MUHASABAH
Kalau bukan karena kuasa Alloh
Biji-biji kurma tak lagi akan tumbuh
Daun-daunnya tak akan lagi kurasakan keteduhannya
Ketika sorot matamu mengunyah keteguhan imanku
Danau semakin tawar
Menyimpan kemarau teramat panjang
Saat ikan-ikan menggelepar menunaikan kematiannya di ujung ketidakberdayaan
Kau telan jiwaku dengan keteduhan pandangmu
Akupun bagai anak kecil mainkan perahu kertas
Bergelora saat terbuai reriak aliran sungai
Berkelok di ujung senyummu yang tak pernah kumengerti kesudahannya
Lumat pada akhirnya terseret arus kebimbangan
Hujan tak lagi kurasakan sebagai anugerah yang menyusahkan
Rintikrintiknya menggelitik kemarau dalam dada
Menelusuri labirin waktu
Begitu panjang dalam guratan kemahasempurnaan duka
Tak pernah kurasakan begitu getar
Sebelum kutemui keteduhan sikap dibalik penutup aurat
Aku tidak bisa lagi mengeja kenyataan
Suarasuara nurani terasa begitu pasrah
Menjanjikan kenikmatan seperti kitabkitab suci menjanjikan surga pada pemeluknya
Sementara bumi berpesta dengan kemaksiatan
Dan nyawa tidak lagi dapat menemui jasad tempat damai bernaung
Aku ingin seperti burung dengan sayap lemah berhasrat meniti luas samudera
Bersarang pada batas keraguan
Di atas gununggunung penahan gelora ombakmu
Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)". ( Al A’Rof : 29 )
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Juni 2011
Kamis, 24 Maret 2011
BERITA KEPADA BAPAK
Bapa,
Jagung di ladang dan huma telah berbunga
Wanginya mengembara ke kampung tetangga
Tengoklah segera
Bapa
Angin meniup dan membelai
Menyusuri lenggok pucuk daunnya
Berjurai tarian menggoda
Tengoklah ke sana
Bapa
Hijau daun dan wewangi bunga
Mengundang selera para gembala
Datang berduyun untuk berpesta
Sambil bernyanyi lagu tra la la
Bapa
tengoklah segera !
sebelum hari tergelincir senja
DOA DALAM SAJAK
Abdul Hadi W.M
Tuhan
Ini layaknya musim laut diamkan kapal-kapal berhenti
Senja dan teluk melagukan bulan putih tenang dan bulat sempurna
Di atas pasir gelombang
Angin tak mencari tujuan lagi
Aku
Senandungkan Firdausi dengan Seribu Satu Malam
Diatas perahu dari seorang darwis
Yang bercerita tentang Sinai yang permai
Tapi sekarang hari melambung
Dan anak-anak pantai akan kembali, gadis-gadis mainkan gambus buat Muharam
Perahu tak luncur, bulan perak yang hanyut
Seperti tawa kami yang bercakap-cakap tentang malam itu
Dan apabila ada tanda pelabuhan dibuka dari musim berlayar
Aku tinggalkan mereka kembali dan bulan pun tetap putih
Tapi tersapu buih
Kemana mereka pergi?
Sungai tenang, anak-anak pantai senang dan angin
Mencari tujuan baru,Di pantai lain dibuatnya lagu
Tuhan
Ini layaknya musim laut biarkan kapal-kapal berlayar lagi
Ke mana-mana dank e mana-mana
Dan jika saat badai ajaib datang menghiba padanya:
Sampaikan pada yang berikutya
Senja dan bulan selalu bersama mereka
Yang menyapu laut memainkan tangannya gembira
Tapi pisahnya di mana aku tak tahu
Menghembus senja dan pulang ke rumahnya!
Tuhan
Ini layaknya musim laut diamkan kapal-kapal berhenti
Senja dan teluk melagukan bulan putih tenang dan bulat sempurna
Di atas pasir gelombang
Angin tak mencari tujuan lagi
Aku
Senandungkan Firdausi dengan Seribu Satu Malam
Diatas perahu dari seorang darwis
Yang bercerita tentang Sinai yang permai
Tapi sekarang hari melambung
Dan anak-anak pantai akan kembali, gadis-gadis mainkan gambus buat Muharam
Perahu tak luncur, bulan perak yang hanyut
Seperti tawa kami yang bercakap-cakap tentang malam itu
Dan apabila ada tanda pelabuhan dibuka dari musim berlayar
Aku tinggalkan mereka kembali dan bulan pun tetap putih
Tapi tersapu buih
Kemana mereka pergi?
Sungai tenang, anak-anak pantai senang dan angin
Mencari tujuan baru,Di pantai lain dibuatnya lagu
Tuhan
Ini layaknya musim laut biarkan kapal-kapal berlayar lagi
Ke mana-mana dank e mana-mana
Dan jika saat badai ajaib datang menghiba padanya:
Sampaikan pada yang berikutya
Senja dan bulan selalu bersama mereka
Yang menyapu laut memainkan tangannya gembira
Tapi pisahnya di mana aku tak tahu
Menghembus senja dan pulang ke rumahnya!
MUHASABAH
Kalau bukan karena kuasa Alloh
Biji-biji kurma tak lagi akan tumbuh
Daun-daunnya tak akan lagi kurasakan keteduhannya
Ketika sorot matamu mengunyah keteguhan imanku
Danau semakin tawar
Menyimpan kemarau teramat panjang
Saat ikan-ikan menggelepar menunaikan kematiannya di ujung ketidakberdayaan
Kau telan jiwaku dengan keteduhan pandangmu
Akupun bagai anak kecil mainkan perahu kertas
Bergelora saat terbuai reriak aliran sungai
Berkelok di ujung senyummu yang tak pernah kumengerti kesudahannya
Lumat pada akhirnya terseret arus kebimbangan
Hujan tak lagi kurasakan sebagai anugerah yang menyusahkan
Rintikrintiknya menggelitik kemarau dalam dada
Menelusuri labirin waktu
Begitu panjang dalam guratan kemahasempurnaan duka
Tak pernah kurasakan begitu getar
Sebelum kutemui keteduhan sikap dibalik penutup aurat
Aku tidak bisa lagi mengeja kenyataan
Suarasuara nurani terasa begitu pasrah
Menjanjikan kenikmatan seperti kitabkitab suci menjanjikan surga pada pemeluknya
Sementara bumi berpesta dengan kemaksiatan
Dan nyawa tidak lagi dapat menemui jasad tempat damai bernaung
Aku ingin seperti burung dengan sayap lemah berhasrat meniti luas samudera
Bersarang pada batas keraguan
Di atas gununggunung penahan gelora ombakmu
Biji-biji kurma tak lagi akan tumbuh
Daun-daunnya tak akan lagi kurasakan keteduhannya
Ketika sorot matamu mengunyah keteguhan imanku
Danau semakin tawar
Menyimpan kemarau teramat panjang
Saat ikan-ikan menggelepar menunaikan kematiannya di ujung ketidakberdayaan
Kau telan jiwaku dengan keteduhan pandangmu
Akupun bagai anak kecil mainkan perahu kertas
Bergelora saat terbuai reriak aliran sungai
Berkelok di ujung senyummu yang tak pernah kumengerti kesudahannya
Lumat pada akhirnya terseret arus kebimbangan
Hujan tak lagi kurasakan sebagai anugerah yang menyusahkan
Rintikrintiknya menggelitik kemarau dalam dada
Menelusuri labirin waktu
Begitu panjang dalam guratan kemahasempurnaan duka
Tak pernah kurasakan begitu getar
Sebelum kutemui keteduhan sikap dibalik penutup aurat
Aku tidak bisa lagi mengeja kenyataan
Suarasuara nurani terasa begitu pasrah
Menjanjikan kenikmatan seperti kitabkitab suci menjanjikan surga pada pemeluknya
Sementara bumi berpesta dengan kemaksiatan
Dan nyawa tidak lagi dapat menemui jasad tempat damai bernaung
Aku ingin seperti burung dengan sayap lemah berhasrat meniti luas samudera
Bersarang pada batas keraguan
Di atas gununggunung penahan gelora ombakmu
Langganan:
Komentar (Atom)