambat laun akan berkembang dengan baik.
2. Para dosen pembimbing diharapkan memperhatikan tulisan skripsi mahasiswa, baik dari segi bahasa, logika bahasa, keefektifan penulisan kalimat, kohesi dan koherensi paragraf maupun wacana keseluruhan, menggunakan kata baku, ejaan, maupun kesalahan penulisan.
3. Perlu adanya metode baru dalam pembelajaran menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis ilmiah mahasiswa.




















DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 1996. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.
Moeliono, Anton, Ed. 1988 a. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Moeliono, Anton, Ed. 1988 b. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Mustakim. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sudaryanto. 1993. Metode Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Data Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Poerwodarminto, W J S. 1876. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ramlan, M. 1993. Paragraf: Alur Berpikir dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.
Sugihastuti. 2000. Bahasa Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tarigan, H.G. 1985. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

Tarigan, H.G. 1991. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar