TATA CARA BERDOA

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas
Tampilkan postingan dengan label KEISLAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEISLAMAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

YA'JUJ DAN MA'JUJ

Oleh MAHMUDAH ABD MANAF

Nama Yakjuj dan Makjuj disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran, iaitu di dalam surah al-Kahfi ayat 94 dan surah al-Anbiya ayat 96. Di dalam surah al-Kahfi diterangkan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi yang ditakuti oleh suatu kaum yang tinggal di antara dua pergunungan sehingga ketika Zulkarnain datang ke tempat itu, kaum tersebut memohon kepadanya agar dibuatkan tembok penghalang daripada serangan mereka. Di dalam surah al-Anbiya, disebutkan bahawa Yakjuj dan Makjuj itu akan segera turun dengan cepat dari tempat yang tinggi ketika tembok penghalang mereka terbuka sebagai tanda telah dekatnya kedatangan janji Allah s.w.t.

Kamis, 21 April 2011

MEMBUMIKAN ALQURAN


Ungkapan “membumikan al-Quran” secara implisit membawa makna bahawa al-Quran kini masih “melangit” sehingga ia perlu dibumikan. Tentunya dalam pengertian hakikinya, al-Quran sebenarnya telah sepenuhnya “membumi” apabila Allah s.w.t menurunkan ayat al-Quran yang terakhir kepada Rasulullah s.a.w. Maka yang dimaksud dengan ungkapan “membumikan al-Quran” sebenarnya adalah

Sabtu, 16 April 2011

APA SAJA YANG BOLEH DIKERJAKAN WANITA?

Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Bagaimana hukum wanita bekeria menurut syara'? Maksudnya:
bekerja di luar rumah seperti laki-laki. Apakah dia boleh
bekerja dan ikut andil dalam produksi, pembangunan, dan
kegiatan kemasyarakatan? Ataukah dia harus terus-menerus
menjadi tawanan dalam rumah, tidak boleh melakukan aktivitas
apa pun? Sementara kami sering mendengar bahwa agama Islam
memuliakan wanita dan memberikan hak-hak kemanusiaan
kepadanya jauh beberapa abad sebelum bangsa Barat
mengenalnya. Apakah aktivitas yang ia lakukan itu tidak
dapat dianggap sebagai haknya yang akan menjernihkan air
mukanya, sekaligus dapat menjaga kehormatannya agar tidak
menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan seenaknya
ketika dibutuhkan atau dikurbankan ketika darurat?

Jumat, 15 April 2011

APAKAH NABI SAW MAKHLUK ALLAH YANG PERTAMA?

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Benarkah bahwa Nabi Muhammad saw. makhluk Allah yang pertama
dan bahwa beliau diciptakan dari cahaya?

Kami mengharapkan pendapat yang disertai dalil-dalil dari
Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Jawab:

Telah diketahui bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa
makhluk pertama adalah itu atau ini ... dan seterusnya,
tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para
ulama Sunnah.

Oleh karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan
sebagian lainnya. Sebuah hadis mengatakan, "Bahwa yang
pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena."

Hadis lainnya mengatakan, "Yang pertama kali diciptakan
Allah adalah akal." Telah tersiar di antara orang awam dari
kisah-kisah maulid yang sering dibaca bahwa Allah
menggenggam cahaya-Nya, lalu berfirman, "Jadilah engkau
Muhammad." Maka ia adalah makhluk yang pertama kali
diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi dan
seterusnya.

Dari itu tersiar kalimat:

"Shalawat dan salam bagimu wahai makhluk Allah yang
pertama," hingga kalimat itu dikaitkan dengan adzan yang
disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.

Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh
akal, tidak akan mengangkat agama, dan tidak pula
bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.

Keawalan Nabi Muhammad saw. sebagai makhluk Allah tidak
terbukti, seandainya terbukti tidaklah berpengaruh pada
keutamaan dan kedudukannya di sisi Allah. Tatkala Allah
Ta'ala memujinya dalam Kitab-Nya, maka Allah memujinya
dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar orang yang berbudi
pekerti agung" (Q.s. Al-Qalam: 4).

Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir. Nabi
kita Muhammad saw. adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy yang dilahirkan lantaran
kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah
binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah. Beliau dilahirkan
scbagaimana halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana
manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi dan
Rasul sebelumnya diutus, dan bukan Rasul yang pertama di
antara Rasul-rasul.

Beliau hidup dalam waktu terbatas, kemudian Allah
memanggilnya kembali kepada-Nya:

"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan
mati (pula)." (Q.s. Az-Zumar: 30).

Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul
ditanya:

"(Ingatlah) hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul,
lalu Allah bertanya (kepada mereka), 'Apa jawaban kaummu
terhadap (seruan)mu?' Para Rasul menjawab, 'Tidak ada
pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah yang
mengetahui perkara yang gaib'." (Q.s. Al-Maidah: 109).

Al-Qur'an telah menegaskan kemanusiaan Muhammad saw. di
berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu
kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia
seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa sesungguhnya
Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa ...'." (Q.s. Al-Kahfi:
110).

"Katakanlah, 'Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya
seorang manusia yang menjadi Rasul?'" (Q.s. Al-Isra': 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti
manusia-manusia lainnya, tidak memiliki keistimewaan,
kecuali dengan wahyu dan risalah.

Nabi saw. menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya
terhadap Allah, dan memperingatkan agar tidak mengikuti
kebiasaan-kebiasaan dari orang-orang sebelum kita, yaitu
penganut agama-agama terdahulu dalam hal memuja dan
menyanjung:

"Janganlah kamu sekalian menyanjungku sebagaimana kaum
Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah
hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.r. Bukhari).

Nabi yang agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya
dan tidak diciptakan dari cahaya maupun emas, tetapi
diciptakan dari air yang memancar dan keluar dari tulang
sulbi laki-laki dan tulang rusuk wanita sebagai bahan
penciptaan Muhammad saw.

Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah
cahaya Allah dan pelita yang amat terang. Al-Qur'an
menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.:

"Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi
dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Untuk
menjadi penyeru pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk
menjadi cahaya yang menerangi."(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).

Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:

"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah,
dan Kitab yang menerangkan." (Q.s. Al-Maidah: 15).

"Cahaya" dalam ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana
Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.

Allah swt. berfirman:

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta
cahanya (Al-Qur an) yang telah Kami turunkan." (Q.s.
At-Taghaabun: 8).

"... dan telah Kami turunkan kepada kamu cahaya yang
terangbenderang." (Q.s. An-Nisa': 174).

Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:

"... Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju
cahaya terang-benderang..." (Q.s. Ibrahim: 1).

Doa Nabi saw.:

"Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam hatiku berilah aku
cahaya dalam pendengaranku dan berilah aku cahaya dalam
penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah aku
cahaya di sebelah kanan dan kiriku di depan dan di
belakangku." (H.r. Muttafaq Alaih)

Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya dan Rasul pembawa
hidayat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang
yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.

---------------------------------------------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177

Minggu, 10 April 2011

Yajuj Majuj

Oleh MAHMUDAH ABD MANAF

Nama Yakjuj dan Makjuj disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran, iaitu di dalam surah al-Kahfi ayat 94 dan surah al-Anbiya ayat 96. Di dalam surah al-Kahfi diterangkan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi yang ditakuti oleh suatu kaum yang tinggal di antara dua pergunungan sehingga ketika Zulkarnain datang ke tempat itu, kaum tersebut memohon kepadanya agar dibuatkan tembok penghalang daripada serangan mereka. Di dalam surah al-Anbiya, disebutkan bahawa Yakjuj dan Makjuj itu akan segera turun dengan cepat dari tempat yang tinggi ketika tembok penghalang mereka terbuka sebagai tanda telah dekatnya kedatangan janji Allah s.w.t.

Al-Quran tidak menerangkan siapa sebenarnya Yakjuj dan Makjuj, daripada bangsa dan keturunan mana mereka itu. Al-Quran hanya menjelaskan sifat-sifat mereka, iaitu kaum pembuat kerosakan di bumi; kalau tembok penghalang dibuka, mereka akan turun mengalir seperti mengalirnya air bah, dan apabila tembok penghalang kukuh, mereka tidak masuk dan tidak dapat membuat kerosakan. Oleh kerana itu timbullah beberapa tafsiran, antara lain:

(1) Ahmad Mustafa al-Maragi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahawa Yakjuj adalah berbangsa Tartar, dan Makjuj adalah berbangsa Mongol. Mereka berasal daripada satu bapa yang bernama Turk, tempat tinggal mereka di bahagian utara Asia. Daerah mereka memanjang dari Tibet dan China sampai ke Laut Baku Utara, di barat sampai Turkestan.

Dalam pelbagai zaman, bangsa-bangsa ini sering menyerang, membuat kerosakan di muka bumi dan menghancurkan bangsa-bangsa lain. Di antara mereka terdapat bangsa-bangsa yang kejam, turun dari bukit-bukit di Asia Tengah dan pergi ke Eropah pada masa dahulu, seperti bangsa Semith, Simeria, dan Hun. Mereka banyak menyerang negeri-negeri China dan Asia Barat. Dengan munculnya Temujin yang dikenal dengan nama Genghis Khan (di dalam bahasa Mongol bermaksud “Raja Alam”; 1167-1227), pada awal abad ke-7 H / 12 M, berikutan tenteranya yang perkasa keluar jauh ke Asia Tengah. Ia menundukkan China Utara kemudian pergi ke negeri-negeri Islam, lalu menundukkan Sultan Qutbuddin bin Armilan, salah seorang raja Seljuk yang menganut aliran Khawarij. Genghis Khan melakukan kekejaman yang belum pernah berlaku sebelumnya di negeri tersebut.

(2) Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), seperti dikutip Ibnu Kasir menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Nuh memiliki tiga orang anak, iaitu Sam, nenek moyang orang Arab; Ham, nenek moyang orang Sudan; dan Yafis, nenek moyang orang Turk.” Menurut sebahagian ulama, Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan Yafis, putera Nuh ini. Demikian juga pendapat Nasafi, seorang ahli fekah, usul fekah dan tafsir yang bermazhab Hanafi yang menyatakan bahawa Yakjuj berasal daripada suku Turk, manakala Makjuj pula berasal daripada suku Jail serta Dailam keturunan Yafis yang membuat kerosakan di muka bumi. Mereka tidak mati dan masing-masing memiliki seribu keturunan yang diperlengkapi dengan senjata.

(3) Hamka pula memberi tafsiran bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah segala gerakan yang telah dan akan merosakkan dunia ini. Oleh hal yang demikian, baik diri, keluarga, mahupun negara serta bangsa wajib mendirikan tirai besi sebagai benteng agar Yakjuj dan Makjuj tidak dapat masuk. Mungkin Yakjuj dan Makjuj dapat ditafsirkan sebagai berfikiran jahat, bermaksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianuti sebahagian manusia. Manusia yang menganutnya dengan kelicikan kejahatannya boleh mempergunakan manusia sesamanya sebagai alat untuk merosakkan bumi ini. Sebab itu, fikiran yang baik, cita-cita yang mulia, dan ideologi yang sihat harus ditanam dengan teguh pada setiap diri, keluarga, dan negara serta bangsa untuk membentengi Yakjuj dan Makjuj. Yakjuj dan Makjuj laksana air, senantiasa mencari tempat untuk masuk walaupun hanya sebesar lubang jarum.

Sabtu, 09 April 2011

NASIB WANITA

Oleh YAZID ABDUL QADIR JAWAS

(Tulisan ini ditulis kembali daripada bahan asalnya ath-Thariiq ilal Islaam oleh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dan tersiar di dalam http:/www.almanhaj.or.id/content/2372/slash/1. Memandangkan kandungannya yang baik, mengandungi ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat Islam, khasnya kaum wanita, sesuai dengan waktu sambutan Hari Wanita Sedunia, rencana ini telah dipilih dan diedit semula ke dalam bahasa Malaysia. Semoga ia bermanfaat kepada seluruh pembaca. – Editor)

Penulis sengaja membahas masalah ini sebagai penjelasan kepada mereka yang tidak senang kepada Islam dan orang-orang bodoh yang menganggap bahawa Islam merendahkan martabat wanita. Ini juga berkaitan dengan anjurkan agar wanita hanya berada di rumah, wajibnya mereka memakai jilbab, wajibnya mereka melayani suami, diterimanya persaksian dua orang wanita sedangkan lelaki cukup seorang saja, hak waris wanita separuh daripada hak lelaki, atau ketidaksenangan mereka hanya disebabkan Islam membolehkan seorang lelaki ta’addud (poligami/ beristeri lebih daripada satu). Padahal dengan dibolehkannya berpoligami akan dapat mengangkat martabat wanita.

Bagaimanapun, seorang wanita yang bersuami lebih baik daripada wanita yang hidup sebagai anak dara tua, hidup menjanda, atau bahkan bergelumang dengan dosa lagi menghinakan diri dengan hidup melacur. Bahkan, ada wanita yang jahat dan zalim mengatakan kepada suaminya, “Lebih baik engkau berzina/melacur daripada aku dimadu.” Na’udzu billaahi min dzalik.

Dalam Islam, seorang lelaki akan lebih baik dan mulia jika ia menikah lagi (berpoligami) daripada ia berzina/melacur kerana zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek perbuatan. Allah Taala berfirman yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)

Sedangkan kewujudan atau munculnya pelacuran dan wanita ‘pelacur’ akan merendahkan dan memperlekehkan martabat wanita, juga sebagai bentuk penghinaan kepada wanita serta menjerumuskan mereka ke neraka.Di muka bumi ini tidak ada agama yang amat memperhatikan dan mengangkat martabat kaum wanita selain Islam. Islam memuliakan wanita dari sejak ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia.
Islam benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dan memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar lelaki; sebaik-baik mereka adalah yang terbaik bagi keluarganya. Wanita Muslimah pada masa bayinya mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati bagi kedua-dua ibu dan bapak serta adik beradik lelakinya.
Apabila wanita telah memasuki usia remaja, ia dimuliakan dan dihormati. Walinya cemburu kerananya, ia meliputinya dengan penuh perhatian, maka ia tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhnya atau rayuan-rayuan lidah tidak bertulang atau lirikan mata (lelaki) mengganggunya.

Dan apabila ia menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan ‘kalimatullah’ dan perjanjian yang kukuh. Maka ia tinggal di rumah suami sebagai pendamping setia dengan kehormatan yang terpelihara, suami berkewajiban menghargai dan berbuat baik (ihsan) kepadanya dan tidak menyakiti fizikal mahupun perasaannya.

Apabila ia telah menjadi seorang ibu, maka (perintah) berbakti kepadanya dinyatakan sama atau selari dengan hak Allah s.w.t, kederhakaan dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan sama dengan kesyirikan kepada Allah s.w.t dan perbuatan kerosakan di muka bumi.

Apabila ia adalah sebagai saudara perempuan, maka dia adalah orang yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim, dimuliakan dan dilindungi.

Apabila ia sebagai nenek atau lanjut usianya, maka kedudukan dan nilainya bertambah tinggi di mata anak-anak, cucu-cucunya dan seluruh kaum keluarga terdekat. Maka permintaannya tidaak ditolak dan pendapatnya tidak diremehkan.

Apabila ia jauh daripada orang lain, jauh daripada kaum keluarga, maka dia memiliki hak-hak Islam yang umum, seperti menahan diri daripada perbuatan buruk terhadapnya, menahan pandangan mata daripadanya dan lain-lain.

Masyarakat Islam masih tetap memelihara hak-hak tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga wanita benar-benar memiliki nilai dan kedudukan yang tidak akan ditemukan di dalam masyarakat non-Muslim.

Lebih daripada itu, wanita di dalam Islam memiliki hak kepemilikan, penyewaan, jual beli, dan segala bentuk transaksi, dan juga mempunyai hak untuk belajar dan mengajar selagi tidak bertentangan dengan agamanya. Bahkan di antara ilmu syar’i itu ada yang bersifat fardu ain – berdosa apabila diabaikan – baik oleh lelaki mahupun wanita.

Dia juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum lelaki, kecuali beberapa hak dan hukum yang memang khusus bagi kaum wanita, atau beberapa hak dan hukum yang khusus bagi kaum laki-laki yang layak bagi masing-masing jenis sebagaimana dijelaskan secara terperinci di dalam bahasan-bahasannya.

Di antara penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya Islam memerintahkan kepadanya hal-hal yang dapat memelihara, menjaga kehormatannya dan melindunginya daripada kata-kata rayuan, pandangan mata pengkhianat dan tangan-tangan jahat. Maka itu, Islam memerintahkan kepadanya berhijab dan menutup aurat, menghindari perbuatan tabarruj (berhias diri untuk umum), menjauhi daripada perbauran dan percampuran dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan daripada setiap hal yang dapat menyeret kepada fitnah.

Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya Islam memerintahkan kepada suami agar memberinya nafkah, mempergaulinya dengan baik, menghindari perbuatan zalim dan tindakan menyakiti fizikal atau perasaannya.

Bahkan termasuk daripada keindahan ajaran Islam bahawasanya Islam membolehkan bagi kedua-dua suami isteri untuk berpisah (bercerai) apabila tidak ada kesepakatan dan tidak dapat hidup bahagia bersama-sama. Maka, suami boleh menceraikannya setelah gagal melakukan berbagai-bagai upaya ishlah (damai), dan pada ketika kehidupan kedua-duanya menjadi bagaikan api neraka yang tidak dapat dipertahankan.

Dan Islam membolehkan isteri meninggalkan suaminya jika suami melakukan penganiayaan terhadap dirinya, memperlakukannya dengan buruk. Maka dalam keadaan seperti itu isteri boleh meninggalkannya dengan syarat membayar ganti rugi yang disepakati bersama suami, atau melakukan kesepakatan bersama atas hal tertentu untuk kemudian isteri dapat meninggalkannya.

Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahawasanya lelaki dibolehkan berpoligami, iaitu nikah lebih daripada satu isteri. Lelaki boleh menikah dengan dua, tiga atau empat isteri dan tidak boleh lebih daripada itu, dengan syarat berlaku adil dalam memberikan nafkah bain dan zahir, dan tempat tinggal di antara mereka; dan kalau suami cukup menikah dengan satu isteri saja, maka itu adalah haknya.

Sesungguhnya berpoligami itu mempunyai hikmah yang begitu besar dan banyak maslahatnya yang tidak diketahui oleh orang-orang yang menjelek-jelekkan Islam, mereka tidak mengerti hikmah di sebalik pensyariatan ajaran-ajarannya.

Di antara hal-hal yang mendukung hikmah di sebalik dibolehkan berpoligami adalah seperti yang berikut:

1) Sesungguhnya Islam melarang perzinaan dan amat tegas dalam mengharamkannya, kerana perzinaan dapat menimbulkan kerosakan dan kehinaan yang tidak terkira jumlahnya, di antaranya adalah: kaburnya masalah keturunan (nasab), membunuh sifat malu, menodai dan menghapus kemuliaan dan kehormatan wanita; kerana zina akan menyerkupnya dengan kehinaan yang tiada batasnya, bahkan kehinaan dan noda akan menimpa keluarga dan kaum keluarga terdekatnya.

Di antara bahaya zina adalah ialah tindakan terhadap janin yang diperoleh daripada hasil perzinaan, kerana ia akan hidup dengan nasab yang terputus.

Termasuk bahaya zina: berbagai-bagai penyakit mental dan jasmani yang timbul akibat daripada perbuatan terkutuk itu, yang sukar digalas, bahkan kadang-kadang hingga mengancam jiwa pezina, seperti Sipilis, Gonorheo, Aids dan lain sebagainya.

Ketika Islam mengharamkan zina dan dengan keras mengharamkannya, ia juga membuka lebar pintu yang sah (masyru’) di mana seseorang dapat merasakan ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan, iaitu nikah.

Jadi Islam mengajarkan nikah dan membolehkan poligami sebagaimana disinggung di atas.

Tidak diragukan lagi bahawasanya melarang poligami adalah tindakan kezaliman terhadap lelaki dan wanita. Melarang poligami akan membuka lebar pintu perzinaan, kerana kuantiti kaum wanita lebih besar daripada kuantiti kaum lelaki di setiap masa dan tempat.

Hal itu akan lebih jelas lagi pada masa seringnya terjadi peperangan. Maka, menghalang lelaki menikah dengan satu isteri dapat menyebabkan jumlah besar kaum wanita yang hidup tanpa suami yang membawa kesukaran, kesempitan, dan ketidakpastian bagi mereka, bahkan kadang-kadang boleh menjerumuskan ke dalam lembah penjualan kehormatan dan kesucian diri, tersebarnya perzinaan dan kesia-siaan anak keturunan.

2) Sesungguhnya nikah itu bukan kenikmatan jasadi (fizikal) semata-mata, akan tetapi di sebaliknya itu terdapat ketenteraman dan kedamaian jiwa, di samping kenikmatan mempunyai anak. Dan anak di dalam Islam tidak seperti anak dalam sistem-sistem kehidupan lainnya, kerana kedua-dua ibu bapa mempunyai hak ke atas anak. Apabila seorang wanita dikurniai beberapa orang anak, lalu anak-anak itu dididik dengan sebaik-baiknya, maka mereka menjadi buah hati dan penghibur baginya. Maka pilihan mana yang terbaik bagi wanita; hidup di bawah lindungan suami yang melindungi, mendampingi dan mengambil berat tentang dirinya serta dikurniai anak-anak yang apabila dididik dengan baik akan menjadi buah dan penghibur hati baginya, atau memilih hidup sebatang kara dengan nasib tiada menentu?

3) Sesungguhnya pandangan Islam adalah pandangan yang adil lagi seimbang. Islam memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan adil, dan pandangan yang adil itu mengatakan bahawa sesungguhnya memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan mata keadilan.




Jadi, apa dosa para wanita ‘awanis (membujang hingga melewati usia sepatutnya mereka sudah menikah) yang tidak mempunyai suami? Kenapa tidak dilihat dengan mata yang penuh kasih sayang kepada wanita menjanda kerana ditinggal mati suaminya, sedangkan ia masih pada usia produktif? Kenapa tidak melihat dan memperhatikan kepada wanita yang amat banyak jumlahnya yang hidup tanpa suami?Yang mana yang lebih baik bagi wanita: Hidup dengan senang di bawah lindungan suami bersama wanita (isteri, madu) yang lain, sehingga dengan begitu ia merasakan kedamaian dan ketenteraman jiwa, ia dipertemukan dengan orang yang mengambil berat tentang dirinya dan dikurniai, ataukah hidup seorang diri tanpa suami sama sekali?
Mana yang lebih baik bagi masyarakat: Adanya sebahagian kaum pria yang berpoligami hingga masyarakat terhindar daripada beban gadis-gadis tua, atau tidak seorang pun berpoligami sehingga mengakibatkan masyarakat berlumur dengan berbagai-bagai kehancuran dan kerusakan?
Mana yang lebih baik: Seseorang mempunyai dua, tiga atau empat isteri? Atau cukup dengan seorang isteri sahaja dengan puluhan wanita simpanan?

4) Berpoligami itu tidak wajib hukumnya. Maka, banyak lelaki Muslim yang tidak melakukan poligami kerana merasa puas dengan seorang isteri, dan kerana ia merasa tidak akan dapat berlaku adil (apabila berpoligami). Oleh karena itu, ia tidak perlu berpoligami.

5) Sesungguhnya tabiat dan naluri kaum wanita itu amat berbeza dengan tabiat dan naluri kaum lelaki; hal itu apabila dilihat daripada sudut kesediaannya untuk digauli. Wanita tidak selalu siap untuk digauli pada setiap waktu, kerana wanita harus melalui masa haid hingga sampai sepuluh hari atau dua minggu pada setiap bulan yang menjadi penghalang untuk digauli.

Pada masa nifas (setelah melahirkan anak) juga ada penghalang hingga biasanya mencapai 40 hari. Melakukan hubungan suami isteri (hubungan intim) pada kedua-dua masa tersebut dilarang secara syar’i, kerana akan mengandung risiko yang membahayakan.

Pada masa kehamilan, kesediaan wanita untuk dicampuri suaminya kadangkala tidak memberangsangkan. Dan demikianlah selanjutnya.

Sedangkan kaum lelaki, kesediaannya selalu stabil sepanjang bulan dan tahun (waktu) dan terdapat sebahagian lelaki yang jika dihalang untuk berpoligami akan terjerumus ke dalam perzinaan.

6) Ada kalanya si isteri mandul tidak dapat melahirkankan anak sehingga suami tidak dapat menikmati hidup bagaimana mempunyai anak. Daripada ia menceraikan isterinya lebih baik ia menikah lagi dengan wanita lain yang subur.

Mungkin ada yang bertanya: Apabila suami mandul sedangkan isteri normal, apakah isteri mempunyai hak untuk berpisah?

Jawabnya: Ya, ia berhak untuk itu jika menghendakinya.

7) Ada kalanya isteri menghidap penyakit kekal, seperti lumpuh atau lainnya sehingga tidak mampu untuk melakukan tugas mendampingi suami. Maka, daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah lagi dengan wanita yang lain.

Ada kalanya tingkah laku isteri buruk seperti berperangai jahat, berakhlak buruk (tidak bermoral) tidak menjaga hak-hak suaminya. Daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah dengan wanita yang lain lagi sebagai penghargaan kepada isteri pertama dan menjaga hak-hak keluarganya serta menjaga kemaslahatan anak-anak jika telah mempunyai anak daripadanya.



9) Sesungguhnya kemampuan lelaki untuk menurunkan keturunan lebih besar daripada kemampuan wanita. Lelaki dapat menurunkan anak hingga usia enam puluhan, bahkan kadang sampai pada usia seratus ia tetap masih segar dan mampu menurunkan anak. Sedangkan kemampuan wanita rata-rata berhenti sampai usia empat puluhan atau lebih sedikit. Maka, mencegah poligami adalah perbuatan menghalangi umat daripada mempunyai keturunan.
10) Di dalam pernikahan dengan isteri kedua, terdapat waktu terluang bagi isteri pertama. Isteri mempunyai peluang waktu untuk sedikit beristirahat daripada beban-beban tugas melayani suami, kerana telah ada orang yang membantunya dan mengambil sebahagian tugas melaksanakan beban melayani suami.
Maka itu, ada sebahagian wanita yang berakal, apabila memasuki usia lanjut dan kurang mampu memberikan yang terbaik untuk suaminya, mereka memberi isyarat agar suaminya menikah lagi.
11) Mencari pahala. Adakalanya seseorang menikah lagi dengan wanita miskin yang tidak mempunyai tanggungan hidup, ia menikahinya dengan maksud untuk menyelamatkan kesucian dan memberikan perlindungan kepadanya, dengan harapan mendapat pahala daripada Allah s.w.t.

12) Sesungguhnya yang membolehkan berpoligami itu adalah Allah s.w.t yang sudah tentu lebih mengetahui maslahat-maslahat hamba-hamba-Nya.

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahawa hikmah Islam dan pandangan sejagatnya di dalam membolehkan poligami dan sekali gus menjadi jelas pula kejahilan orang-orang yang mencela ajaran-ajaran Islam.

Di antara penghargaan Islam kepada para wanita Muslimah, bahawasanya Islam menetapkan bahagian khusus bagi wanita daripada harta warisan (harta pusaka). Maka seorang ibu mendapat bahagian tertentu, dan isteri, anak perempuan serta adik beradik perempuan pun masing-masing mendapat bahagian tertentu.

Adalah merupakan kesempurnaan keadilan bahawasanya lelaki daripada harta warisan. Barangkali ada sebahagian orang yang picik akalnya mengira bahawa pembahagian tersebut merupakan kezaliman (tidak adil), dengan mengatakan, “Bagaimana bahagian anak lelaki sama dengan bahagian dua anak perempuan daripada harta warisan? Kenapa bahagian anak perempuan setengah daripada bahagian anak laki-laki?”

Jawabnya adalah: Bahawa sesungguhnya yang memberikan ketetapan demikian itu adalah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui tentang maslahat-maslahat para hamba-Nya.

Kemudian di mana letak kezalimannya? Sungguh, sistem (hukum) Islam itu integral dan saling berkaitan. Maka bukan bahagian daripada keadilan apabila hanya mengambil satu sistem atau satu ketetapan hukum (tasyri’) lalu memandangnya dari satu sudut tanpa mengaitkannya dengan bahagian lainnya, akan tetapi seharusnya melihatnya daripada berbagai-bagai sudut sehingga gambaran menjadi jelas dan keputusan menjadi adil.

Hal yang menampakkan keadilan Islam di dalam masalah ini adalah bahawasanya Islam menjadikan nafkah isteri itu sebagai kewajiban suami dan demikian pula halnya mahar untuk isteri adalah kewajiban suami pula.

Sebagai contoh, jika ada seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan, maka anak lelaki mendapat dua kali ganda bagian adik beradik perempuannya (2:1), lalu masing-masing menikah. Pada saat menikah, anak lelaki itu harus membayar mahar, menyediakan tempat tinggal, memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya sepanjang hayatnya.

Sedangkan saudara perempuan akan mendapat mas kahwin daripada suaminya dan tidak dituntut untuk memberikan sedikit pun daripada harta miliknya untuk diserahkan kepada suami, atau menafkahi urusan rumah tangganya, ataupun kepada anak-anaknya. Maka, dengan demikian saudara perempuan dapat menghimpun bahagian harta pusaka daripada orang tuanya dengan mahar yang ia peroleh daripada suami, dan bersamaan dengan itu ia tidak dituntut untuk menafkahi diri dan anak-anaknya.

Jika demikian, tidaklah adil jika lelaki mendapat bahagian yang sama dengan anak perempuan.

Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita dalam Islam; lalu di mana nilai dan darjat sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi dibanding sistem-sistem Islam yang samawi lagi adil? Sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi ini tidak memperlihatkan harkat dan martabat kaum wanita, di mana seorang ayah melepaskan diri daripada anak perempuannya ketika mencapai usia 18 tahun atau kurang, agar anak perempuan keluar dengan nasib tidak menentu mencari tempat tinggal dan sesuap nasi untuk memenuhi rasa laparnya, yang kadangkala hal itu sampai mengorbankan dan menjual kehormatan diri dan kemuliaan akhlak.

Bandingkanlah penghargaan Islam terhadap wanita yang telah menjadikannya sebagai manusia yang mulia daripada sistem-sistem yang memandang wanita sebagai sumber kejahatan dan dosa, sistem yang telah merampas hak-haknya di dalam pemilikan dan tanggungjawab dan menjadikan wanita hidup berlumur kehinaan dan kenistaan serta menganggapnya sebagai makhluk najis? Dan mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada orang-orang yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan yang memperjualbelikan jasadnya di dalam berbagai-bagai promosi bisnes dan iklan?

Mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada sistem-sistem yang menganggap perkahwinan sebagai transaksi jual-beli di mana isteri berpindah supaya menjadi salah satu daripada harta kekayaan suami? Hingga sebahagian pertemuan mereka yang diselenggarakan untuk mengkaji hakikat dan roh wanita, apakah ia termasuk manusia atau bukan?

Demikianlah kita melihat bahawa wanita Muslimah merasakan kebahagiaan di dunianya bersama keluarga, di bawah asuhan kedua-dua orang tuanya, di bawah perlindungan suaminya dan balasan kasih sayang anak-anaknya, apakah itu ketika ia di masa anak-anak, remaja atau di masa lanjut usia, dan di dalam keadaan fakir mahupun kaya dan sihat mahupun sakit.

Kalau terdapat kejanggalan dalam hak-hak wanita yang terdapat pada sebahagian negara Islam atau daripada sebahagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam, maka semua itu terjadi kerana kejahilan mereka serta kerana jauhnya daripada penerapan ajaran Islam. Kesalahan dan dosa ditanggung oleh orang yang bersalah, sedangkan Islam bersih dan bebas daripada tanggungjawab kesalahan tersebut.

’Pembersihan’ kesalahan tersebut hanya dapat dilakukan dengan kembali kepada petunjuk ajaran Islam, supaya kesalahan dapat diperbetulkan.

Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam secara singkat; kesucian diri, perlindungan, kasih sayang, cinta dan perhatian serta berbagai-bagai macam nilai-nilai murni dan luhur lainnya.

Adapun peradaban sekarang hampir tidak mengenal sedikit pun nilai-nilai luhur tersebut yang hanya memandang wanita dengan pandangan materialis. Peradaban moden memandang bahawa hijab wanita dan kesucian dirinya sebagai sesuatu yang tertinggal di belakang, dan bahawaa wanita harus menjadi boneka yang dapat dipermainkan oleh setiap lelaki ‘mata keranjang’, dan itulah rahsia kebahagiaan menurut mereka.

Mereka tidak menyedari bahawa tabarruj dan ‘telanjangnya’ kaum wanita adalah disebabkan daripada kesengsaraan dan seksaannya.

Jika tidak, apa hubungan kemajuan dan pengajaran dengan tabarruj, penampakan anggota-anggota badan wanita yang penuh dengan fitnah, porno, pamer kecantikan, buka dada, dedah paha dan hal-hal yang lebih dahsyat daripada itu?

Apakah memakai pakaian nipis, tembus pandang dan pendek itu adalah sebahagian daripada alat-alat peraga pendidikan dan pengajaran?

Kemudian, kemuliaan yang mana ketika foto-foto wanita cantik ditampilkan dalam iklan-iklan, pornografi dan berbagai-bagai promosi? Kenapa yang laris di kalangan mereka hanya wanita-wanita cantik sahaja? Lalu apabila kecantikan dan keindahannya itu sudah lenyap, mereka diabaikan dan dicampakkan bagaikan barang yang sudah tidak berguna langsung! Lalu apakah bahagian wanita yang kurang cantik daripada peradaban moden ini? Apa bahagian untuk ibu yang lanjut usia, nenek dan wanita-wanita cacat?

Sesungguhnya bahagian mereka yang paling baik (menurut peradaban moden) adalah ditempatkan di tempat-tempat perlindungan atau kebajikan di mana mereka tidak dikunjungi dan tidak juga ditanya tentang keadaan hidup mereka. Memang ada di antaranya yang mendapat elaun pencen atau yang serupa dengannya yang mereka habiskan sisa-sisa usia, tetapi di situ tidak ada hubungan silaturahim, tidak ada kaum keluarga terdekat, tidak ada teman setia. Apakah hal itu semua tidak diperlukan oleh mereka?

Adapun wanita di dalam Islam, semakin lanjut usia mereka semakin dihormati, semakin besar pula hak mereka dan semakin berlumba anak-anak dan kaum keluarga terdekat untuk berbuat yang terbaik kepada mereka – sebagaimana dikemukakan di atas – kerana mereka telah selesai melakukan tugasnya, dan yang tersisa adalah kewajiban anak-anak, cucu, keluarga dan masyarakat terhadap mereka.

Sedangkan tuduhan dan anggapan bahawa hijab dan menjaga kesucian diri itu sebagai tanda ketinggalan dan kolot adalah tuduhan dan anggapan batil lagi palsu. Sesungguhnya tabarruj dan mempamer kecantikan itulah sebenarnya kesengsaraan dan azab, dan itulah sikap yang mundur.

Apabila pembaca ingin dalilnya bahawa tabarruj dan mempamer kecantikan adalah sikap yang mundur, maka perhatikanlah dekadensi atau keruntuhan moral manusia dengan pelbagai perlakuan sumbang dan menjijikkan.



Dalam hal ini, siapakah yang lebih moden, seorang yang berpakaian separuh bogel dan hidup di bandar itu berbanding dengan penduduk asli di pedalaman hutan yang memang berbogel?Orang yang memperhatikan dan mengikuti keadaan mereka di dalam kemajuannya dapat melihat bahawa sesungguhnya setiap kali mereka meraih suatu kemajuan di dalam peradaban, semakin bertambah pula ‘wanita-wanita telanjang’, sebagaimana yang kelihatan bahawa peradaban Barat sedang berada pada jalan menuju kehancurannya, mundur selangkah demi selangkah.
Demikianlah menjadi lebih jelas bagi kita betapa keagungan kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam adalah mulia dan terhormat.

Kamis, 07 April 2011

ANTARA HAMBA DAN KHALIFAH ALLAH

Isu ini telah saya bangkitkan di dalam akhbar Utusan Malaysia pada 27 November lalu ketika membicarakan seruan Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi tentang keperluan memperkasakan sekolah kebangsaan di Malaysia. Hal yang sama juga telah saya sentuh di dalam program khas Al-Kulliyyah secara langsung di TV3 juga pada 27 November 2002 ketika membicarakan tajuk Islam Serba Indah.

Saya melihat bahawa sejak lima belas abad kedatangan Islam ke rantau ini, tekanan dan kefahaman kita tentang Islam adalah tertumpu sebahagian besarnya kepada amalan ritual, ibadat khusus dan fardu ain sahaja. Penumpuan kepada soal ini sememangnya merupakan asas yang penting dan utama bagi setiap individu Islam agar asas utama Islam ini menjadi amalan umat keseluruhannya.

Tetapi yang menjadi masalah ialah apabila asas amalan Islam ini tidak dilanjutkan lagi ke hadapan, iaitu ke satu sasaran yang menjangkaui aspek ibadat khusus dan amalan ritual. Sepatutnya dengan perubahan zaman dan keadaan dan kemajuan manusia yang telah begitu jauh terkehadapan, segala ajaran Islam juga seharusnya telah dapat meliputi segala aspek kehidupan umat Islam.

Kita sering memperkatakan tentang kejadian manusia sebagai makhluk Allah subhanahu wa taala dan fungsi manusia, atau tujuan manusia diciptakan Allah. Mengikut ajaran Islam, manusia dijadikan Allah adalah untuk menjalankan peranannya sebagai hamba Allah, dan dalam masa yang sama menjadi khalifah-Nya untuk mentadbir dan membangunkan dunia ini mengikut perintah dan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman:

Dialah (Allah) yang menjadikan kamu sebagai para khalifah di bumi, dan mengangkat beberapa darjat sesetengah kamu di atas sesetengah (yang lain) agar Dia dapat menguji kamu di atas apa yang kamu lakukan (Al-An'am, ayat 165).

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahawa makhluk Allah yang bernama manusia ini telah diamanahkan oleh Allah agar menjadi khalifah untuk mengatur kehidupan di muka bumi sesuai dengan ajaran-Nya. Maka di antara umat manusia itu pula, Allah akan mengangkat darjat mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan dalam menunaikan tanggungjawab tersebut.

Maka tugas khalifah ialah untuk memakmurkan alam, mengambil manfaat daripada kejadian langit dan bumi, lautan dan daratan, di atas muka bumi dan di dalam perutnya, mentadbir umat manusia supaya dapat berfungsi sebagai umat yang berakhlak dan berkemajuan, bertamadun dan berilmu. Tugas ini merupakan tanggungjawab manusia ketika diberikan amanah untuk mentadbirkan alam ini dengan sebaik-baiknya.

Segala panduan dan dasar pentadbiran ini telah diterangkan oleh Allah dalam kitab suci al-Quran, dan diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam sejarah hidupnya dengan perbuatan dan perkataan baginda, serta tingkah laku dan kepimpinan baginda sendiri sepanjang hayat baginda. Di dalam al-Quran terdapat penjelasan umum tentang segala sesuatu yang terdapat di atas muka bumi dan alam sarwajagat ini. Terdapat segala dasar ilmu dunia akhirat yang membuka ruang yang begitu luas tanpa sempadan untuk manusia mengkajinya.

Al-Quran mengajar manusia supaya menjadi umat yang bertamadun, berilmu pengetahuan, menjadi hamba Allah yang dapat berfikir, berperanan sebagai makhluk yang dapat mengambil faedah daripada segala kejadian-Nya, sehingga ruang lingkup rahsia kejadian Allah dan kurniaan-Nya menjelma menjadi bidang ilmu yang seharusnya dikuasai manusia, dan bidang ilmu inilah yang kemudiannya menjelma dalam era maju manusia menjadi ilmu teknologi, pengurusan, ekonomi, kemanusiaan, perusahaan, pembuatan dan sains.

Inilah sebahagian daripada peranan yang menjadi tanggungjawab manusia di atas muka bumi ini dan seharusnya ditunaikan atas sifatnya sebagai khalifah Allah. Umat yang diamanahkan menjadi khalifah ini seharusnya dapat menjadi pemimpin manusia lain dalam merealisasikan ajaran Allah dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan mereka sendiri serta memandu manusia yang lain dalam mencipta kebaikan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Dalam konteks inilah juga penegasan Allah tentang kebangkitan umat sebagai umat terbaik untuk menyeru kepada makruf dan mencegah mungkar merupakan satu panduan yang perlu dimanifestasikan di dalam kehidupan mereka ketika menjalankan amanah yang dipertanggungjawabkan itu.

Memandangkan realiti umat Islam pada hari ini, nampaknya harapan agar umat Islam menjadi khalifah Allah bagi menjalankan peranannya sebagai pemegang amanah mentadbirkan alam ini menurut ajaran Islam tidak terlaksana, malahan agak jauh terlepas daripada tangan mereka. Umat Islam kini bukan menjadi pemimpin alam, tetapi menjadi umat yang dipimpin dan diheret ke sana ke mari mengikut kuasa pengembala alam yang terdiri daripada manusia dan umat lain yang selama ini telah memanfaatkan segala kejadian Allah dan memainkan peranan mereka untuk menguasai segala ilmu yang membawa kepada kuasa kepimpinannya.

Umat Islam dalam sejarahnya yang panjang hanya dapat mengecap tamadun dan ketinggian peradabannya dalam masa yang agak singkat, iaitu ketika tamadun dan ilmu pengetahuan Islam itu telah memartabatkan umat menjadi pemimpin dunia di Timur dan di Barat dengan tersebarnya tamadun Islam dan ilmu pengetahuannya yang tinggi, sehingga umat Islam pada ketika itu menjadi penyumbang yang besar terhadap tamadun alam ini.

Setelah itu umat Islam mundur ke belakang, dan menjadi umat yang dipimpin oleh penjajahan mental dan fizikal Barat, menjadi umat yang ditindas dan diperlakukan sebagai manusia serba lemah dan mundur.

Maka tidak hairanlah setelah sekian lama kita menerima Islam, termasuk di daerah kita dan alam nusantara ini, kita telah menjadi umat yang keliru dan sempit kefahamannya tentang Islam itu sendiri. Selama berabad-abad lamanya kita nampaknya menumpukan perhatian dan kerja kita memahami ritual dan ibadat dalam skopnya yang terbatas. Kita lebih banyak bertindak untuk memahami peranan kita sebagai hamba Allah dengan menumpukan kefahaman dan amalan kita dalam melakukan ibadat khusus bagi membina hubungan kita dengan Allah.

Pengisian

Sedangkan kita semua memahami tugas kita sebagai hamba dan khalifah Allah. Maka sebahagian besar tugas kita sebagai khalifah untuk mentadbir dan menguasai alam ini dalam aspek yang lebih luas dan bermakna tidak kita periksa dan laksanakan.

Segala saluran pendidikan, formal atau tidak formal nampaknya diisikan dengan ilmu pengetahuan yang amat sempit, dan terlalu lemah untuk mendidik manusia menjadi khalifah di alam ini. Selama berabad-abad penumpuan kita di dalam pendidikan yang dikatakan ``pendidikan Islam'' atau ``pendidikan agama'' itu hanya tertumpu kepada beberapa bidang pengisian yang terhad dan sempit. Yang lebih mendukacitakan pula ialah dalam masa yang sama segala pengisian ilmu pengetahuan ciptaan akal fikiran manusia yang merupakan ilmu peralatan untuk memakmurkan alam ini dikira sebagai ilmu dunia yang terkeluar daripada pembicaraan Islam.

Ketika Universiti Islam Antarabangsa Malaysia ditubuhkan dulu, banyak negara Islam yang menyatakan pandangannya bahawa UIAM bukanlah merupakan sebuah universiti Islam kerana universiti itu memperkenalkan kursus-kursus profesional seperti ekonomi, undang-undang, kemudiannya seni bina, kejuruteraan dan sebagainya. Kekeliruan ini berlaku kerana skop kefahaman umat Islam tentang universiti Islam ialah sebuah universiti yang menumpukan disiplin ilmunya kepada pengajaran syariah, usuluddin, bahasa Arab dan sebagainya dalam kefahaman tradisional yang menjadi anutan umat Islam selama ini. Maka mana-mana universiti yang menjurus kepada bidang ilmu akli dianggap bukanlah merupakan pusat pengajian yang berbentuk Islam, walaupun falsafah pengajiannya adalah menurut falsafah dan konsep ilmu seperti yang dikehendaki Islam itu sendiri misalnya seperti falsafah penubuhan UIAM.

Kita sepatutnya menyedari bahawa makhluk rohani tidak dapat menjadi khalifah Allah untuk mentadbirkan alam ini. Makhluk seperti manusia yang merangkumi peranan kerohanian, kebendaan, fizikal dan akal inilah yang seharusnya menjadi khalifah Allah. Kerana itulah, pada pandangan saya, ketika para malaikat membantah kehendak Allah agar dilantik manusia untuk menjadi khalifah di atas muka bumi ini atas alasan bahawa merekalah yang selayaknya menjadi khalifah, atas dasar bahawa merekalah yang sentiasa mensucikan Allah, maka Allah memberitahu mereka bahawa Allah lebih mengetahui tentang perkara ini lebih daripada apa yang mereka ketahui.

Hal ini mempunyai hubungan dengan kefahaman dan tanggapan umat Islam pada hari ini tentang skop pendidikan dan agenda mereka untuk menjadi pentadbir alam ini. Kefahaman ini amat mengongkong akal fikiran.

Hal yang sama sebenarnya dapat kita fahami pada masa ini ketika kefahaman kita tentang sekolah agama, pusat pengajian agama dan sebagainya telah disempitkan bidang pengajiannya. Ramai yang merasakan bahawa ``agama'' itu telah terkongkong dalam sempadan yang amat sempit.

Tetapi bila menyebut hal ini, saya tidaklah mempersoalkan tentang bidang pengajian agama yang menjadi asas setiap individu dalam urusan ibadat format dan fardu ain. Malah asas itu perlulah diperkasakan dan diperkuatkan dalam setiap individu Islam di semua peringkat dan institusi.

Yang menjadi persoalan sekarang ialah bagaimanakah perjalanan kita dalam jalan yang sempit dan terhad itu dapat kita panjangkan dan perluaskan lagi agar mencakupi matlamat yang lebih besar dalam kehidupan kita, iaitu kita di samping menjadi hamba Allah yang baik, taat dan patuh kepada Allah dalam amal ibadat, akan juga dapat menjalankan peranan kita sebagai khalifah-Nya yang dapat menguasai alam ini dalam semua ilmu, kecekapan dan kemampuan semasa.

Kalau matlamat ini dapat difahami dan akhirnya dicapai oleh umat Islam, pada masa itu barulah dapat kita laung-laungkan dengan sekeras-keras suara bahawa kita adalah umat yang berperanan sebagai hamba dan khalifah Allah di atas muka bumi ini.

Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.

Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia.
Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {“Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.”}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.”}(Q. S. Ibrahim: 33). {“Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya.”}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati.
Dengan demikian, manusia adalah makhluk hidup. Di dalam diri manusia terdapat apa-apa yang terdapat di dalam makhluk hidup lainnya yang bersifat khsusus. Dia berkembang, bertambah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan cinta,
rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan, rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Oleh karena itu manusia senantiasa berusaha mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya,hal ini juga dialami oleh para mahluk-mahluk hidup lainnya, hanya saja, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya dalam hal kesempurnaan tata cara untuk memperoleh benda-benda pemuas kebutuhannya dan juga tata cara untuk memuaskan kebutuhannya tersebut. Makhluk hidup lain melakukannya hanya berdasarkan naluri yang telah Allah ciptakan untuknya sementara manusia melakukannya berdasarkan akal dan pikiran yang telah Allah karuniakan kepadanya.
Dewasa ini manusia, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara spermatozoa dengan ovum.
Didalam Al-Qur`an proses penciptaan manusia memang tidak dijelaskan secara rinci, akan tetapi hakikat diciptakannya manusia menurut islam yakni sebagai mahluk yang diperintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi. Hal ini tentu harus kita kaitkan dengan konsekuensi terhadap manusia yang diberikan suatu kesempurnaan berupa akal dan pikiran yang tidak pernah di miliki oleh mahluk-mahluk hidup yang lainnya. Manusia sebagai mahluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah mampu menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga atau pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah. Status manusia sebagai khalifah , dinyatakan dalam Surat All-Baqarah ayat 30. Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.
Namun kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubungkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat , baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah. Akan tetapi fungsi dari khalifah itu sendiri sesuai dengan yang telah diuraikan diatas sangatlah luas, yakni selain sebagai pemimpin manusia juga berfungsi sebagai penerus ajaran agama yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,selain itu khalifah juga merupakan pemelihara ataupun penjaga bumi ini dari kerusakan.
SIAPAKAH MANUSIA
Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi.
Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :
Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.
Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.
Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).
Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.
Beberapa Definisi Manusia :
1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yg mulia.
2. Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas seperti Tuhan
3. Manusia adalah makhluk yg sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada permukaan serba-indera dan akibat saja, tetapi mengamati apa yg ada di luar penginderaan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yg benar, luas dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi.
4. Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
5. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu –quasi-miracolous– yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
6. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
7. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.
8. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.
Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah.
Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi ruhaniah.
Potensi fisik manisia adalah sifat psikologis spiritual manusia sebagai makhluk yang berfikir diberi ilmu dan memikul amanah.sedangkan potensi ruhaniah adalah akal, gaib, dan nafsu. Akal dalam penertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Qur’an akal diartikan dengan kebijaksanaan, intelegensia, dan pengertian. Dengan demikian di dalam Al Qur’an akal bukan hanya pada ranah rasio, tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan dengan hikmah atau bijaksana.
Musa Asyari (1992) menyebutkan arti alqaib dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulatpanjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah, yaitu hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan, dan arif.
Akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam, sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu.
Adapun nafsu adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas.
PERSAMAAN dan PERBEDAAN MANUSIA DENGAN MAHLUK LAIN.
Manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.
Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.
Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan.kelebihan itu membedakan manusiadengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa meampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atau makhluk lain dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 70.
Diantara karakteristik manusia adalah :
1. Aspek Kreasi
2. Aspek Ilmu
3. Aspek Kehendak
4. Pengarahan Akhlak
Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membeda manusia dari segala makhluk lainnya.
TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat:56 bahwasannya:”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya”mengabdi dalam bentuk apa?ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an Adzariat : 51
“Sesungguhnya telah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.”
Perintah ataupun tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia dalam beribu-ribu macam bentuk dimulai dari hal yang paling kecil menuju kepada hal yang paling besar dengan berdasarkan dan berpegang kepada Al-qur’an dan hadist didalam menjalankannya.Begitupun sebaliknya dengan larangan-larangannya yang seakan terimajinasi sangat indah dalam pikiran manusia namun sebenarnya balasan dari itu adalah neraka yang sangat menyeramkan,sangat disayangkan bagi mereka yang terjerumus kedalamnya.Na’uudzubillaahi min dzalik
Dalam hadist shohih diungkapkan bahwa jalan menuju surga itu sangatlah susah sedangkan menuju neraka itu sangatlah mudah.Dua itu adalah pilihan bagi setiap manusia dari zaman dahulu hingga sekarang,semua memilih dan berharap akan mendapatkan surga,namun masih banyak sekali orang-orang yang mengingkari dengan perintah Allah bahkan mereka lebih tertarik dan terbuai untuk mendekati,menjalankan larangan-larangannya.Sehingga mereka bertolak belakang dari fitrahnya sebagai manusia hamba Allah yang ditugasi untuk beribadah.Oleh karenanya,mereka tidak akan merasakan hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
FUNGSI DAN PERANAN MANUSIA
Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah.
Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diridan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, diantaranya adalah :
1.Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54)
belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
2.Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39)
ilmu yang diajarkan oleh khalifatullah bukan hanya ilmu yang dikarang manusia saja, tetapi juga ilmu Allah.
3.Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 )
Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Manusia terlahir bukan atas kehendak diri sendiri melainkan atas kehendak Tuhan. Manusia mati bukan atas kehendak dirinya sendiri Tuhan yang menentukan saatnya dan caranya. Seluruhnya berada ditangan Tuhan Hukum Tuhan adalah hukum mutlak yang tak dapat dirubah oleh siapapun hukum yang penuh dengan rahasia bagi manusia yang amat terbatas pikirannya.
Kuasa memberi juga kuasa mengambil Betapa piciknya kalau kita hanya tertawa senang sewaktu diberi. Sebaliknya menangis duka dan penasaran Sewaktu Tuhan mengambil sesuatu dari kita. Yang terpenting adalah menjaga sepak terjang kita Melandasi sepak terjang hidup kita dengan kebenaran Kejujuran dan keadilan?Cukuplah Yang lain tidak penting lagi.
Suka duka adalah permainan perasaan. Yang digerakan oleh nafsu iba diri Dan mementingkan diri sendiri. Tuhanlah sutradaranya, Maka manusia manusia adalah pemain sandiwaranya Yang berperan diatas panggung kehidupan Sutradara yang menentukan permainannya Dan ingatlah bukan perannya yang penting Melainkan cara manusia yang memainkan perannya itu.
Walaupun seseorang diberi peran sebagai seorang raja besar, Kalau tidak pandai dan baik permainannya ia akan tercela. Sebaliknya biarpun sang sutradara memberi peran kecil tak berarti Peran sebagai seorang pelayan atau rakyat jelata Kalau pemegang peran itu memainkannya dengan sangat baik Tentu ia akan sangat terpuji dimata Tuhan juga dimata manusia.
Apalah artinya seorang pembesar Yang dimuliakan rakyat Bila ia lalim rakus dan melakukan hal hal yang hina. Maka ia akan hanya direndahkan dimata manusia Dan juga dimata Tuhan. Sebaliknya betapa mengagumkan hati manusia Yang menyenangkan Tuhan Bila seorang biasa yang bodoh miskin Dan dianggap rendah namun mempunyai sepak terjang Dalam hidup ini penuh dengan kebajikan Yang melandaskan kelakuannya pada jalan kebenaran. Maka mereka itulah yang paling mulia dimata Tuhan.
“Wahai orang orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan, diatasnya terdapat malaikat malaikat yang bengis dan sadis yang tidak mengabaikan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan”
Itulah firman Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalankan peranannya selama hidup di muka bumi.Peran terhadap diri sendiri dan keluarga.Bukan diawali dari peran untuk keluarga atau pun negara tapi justru peran itu ditujukan untuk diri sendiri sebelum berperan untuk orang lain.Peranan seseorang harus dibangun dari dalam diri sendiri secara terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal,ketika sebuah pribadi telah menguasai peranannya untuk diri sendiri, barulah bisa berperan untuk orang lain,terutama keluarga.Ada sebuah kata kata dari seorang teman yang pernah berbagi dengan saya tentang masalah berderma. Dia berkata pada saya”kawan untuk kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain tentunya kita harus dalam kondisi lebih terlebih dahulu, tidak mungkin kita dalam kondisi kekurangan terus kita meberi untuk orng lain”.Jadi untuk bisa membangun sebuah keluarga, kelompok, negara dan mungkin yang lebih besar lagi maka haruslah menjadi kewajiban kita untuk bisa terlebih dahulu membangun diri kita.
TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH
Tanggungjawab Abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki dan bersifat fluktuatif ( naik-turun ), yang dalam istilah hadist Nabi SAW dikatakan yazidu wayanqusu (terkadang bertambah atau menguat dan terkadang berkurang atau melemah).
Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggungjawab terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an dinyatakan dengan quu anfusakum waahliikum naaran (jagalah dirimu dan keluargamu, dengan iman dari neraka).
Allah dengan ajaranNya Al-Qur’an menurut sunah rosul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah untuk berlaku adil dan ikhsan. Oleh karena itu, tanggung jawab hamba Allah adlah menegakkan keadilanl, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kenungkaran yang mengancam diri dan keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan solat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran (Fakhsyaa’iwalmunkar). Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari ummah yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.
TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimilikitidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hokum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah :
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiranorang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajad manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya
“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
KESIMPULAN
Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memulyakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT,menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.Perlu usaha yang keras,dan semangat yang kuat ketika keimanan dalam hati melemah,dan pertanggungjawaban yang besar dari diri kita kelak di hari Pembalasan nanti atas segala apa yang telah kita lakukan di dunia